.

Puasa Lapar vs Puasa Yang Benar

3 min


38
31 shares, 38 poin

Oleh: Rudy Gani[note]Aktivis Sosial Kemasyarakatan[/note]

Dalam konsep Islam yang murni, ibadah puasa hakikatnya tidak hanya menahan lapar dan dahaga semata. Hakikat puasa yang sesungguhnya ialah bagaimana orang yang berpuasa dapat meningkatkan kualitas iman dan kejiwaanya. Sebab, puasa merupakan instrumen umat muslim untuk mencapai hakikat pembebasan setelah 11 bulan hidup dalam penjara hawa nafsu.

Hawa nafsu sendiri ialah musuh manusia yang paling berbahaya. Tengoklah bagaimana cerita Adam dan Hawa yang diturunkan Tuhan dari surga ke bumi karena memakan buah larangan. Lalu kisah Firaun yang menganggap dirinya sebagai Tuhan dan juga milyaran kisah yang lahir karena manusia menurutkan hawa nafsunya. Semua kisah itu bersumber pada masalah yang sama yaitu hawa nafsu.

Sejarah menjadi pengingat bagi umat manusia di masa kini bahwa ketika manusia menurutkan hawa nafsunya, maka yang ada adalah kehancuran. Bukan saja bagi pribadi, tetapi bagi kelompok, komunitas atau masyarakat secara keseluruhan.

Karenanya, melawan hawa nafsu adalah keutamaan mahluk yang beriman. Terutama saat bulan Ramadhan karena salah satu hikmah berpuasa ialah manusia dilatih untuk melawan hawa nafsu. Pertanyaannya, bagaimana melawan hawa nafsu tersebut?

Dalam Islam dikenal konsep jihad. Salah satu jihad yang terberat menurut konsep Islam ialah jihad melawan diri sendiri. Mengapa hal itu dikatakan berat? Karena perang itu dilakukan antara diri individu dengan pribadinya, atau dengan kata lain menurut istilah Ali Shariati, ialah “Sang Pembisik”.

Sang pembisik ini bersemayam di dalam hati manusia. Apabila iman dan kalbu manusia itu baik, dekat dengan ajaran Allah SWT, maka “sang pembisik” inipun akan baik. Begitupun sebaliknya. Apabila hati itu jauh dari ajaran Islam dan nilai ketuhanan, maka “sang pembisik” itu akan membawa kesesatan semata. Sudah dipastikan manusia yang seperti ini akan menurutkan hawa nafsunya saja.

Ketika hawa nafsunya lebih diutamakan, maka Setan menjadi temannya sebagaimana firman Allah SWT, “ Barangsiapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (Az-Zukhruf; 43:36)

Setan tidak hanya bersemayam dalam jiwa manusia biasa. Nabi Muhammad SAW sendiri mengatakan, “Tak seorang pun diantara kita yang tidak disertai setan, aku sendiri pun demikian tetapi sesungguhnya Allah telah menolongku menghadapi setanku itu sehingga dia aku kalahkan” (HR Ibnu Jauzy & Ibnu Abdurahhman Salmi).

Setan tidak akan membiarkan manusia hidup sesuai ajaran dan perintah Allah SWT. Maka, selama ruh manusia masih bernafas di bumi Allah, maka setan pun akan terus mengganggu manusia melalui bisikan di dalam hati kecil. Makin jauh iman manusia, maka makin dekat setan mendominasi prilaku manusia. Begitulah mekanisme setan bekerja.

Maka tidak heran jika saat ini kita melihat banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa. Banyak yang menjalankan berbagai ibadah wajib lainnya, tetapi tidak mewujudkannya dalam prilaku Islami sehari-sehari. Sebabnya karena hawa nafsu itu masih menguasai hati dari orang-orang tersebut atau dengan kata lain jiwanya didominasi oleh setan.

Contoh prilaku ini misalnya,  pertama, saat membagikan sedekah kepada kaum fakir, pemberi sedekah itu ingin dilihat oleh orang banyak. Bahkan mengumbarnya secara terang-terangan melalui media sosial. Memang tidak dilarang, namun dalam ajaran Islam, prilaku ini dianggap kategori sombong. Islam sendiri mengajarkan apabila kamu memberikan sesuatu pada orang lain lewat tangan kananmu, usahakan tangan kirimu tidak mengetahui. Begitulah kebijaksanaan Islam dalam memberi bantuan.

Kedua, saat Lebaran tiba khususnya bagi Ibu rumah tangga. Fenomena yang umumnya terjadi ialah di setiap penghujung Ramadhan maka bukannya masjid yang ramai oleh tadarus dan jamaah sholat tarawih, justru sebaliknya. Masjid akan semakin sepi karena terjadinya perpindahan jamaah dari masjid ke Mall atau pusat perbelanjaan.

Mereka ramai-ramai memaksakan diri agar tampil serba baru mulai dari baju, mobil, tas, jam, celana dan perlengkapan lainnya yang sejatinya berbalik seribu derajat dengan prinsip melawan hawa nafsu yaitu bersikap irit dan sederhana.

Dalam konteks inilah ibadah puasa mengingatkan umat Islam Indonesia bahwa puasa bukanlah sekedar menahan lapar dan dahaga. Diatas itu semua, ibadah puasa mempunyai hakikat yang membebaskan umat dari kunkungan nafsu dan formalitas beragama sebagaimana yang dipraktikkan saat ini.

Puasa berarti mengistirahakan prilaku banal dan dangkal menjadi bijak dan mendalam. Puasa berarti mengalahkan nafsu kebinatangan menjadi nafsu yang bernafaskan nilai-nilai ketuhanan. Tidak terjebak pada hal-hal yang sifatnya materi dan duniawi.

Karena jangan sampai kita termasuk orang yang berpuasa hanya sekedar menggugurkan kewajibannya sebagai umat muslim. Maka, setelah bulan puasa berakhir, ibadah yang sebulan lamanya dijalankan tidak memiliki hakikat ilahi bagi dirinya. Inilah implikasi yang sangat nyata yang kini dihadapi oleh umat Islam Indonesia.

Ketika sebagian umat Islam lebih memilih berhala berupa uang, rumah, jabatan, status sosial dan nilai keduniawiaan lainnya sebagai agama, maka tunggulah kehancuran suatu kaum. Karena setan memang suka menyesatkan manusia melalui perbuatan syirik. Dan sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam firmannya, bahwa perbuatan syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.[]

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Marah
2
Marah
Suka Suka
5
Suka
Takjub Takjub
4
Takjub
Kaget Kaget
2
Kaget
Takut Takut
1
Takut
Lucu Lucu
13
Lucu
Sedih Sedih
10
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format