Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Advertisement

Isu Akan Terjadi Gempa dan Tsunami, Ribuan Masyarakat Aceh Selatan Sempat Mengungsi

Tapaktuan – Ribuan masyarakat yang bermukim dipesisir pantai wilayah Trumon Raya seperti Gampong Keude Trumon dan Bakongan Raya seperti Gampong Seubadeh, Seulekat, Ujong Mangki, Ujong Pulo Rayeuk dan Keude Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan sempat mengalami kepanikan luar biasa sehingga harus mengungsi pada Minggu (30/12/2018) pukul 23.00 WIB malam, karena terpengaruh isu bakal terjadi gempa dan tsunami.

Keresahan masyarakat setempat baru mereda setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan turun tangan menjelaskan bahwa isu yang santer beredar tersebut tidak benar alias hoax.

Advertisement

Advertisement

“Pada Minggu (30/12/2018) sekitar pukul 23.00 WIB malam, sempat terjadi kepanikan luar biasa diwilayah tersebut. Ribuan masyarakat yang bermukim disepanjang pesisir pantai telah mulai mengungsi ke wilayah lebih tinggi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan, Cut Syazalisma S.STP kepada wartawan di Tapaktuan, Senin (31/12/2018).

Ia mengungkapkan bahwa, kepanikan luar biasa warga setempat berawal dari informasi bakal terjadi gempa dan tsunami diakhir Desember tahun 2018 yang dibaca atau diperoleh dari media sosial (medsos) oleh beberapa oknum warga.

“Celakanya lagi, informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya ini, disiarkan atau diumumkan pula oleh Imum Chik Gampong Keude Trumon seusai shalat isya di masjid. Sehingga beberapa saat kemudian masyarakat setempat mulai panik, warga mulai berbondong-bondong keluar dari rumah untuk terus menjauh dari bibir pantai,” kata Cut Syazalisma.

Setelah pihaknya menerima informasi dari Pos BPBD Kecamatan Trumon bahwa telah ada warga yang mengungsi, Kalak BPBD Aceh Selatan Cut Syazalisman langsung memerintahkan petugas Pos BPBD untuk segera berkoordinasi dengan pihak Muspika setempat untuk menetralisir kembali situasi.

“Kita minta agar mencari sumber informasi yang menyampaikan pertama yaitu Imum Chik Gampong Keude Trumon. Lalu yang bersangkutan kita minta agar mengklarifikasi kembali informasi itu bahwa isu tersebut tidak benar alias hoax. Akhirnya pada Senin (31/12/2018) sekitar pukul 01.00 WIB dinihari masyarakat sudah bisa ditenangkan dan secara berangsur-angsur warga kembali lagi ke rumahnya masing-masing,” ujar Cut Syazalisma.

Karena itu belajar dari kejadian ini, BPBD Aceh Selatan mengharapkan kepada masyarakat setempat agar betul-betul selektif dalam mencerna informasi yang diperoleh. Setiap informasi, hendaknya dilakukan cros cek untuk mencari kebenarannya yang pasti sebelum disebar-luaskan kepada masyarakat ramai.

“Kami menyesalkan informasi yang belum jelas kebenarannya itu langsung diumumkan kepada khalayak ramai. Seharusnya, kami atas nama BPBD yang bertanggungjawab terhadap persoalan bencana di daerah, dihubungi lebih dulu untuk mempertanyakan kebenaran persoalan yang sangat sensitif bagi masyarakat tersebut,” sesal Cut Syazalisma.

Menurutnya, untuk nomor kontak Pusdalops BPBD Aceh Selatan, jauh-jauh hari telah disebarkan kepada masing-masing pemerintah kecamatan hingga ke gampong-gampong.

“Kepada pihak terkait lainnya, kami juga mengharapkan, agar informasi belum jelas jangan langsung disebarkan sehingga menjadi pesan berantai. Apalagi isu gempa dan tsunami merupakan informasi sangat sensitif, ini sangat berbahaya,” ujarnya lagi.

Ia menyatakan, dampak dari penyebaran informasi keliru seperti itu, tidak hanya mengancam keselamatan jiwa manusia juga sangat berpotensi bakal terjadi kerawanan tindak pidana kriminal dan pencurian.

“Khususnya bagi warga Aceh, informasi gempa dan tsunami merupakan isu sangat sensitif. Dalam hitungan detik warga langsung berhamburan, sehingga rumah-rumah kosong. Nah, disaat rumah sudah ditinggal pemiliknya sangat mudah terjadi aksi pencurian,” bebernya.

Viralnya List Data Tsunami

Dalam kesempatan itu, Kalak BPBD Aceh Selatan Cut Syazalisma juga meluruskan terkait sekarang ini list data nama-nama desa yang berpotensi bakal terjadi tsunami sudah sangat Viral ditengah-tengah masyarakat.

Menurut dia, persoalan itu sudah diminta konfirmasi langsung ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat di Jakarta. Pihak BNPB, sudah membenarkan bahwa list data-data itu mereka yang keluarkan, tapi data itu belum resmi karena masih butuh kajian dan penyempurnaan ulang.

“Data itu sebenarnya butuh penjelasan-penjelasan, itu adalah kategori ancaman resiko terhadap tsunami, bukan akan terjadi tsunami,” jelasnya.

Seharusnya, sambung Cut Syazalisma, list data yang diperoleh itu tidak menjadi ketakutan tapi menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan.

Menurut keterangan pihak BMKG, lanjutnya, sejauh ini belum ada alat yang bisa memprediksi gempa, sebab gempat tetap terjadi diluar prediksi manusia. Sedangkan tsunami tetap diawali dengan gempa. Karena itu, jika sudah terjadi gempa BMKG langsung mengeluarkan peringatan dini, apakah gempa itu berpotensi tsunami atau tidak.

“Jika gempa berpotensi tsunami, maka diharapkan kepada masyarakat yang bermukim di desa – desa sesuai list data yang telah dikeluarkan oleh BNPB tersebut, diharapkan sudah mengetahui cara-cara atau teknik penyelamatan diri. Jadi data itu dibuat oleh BNPB, arahnya lebih kepada deteksi dini agar masyarakat lebih siap,” demikian penjelasan Cut Syazalisma.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beri Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya