Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Pemuda Jompo Masa Kini

Oleh: Kessa Ikhwanda[note]Ketua Umum BEM IM FKM UI 2017, Penerima Beasiswa Kader Surau UI, Mahasiswa Program Sarjana (S1) Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia[/note]

SEKUP pemuda, jikalau konteksnya mengacu pada pengertian yang dijabarkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, maka definisi pemuda diartikan sebagai warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun (Pasal 1). Pada pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemuda adalah orang yang masih muda maupun orang muda. Mengelaborasikan keduanya maka mengartikan pemuda dalam lingkup batasan umur di mana pada kondisi tersebut pemuda memerlukan input-input terbaiknya sebagai upaya pertumbuhan dan perkembangan.

Jika menilik pada realita yang terjadi sekarang, tampaknya pemuda masa kini terjebak dalam wacana batasan pengertian yang tidak menyeluruh. Pada pengertian sempit, mengatakan bahwa selama fisiknya muda, dan umurnya sesuai dengan kriteria pemuda, maka bisa diartikan pemuda, namun pemahamannya terputus pada itu saja. Sejatinya konteks pemuda bukan hanya sekedar mencakup batasan umur, namun juga tindakan apa yang dia lakukan sehingga mencerminkan bahwa dia adalah pemuda sebagai mana yang diharapkan bangsa.

Pada refleksi pra kemerdekaan misalnya, pemuda menggunakan fisik dan taktik untuk akhirnya angkat senjata membela tanah air dari penjajah. Menggagaskan berbagai ide perjuangan sehingga lahirlah salah satunya Sumpah Pemuda sebagai komitmen bertanah air, berbahasa, dan berbangsa satu yaitu Indonesia. Beda halnya dengan realita sekarang, di mana pemuda memang tidak lagi dituntut untuk angkat senjata melawan penjajah, namun kondisi sekarang pemuda dituntut untuk seharusnya mampu berpikiran kritis dan menghasilkan solusi.

Pemuda jompo masa kini, fisiknya jelas muda, namun pemikirannya terbatas alias jompo. Terkekang pada wacana yang digembor-gemborkan tanpa mencari validitas maupun mengawal dengan benar terkait dinamika yang ada. Berselimut dengan dinginnya malam, tanpa sekalipun merasa peduli dengan keadaan yang terjadi disekitar, kondisi yang akhirnya menggambarkan bahwa pemuda jompo masa kini jelas adanya.

Teori Sistem menurut Robbins dan Coulter (2013) menggambarkan bahwa sistem merupakan sekumpulan bagian yang saling terkait dan saling bergantung antara satu dengan lainnya, yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah kesatuan yang utuh. Pada kondisi pemuda sekarang, jika digambarkan sebagai sebuah sistem yang akhirnya membentuk pemuda masa kini (output), maka jelaslah bahwa baik komponen input (masukan) dan juga komponen proses turut andil besar dalam pembentukan pemuda sekarang.

Berita Terkait

Komponen input yang berupa wawasan dan pengetahuan, didapatkan dari kemampuan baca serta memahami, termasuk salah satu komponen yang akhirnya pula membentuk seorang pemuda. Pemikiran kritis adalah hasil belajar dan juga sikap yang terus menerus menggali dan juga mencari informasi, hal tersebut bukan serta merta didapat begitu saja tanpa adanya usaha. Padahal sudah sangat jelas, jika mengkaitkan dengan agama dan melihat sejarah dahulu, pada wahyu pertama diturunkan serta tuntutan utamanya adalah IQRA, bacalah, makna mendalam sebagai arti bahwa ilmu digali dari membaca untuk kemudian memahami apa yang dibaca.

Jika input ini diabaikan, maka hal tersebut akan terus senada dengan apa yang menimpa Indonesia saat ini. Pada tingkat buta aksara di Indonesia masih tergolong di angka 3,4 juta orang pada tahun 2017. Sejalan juga dengan tingkat minat baca Indonesia yang masih di peringkat 60 dari 61 negara menurut World’s Most Literate Nations Ranked di mana hanya lebih baik dari negara bostwana. Ini menunjukkan bahwa pola yang terbentuk dari kondisi Pemuda Jompo Masa Kini sangat dipengaruhi dari input wawasan dan pengetahuan yang dimiliki, yang nantinya dapat berpengaruh terhadap skala nasional maupun internasional untuk pembanding dengan negara lainnya.

Namun tidak semata-mata hal tersebut hanya dilimpahkan kepada pemuda saja sebagai pelaku utama. Nyatanya pada sebuah sistem, komponen input pendukung berupa sarana dan hal penunjang lainnya untuk menghasilkan pemuda ideal juga haruslah disediakan dan dilakukan sebaik mungkin. Keterkaitan pada keseluruhan input tersebut akan pula membentuk sebuah proses yang berjalan dengan baik, untuk kemudian menghasilkan output (keluaran) yang diharapkan nantinya.

UU RI No 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan sebenarnya telah menjelaskan tentang pelayanan kepemudaan. Pelayanan kepemudaan adalah penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan, serta kepeloporan pemuda (Pasal 1). Lantas siapakah yang bertanggungjawab akan hal tersebut? Jawabannya adalah pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat berkewajiban untuk bersinergi dalam melaksanakan pelayanan kepemudaan sebagaimana pada pasal 9. Tindakan yang dilakukan salah satunya mengenai peningkatan kapasitas dan kompetensi pemuda.

Lebih lanjut jika menilik UU tersebut, pemuda dituntut untuk mampu berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional (Pasal 16). Hal tersebut mengartikan pula bahwa pemuda tidak hanya sekedar diam dan bungkam akan segala yang sedang terjadi. Karena sikap diam berarti mati, sedangkan bergerak juga diperlukan intelektualitas sehingga tidak sekedar tong kosong nyaring bunyinya.

Maka sudah seharusnya Pemuda Masa Kini tidak Jompo, hanya terkotak-kotakan dalam sekup umur namun tidak memiliki pemikiran kritis dan wawasan yang luas. Bukan pula pemuda yang menggelu-elukan muda-nya, namun tidak bertindak nyata serta berdampak positif bagi sekitar. Padahal di tangan pemudalah arah dan masa depan bangsa dipertaruhkan.[]

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya