BAP Untungkan Bank Aceh Nyaris Satu Triliun, Namun Dihentikan, Ada Apa?

4 min


0
124 shares
Kantor Pusat Bank Aceh
Kantor Pusat Bank Aceh Syariah, Batoh, Banda Aceh. FOTO/HAI/Saifullah Hayati Nur

Banda Aceh – Menyikapi tulisan pemberitaan yang dipublikasikan HARIANACEH.co.id pada tanggal 26 Agustus 2018 dengan judul “Dua Perusahaan Ini Diduga Ambil Alih Fungsi Kerja Bank Aceh“, Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah, Zakaria A. Rahman akhirnya angkat bicara merespon dugaan yang dituduhkan ke instansinya. Dalam keterangannya kepada HARIANACEH.co.id pada Rabu (29/08/2018), ia menekankan hal yang menjadi isu itu tidaklah benar dan terlalu berlebihan.

“Tidak seperti itu keadaannya, Bank Aceh Syariah tentunya telah melalui proses yang cukup baik ketika memilih mitra-mitranya (vendors), dan semua itu tertuang dengan jelas dalam kontrak kerjasama antara Bank Aceh Syariah dan PT. Bina Artha Prima tentang Kerjasama Pengembangan dan Pemasaran Pembiayaan Pra Pensiun dan Pensiun,” ungkap Zakaria.

Zakaria A. Rahman yang pernah bekerja di Bank Niaga ini juga menjelaskan, jika dilihat dari track record PT Bina Artha Prima (BAP) justru perusahaan ini sangat mumpuni dan memiliki track record yang sangat baik, meskipun yang menjadi sorotan publik di Aceh akhir-akhir ini adalah soal waktu ditetapkannya kontrak kerjasama dengan pembentukan akte perusahaan BAP yang sangat dekat rentan waktunya yaitu cuma selisih satu bulan.

Untuk itu, Zakaria A. Rahman punya penjelasan kuat terkait soal waktu penandatanganan kontrak kerjasama antara Bank Aceh Syariah dan PT BAP yang ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 19 September 2016 dan di lembar kontrak kerjasama itu juga disebutkan tanggal pembentukan PT BAP yang dibentuk pada 4 Agustus 2016 dengan Nomor: AHU-0034767.AH.01.01. Kata dia, hal tersebut tidaklah menjadi masalah meskipun rentan waktu kontrak kerjasama antara Bank Aceh Syariah dan BAP berselisih waktu hanya sebulan, karena menurutnya BAP sarat pengalaman soal pengelolaan pembiayaan pra pensiun dan pensiun.

“BAP ini sebenarnya perusahaan yang berpengalaman. Pembahasan soal ide kerjasama ini sudah dibahas di Bank Aceh sejak awal tahun 2016, saat itu direktur utama Bank Aceh Syariah dipimpin oleh almarhum Busra Abdullah, seingat saya pembahasan itu tepatnya di bulan Januari 2016. Artinya sejak awal tahun 2016, Bank Aceh sudah tentu mengevaluasi mitra-mitranya sebelum ditunjuk sebagai vendor, makanya di bulan September 2016 baru dilakukan penandatanganan Kontrak Kerjasamaa antara Bank Aceh Syariah dengan PT BAP,” jelas Zakaria A. Rahman kepada HARIANACEH.co.id.

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Zakaria juga menuturkan PT Bina Artha Prima (BAP) sebenarnya dikenal dengan nama Kharisma Mega Nusa (KMN), perusahaan ini diisi oleh bankir-bankir yang sangat profesional dan pernah bekerja di berbagai perbankan Nasional khususnya para mantan Bankers BTPN yang tentunya sangat berpengalaman di bidang Nasabah Pensiunan meskipun Zakaria sendiri tidak menjelaskan kenapa PT BAP tidak menggunakan saja nama KSM sebagai mitra kerjanya dan malah menunjuk PT BAP yang waktu pembentukannya sangat dekat dengan waktu penunjukkan sebagai vendor Bank Aceh Syariah itu sendiri.

Pandangan publik soal kejanggalan yang terjadi di Bank Aceh Syariah terlihat bermunculan. Dari amatan HARIANACEH.co.id sejak seminggu terakhir pasca mencuatnya dugaan subjektif terhadap Bank Aceh Syariah, sebagian pengamat ekonomi perbankan di Aceh saat ditanyai HARIANACEH.co.id secara acak, di antaranya menyebutkan hal ini tentu akan menimbulkan dugaan-dugaan subjektif terutama soal penetapan mitra-mitra Bank Aceh yang terkesan mengambil alih fungsi kerja bank. Sebagian lainnya juga meminta untuk mengevaluasi kembali kinerja Bank Aceh.

Baca juga: Dugaan Keterlibatan PT BAP dan PT HTB di Bank Aceh, Begini Reaksi Dr Nasrulzaman

Selanjutnya, Zakaria A. Rahman juga menerangkan kepada HARIANACEH.co.id saat ditanyai pertanyaan “Apakah KSM dan BAP adalah satu perusahaan yang sama?“, Zakaria hanya menjelaskan bahwa mereka-mereka, KSM atau BAP adalah satu grup bankir di Indonesia.

“BAP satu grup dengan KSM, mereka-mereka sangat profesional dan sangat terlatih, kecukupan data detil Pensiunan secara nasional yang dimiliki cukup kuat dengan dukungan teknologi, sehingga sangat efektif dan efisien dalam melaksanakan operasional sehari-hari dalam rangka menjalankan program pemasaran yang dikontrol langsung dari Pusat (baca: Jakarta),” imbuh putra Ie Lebeu, Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie itu.

Peran Mitra BAP di Bank Aceh Syariah

Terkait pemasaran (Marketing Fee), Zakaria menjelaskan BAP bersifat sukses fee, di mana Bank Aceh Syariah berkewajiban membayar fee sebesar 4% bila mitra mampu membawa nasabah dengan kriteria yang ditetapkan Bank Aceh Syariah, tentunya biaya pemasaran yang dibebankan masih dalam koridor overhead cost bank.

Kemudian, lanjut Zakaria lagi, bila tanpa mitra, biaya marketing bank Aceh semisal yang mencapai 150 orang masuk menjadi biaya tetap bank. Maka, sukses dan tidak suksesnya dalam mendapatkan nasabah, sudah barang tentu Bank Aceh wajib membayar biaya operasional mulai dari biaya gaji dan fasilitas yang mengikuti. Kemudian, ada biaya gedung (fasilitas ruang kerja), biaya inventaris seperti meja, kursi, komputer dan lain-lain. Kemudian, juga ada biaya transportasi seperti kendaraan, bahan bakar minyak, perawatan kendaraan dan lain-lain.

“Justru ini sangat membebani bank Aceh Syariah jika tidak menggunakan mitra,” tegas Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah itu.

Dalam hal ini, Zakaria merasa senang ketika menjelaskan bahwa sesungguhnya PT BAP sampai dengan bulan Juli 2018, mitranya itu telah berhasil menambahkan nasabah Pensiunan mencapai lebih 7000 (tujuh ribu) nasabah dengan portofolio mencapai Rp783 miliar yang berarti dalam kurun waktu kurang 2 tahun PT BAP telah memberikan kontribusi nasabah konsumtif mencapai 8% dari total pembiayaan konsumtif.

“Ini fakta, dengan adanya produk pembiayaan pensiun ini, BAP telah memberi kontribusi pertumbuhan pembiayaan, hal tersebut bisa dilihat pada tampilan realiasi hasil kerjasama dan jika dibandingkan tanpa terlibatnya mitra seperti BAP justru malah mengalami pertumbuhan negatif,” tunjuk Zakaria ke gambar menggunakan proyektor yang ditampilkan di ruang rapat Kantor Pusat Bank Aceh, Batoh, Banda Aceh kepada HARIANACEH.co.id.

Gambar realisasi hasil kerjasama
Tampilan Realisasi Hasil Kerjasama Bank Aceh Syariah dengan PT Bina Artha Prima (BAP) menggunakan proyektor, Rabu (29/8/2018). FOTO/HAI/Saifullah Hayati Nur

Alasan Bank Aceh harus bermitra dengan BAP

Ketika HARIANACEH.co.id menanyakan tujuan Bank Aceh Syariah bermitra dengan BAP, di antaranya Zakaria mengutarakan adalah bertujuan untuk memperluas produk Bank Aceh itu sendiri, di mana BAP dan HTB (mitra lainnya) memiliki infrastruktur yang prima. Sambungnya lagi, hal ini tentu berkaitan dengan pertimbangan biaya operasional yang lebih efesien. Kemudian, Bank Aceh Syariah juga dapat menghindari biaya tetap (fixed cost) atas konsekuensi operasional satu lini bisnis yang sedang dikembangkan.

Kemudian, masih menurut Zakaria, ia melihat jaringan BAP dan HTB sudah mampu meng-cover berbagai jaringan perbankan. Bank Aceh Syariah saat ini memiliki rasio sumber daya manusia (SDM) pemasaran yang jauh di bawah rata-rata standar rasio SDM sebuah perbankan pada umumnya. Menurutnya, tentu biaya infrastruktur akan menjadi beban biaya tetap Bank Aceh Syariah dengan kualitas hasil yang belum tentu diketahui maksimal di kemudian hari.

“Biaya infrastruktur tentu akan menjadi beban biaya tetap bank Aceh, tapi kita belum tahu kalau hasilnya bakal maksimal. Jadi inilah pertimbangan Bank Aceh Syariah harus bermitra,” tambah Zakaria.

Pembiayaan Pra Pensiun dan Pesiun Dihentikan

HARIANACEH.co.id juga menanyakan kenapa program yang seharusnya justru memberikan laba kepada Bank Aceh ini sampai bulan Mei 2018 sebesar Rp783 miliar malah dihentikan?, Zakaria menjelaskan, saat dirinya menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) muncul rekomendasi untuk menghentikan program ini dan hal penghentian program ini sudah ia sampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, OJK, Komisaris dan seluruh jajaran Direksi terkait.

“Setelah munculnya rekomendasi untuk penghentian program ini di rapat RUPS, saya langsung memberitahukannya kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komisaris dan Direktur-direktur terkait,” demikian tutup Zakaria A. Rahman, Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah itu tanpa memberi penjelasan lebih detil kenapa program pembiayaan pensiun itu dihentikan.[]

Editor: Saifullah Hayati Nur


Komentar

Apa Reaksi Anda?

Takut Takut
10
Takut
Kaget Kaget
8
Kaget
Suka Suka
2
Suka
Sedih Sedih
7
Sedih
Lucu Lucu
8
Lucu
Takjub Takjub
5
Takjub
Marah Marah
1
Marah
close-link
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes