Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Advertisement

Benarkah Media Sosial Dapat Menyebabkan Gangguan Jiwa?

Oleh: Sarentya Fathadhika[note]Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala[/note]

MEMASUKI era digital, media komunikasi beralih kepada internet. Internet memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan menemukan informasi secara cepat dan luas (Severin & Tankard, 2011). Salah satu fitur internet yang paling banyak digunakan saat ini yaitu media sosial.

Advertisement

Advertisement

Hal ini dibuktikan dari data pada bulan Desember 2017 lalu yang diterbitkan oleh Internet World Stats sebagai lembaga yang memberikan informasi terbaru tentang penggunaan internet menunjukkan bahwa 53,7% dari populasi masyarakat Indonesia merupakan pengguna internet, 90,7% dari pengguna internet merupakan pengguna Facebook. Facebook merupakan salah satu aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan saat ini (Wegmann, Oberst, Stodt, & Brand, 2017).

Jumlah pengguna media sosial di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil survei yang dilakukan selama 4 tahun terakhir. Pada tahun 2014, jumlah pengguna media sosial sebanyak 76 juta pengguna (APJII, 2014), selanjutnya pada tahun 2015 berjumlah 79 juta pengguna (We are Social, 2015), dan tahun 2016 berjumlah 129,2 juta pengguna (APJII, 2016).

Ditinjau dari usia pengguna, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa media sosial digunakan pada semua kalangan usia dengan porsi tertentu. Jika ditinjau lebih lanjut, data pada tahun 2016 menunjukkan bahwa seluruh remaja Indonesia, usia 10-14 tahun, yang terpilih menjadi responden merupakan pengguna media sosial aktif dengan jumlah 768 ribu jiwa (APJII, 2016).

Menurut Sarwono (2012), usia remaja dimulai dari 11 hingga 24 tahun dan belum menikah. Berdasarkan data tersebut dapat dipahami bahwa sebagian besar remaja Indonesia merupakan pengguna media sosial.

Adanya peningkatan jumlah pengguna media sosial setiap tahunnya harus diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran akan dampak yang dapat ditimbulkan dari penggunaan media sosial, khususnya pada remaja. Sebagian besar pengguna merasa bahwa media sosial memberikan banyak kemudahan dalam menghubungkan antar individu dan memudahkan aktivitas sehari-hari (Przybylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell, 2013).

Di balik manfaat dari media sosial, bukan tidak mungkin para pengguna menjadi lalai akan dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari penggunaan media sosial. Hal ini bisa saja terabaikan karena hampir seluruh masyarakat dunia menggunakan media sosial. Sudut pandang masyarakat umum dalam melihat hal yang dilakukan oleh kebanyakan orang sebagai hal yang normal atau tidak bermasalah sehingga tidak terlalu memerhatikan sisi negatifnya.

Fenomena ini kemudian menarik perhatian 5 mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga untuk melakukan penelitian terkait penggunaan media sosial pada remaja. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 83% remaja tidak dapat melepaskan diri dari media sosial meskipun dalam sehari (Tim PKM Sosial Humaniora, 2016). Bagi beberapa masyarakat yang membaca hasil penelitian ini akan menganggap bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang bermasalah karena pada kenyataannya, media sosial memang digunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Jika dipahami lebih lanjut, tidak dapat melepaskan diri dari penggunaan media sosial sudah mengarah kepada salah satu simtom kecanduan media sosial yaitu persistence.

Persistence ditandai dengan adanya keinginan untuk terus menerus menggunakan media sosial sehingga tidak dapat menghentikan, mengendalikan, atau mengurangi penggunaan media sosial (Eijnden, Lemmens, & Valkenburg, 2016). Jika hal tersebut tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin simtom yang dialami remaja semakin bertambah dan berisiko mengalami kecanduan media sosial.

Informasi yang dilansir dari Liputan6.com (Sihombing, 2018) menyebutkan bahwa dua remaja berusia 17 dan 15 tahun mengalami gangguan jiwa yang disebabkan oleh penggunaan gadget. Kedua remaja tersebut didiagnosa mengalami kecanduan tingkat akut. Perilaku yang ditimbulkan pada kedua remaja yaitu marah dan menyakiti diri seperti membenturkan kepala ke dinding saat dilepaskan dari gadget. Orangtua dari kedua remaja mengakui adanya perubahan kepribadian secara drastis seperti tidak mau sekolah, menjadi pemurung, mengurung diri di dalam kamar, dan menghabiskan hampir seluruh waktu untuk memegang gadget.

Kedua kasus di atas hanya salah satu di antara kasus lainnya yang tidak terungkap ke media publik. Ternyata, selain dua remaja tersebut, data yang ditampilkan pada sebuah acara Primetime News, Metro TV, pada bulan Februari menunjukkan bahwa terdapat 18 anak dan remaja yang menderita perilaku adiksi terhadap gadget.

Selanjutnya, di RSJ DR. Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat, jumlah permasalahan perilaku adiksi terhadap gadget pada anak dan remaja berada pada urutan ketiga setelah autisme dan ADHD. Pada tayangan tersebut, seorang dokter yang bekerja di RSJ tersebut, Isa Multazam Noor, menyebutkan bahwa gadget hanyalah sebuah jembatan bagi remaja untuk mengakses aplikasi yang ada di dalamnya dan media sosial adalah aplikasi yang paling sering digunakan oleh remaja. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar remaja tersebut mengalami kecanduan media sosial karena yang dilakukan remaja adalah mengakses media sosial melalui gadget. Hal ini menunjukkan perlu adanya perhatian lebih lanjut akan kecanduan yang dialami remaja secara spesifik agar mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Hadirnya beberapa kasus kecanduan terhadap media sosial harusnya menambah kesadaraan masyarakat akan bahaya dari penggunaan media sosial, khususnya bagi pengguna media sosial. Seorang dokter yang menangani pasien dengan masalah kecanduan media sosial meyakini bahwa masih banyak pecandu media sosial lainnya yang mungkin tidak menyadari perubahan yang ditimbulkan dan tidak menyadari bahwa ini merupakan gangguan jiwa (Sihombing, 2018).

Selain kecanduan media sosial, penggunaan media sosial secara berlebihan juga dapat menyebabkan depresi (Kircaburun, 2016). Pantic (2014) menyatakan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengurangi kualitas hubungan individu dengan keluarga, teman, dan orang yang dicintai sehingga menimbulkan perasaan kesepian dan depresi. Meskipun media sosial memungkinkan individu untuk terhubung dengan individu lain, akan tetapi, media sosial tidak dapat menggantikan kualitas dari komunikasi secara langsung (Kircaburun, 2016). Interaksi secara fisik dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis individu (Kircaburun, 2016).

Menurut Kircaburun (2016), depresi merupakan masalah kesehatan yang sangat berbahaya dan serius, terutama ketika perasaan dan gejala depresi muncul dalam waktu yang lama. Remaja yang mengalami depresi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi di masa yang akan datang. Hasil penelitian Kim-Cohen, Caspi, Moffitt, Harrington, Milne, dan Poulton (2003) menemukan bahwa 75% orang dewasa yang mengalami depresi mayor sebelumnya telah mengalami depresi pada saat remaja.

Menyadari adanya dampak negatif dari penggunaan media sosial, adanya peran orangtua sangat diperlukan untuk membantu mencegah terjadinya gangguan jiwa pada remaja.

Masa remaja merupakan periode yang rentan terhadap faktor-faktor berbahaya, misalnya depresi, sehingga harus dilakukan pencegahan sebaik mungkin (Kircaburun, 2016). Pada tahap remaja ini remaja mulai mencari tahu dan melakukan eksplorasi dunia (Hall, Lindzey, & Campbell, 1998).

Hal tersebut yang mendorong remaja untuk mengakses media sosial karena melalui media sosial remaja dapat mengeksplorasi dunia secara luas.

Oleh karena itu, kesadaran orangtua akan bahaya yang mungkin terjadi adalah salah satu cara untuk mencegah gangguan jiwa pada remaja.
Hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah gangguan jiwa pada remaja yang disebabkan oleh penggunaan media sosial yaitu membuat peraturan batasan durasi dalam menggunakan media sosial sesuai kesepakatan bersama. Adanya peraturan ini harus disertai dengan penjelasan agar remaja memahami mengapa dirinya harus melakukan itu. Selanjutnya, luangkan lebih banyak waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan remaja agar dirinya merasa bahwa komunikasi secara langsung lebih menyenangkan dari pada menyibukkan diri di media sosial.

Pada waktu tertentu, saat remaja terlihat mulai terlalu sibuk dengan media sosial, ajak seluruh anggota keluarga untuk menghapus beberapa aplikasi media sosial dalam durasi yang disepakati.

Seorang psikolog anak, Elizabeth T. Santosa, menyebutnya sebagai detoks saat diwawancarai di salah satu stasiun tv swasta, Metro TV. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan perhatian remaja kepada lingkungannya secara nyata yang mulai terabaikan karena terlalu sibuk dengan dunia maya. Selain itu, ikut sertakan remaja dalam berbagai aktivitas yang melibatkan fisik seperti olahraga, kegiatan kesenian, kegiatan sosial, dan aktivitas lainnya yang dapat mengalihkan remaja dari penggunaan media sosial secara berlebihan.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beri Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya