GRAS Kirim Dua Delegasi Divisi Gunung Hutan pada Gladian Nasional XIV Pecinta Alam di Sumatera Barat

LEMBAH HARAU – Dua anggota Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) mewakili Provinsi Sumatera Utara dalam kegiatan Gladian Nasional (Gladnas) XIV Pecinta Alam se-Indonesia yang berlangsung di Lembah Harau, Sumatera Barat, pada 22–28 Oktober 2018.
Ajang dua tahunan ini diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Pencinta Alam (Sekber PA) Sumatera Barat, diikuti oleh 188 peserta dari 24 provinsi di Indonesia. Gladnas merupakan forum pelatihan, silaturahmi, dan penguatan nilai-nilai konservasi bagi para pecinta alam dari berbagai latar belakang organisasi, kampus, dan komunitas.
Acara pembukaan digelar di Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK RI, Ir. Wiratno. Dalam kesempatan itu, Wiratno juga membagikan buku cetakannya berjudul “Tersesat di Jalan yang Benar” kepada salah satu peserta.
GRAS Wakili Sumut di Divisi Mountaineering
Delegasi GRAS terdiri dari Pendiri sekaligus Ketua Umum GRAS, Nurhabli Ridwan, dan Sekretaris Umum, Achmad Subana. Keduanya memilih mengikuti Divisi Gunung Hutan (Mountaineering) yang berlokasi di kawasan Gunung Marapi, Desa Pariangan, Kabupaten Payakumbuh.
Selama tiga hari, para peserta menerima materi intensif dari H. Soma Suparsa (Wanadri) meliputi manajemen perjalanan, kesehatan lapangan, komunikasi, navigasi darat, survival, Explorer Search and Rescue (ESAR), serta manajemen ekspedisi.
“Ini pengalaman berharga bagi kami karena untuk pertama kalinya GRAS ikut serta di kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam se-Indonesia. Selain menambah pengetahuan teknis, kegiatan ini juga memperkuat rasa persaudaraan antarpecinta alam dari berbagai daerah,” ujar Nurhabli Ridwan seusai kegiatan.
Forum Nasional dan Penetapan Tuan Rumah Selanjutnya
Pada 26 Oktober 2018, digelar Forum Pecinta Alam Nasional yang menghasilkan keputusan penting: Provinsi Sulawesi Selatan terpilih sebagai tuan rumah Gladian Nasional XV, setelah memperoleh 10 suara, mengungguli Sumatera Selatan (8 suara) dan Sulawesi Utara (5 suara).
Sulawesi Selatan diberi waktu dua tahun untuk mempersiapkan pelaksanaan Gladnas berikutnya. Jika dalam enam bulan tidak menunjukkan kesiapan, hak tuan rumah akan dialihkan kepada Sumatera Selatan.
Empat Divisi Latihan Akbar Pecinta Alam
Gladnas XIV kali ini menghadirkan empat divisi utama pelatihan, yaitu:
- Gunung Hutan (Mountaineering) di Gunung Marapi, Kabupaten Payakumbuh.
- Panjat Tebing (Rock Climbing) di Tebing Alam Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota.
- Susur Goa (Caving) di Goa Ngalau Pangian, Kabupaten Tanah Datar.
- Arung Jeram (Rafting) di Sungai Batang Sinamar, Kabupaten Tanah Datar.
Selain itu, diselenggarakan pula Exhibition Class Diving di Pulau Pasumpahan, Kota Padang, yang diikuti oleh peserta berpengalaman di bidang penyelaman konservasi.
Sejarah dan Makna Gladian Nasional
Gladian Nasional pertama kali digagas oleh WANADRI pada tahun 1970 sebagai ajang pelatihan dan pemantapan kemampuan bagi para anggotanya. Dalam perkembangannya, kegiatan ini menjadi ajang nasional yang terbuka bagi seluruh pecinta alam Indonesia.
Momentum bersejarah terjadi pada Gladian Nasional IV tahun 1974 di Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan, di mana untuk pertama kalinya disahkan Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, yang hingga kini masih menjadi pedoman moral dan etika bagi seluruh organisasi pecinta alam di tanah air.
Isi Kode Etik Pecinta Alam Indonesia menegaskan nilai-nilai pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, pelestarian alam, penghormatan terhadap martabat manusia, serta persaudaraan sesama pecinta alam.
Menjaga Silaturahmi dan Semangat Konservasi
Meski pelaksanaannya tidak rutin setiap tahun, Gladian Nasional tetap menjadi simbol kebersamaan dan komitmen para pegiat alam bebas dalam menjaga kelestarian lingkungan serta mempererat tali silaturahmi lintas organisasi.
“Melalui kegiatan seperti ini, semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap alam bisa terus hidup. Eksistensi komunitas pecinta alam harus terus dijaga agar tetap berkontribusi positif bagi bangsa dan lingkungan,” kata Nurhabli Ridwan menutup pernyataannya.