Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Atasi Persoalan Bangsa, Muwafakat Solusinya

Oleh Muhammad Razi, SH.I, MCL

Bermula tudingan penistaan agama oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai pemantik dimulainya kemarahan muslim di Indonesia, pertikaian dan saling menyalahkan menyelimuti rakyat Indonesia dan itu bergulir sampai sekarang. Malahan beberapa persepsi skeptis kepada pemerintahan sekarang yang seolah-olah kewalahan mengatasi isu-isu tersebut, bahkan isu ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam menghadapi kompetensi pada Pilpres dan Pileq tahun 2019 ini?.

Pada sisi lain, pengarahan tudingan yang dialamatkan kepada pemerintah sekarang, seolah-olah pemerintah tidak berlaku adil dan kurang tanggap terhadap isu tersebut, serta tebang pilih dalam melakukan musyawarah yang hanya melibatkan ormas tertentu saja. Pelibatan ormas tertentu dalam menyelesaikan persoalan penistaan agama, dianggap oleh ormas-ormas lain tidak mewakili keseluruhan rakyat muslim di Indonesia dan itu mungkin menjadi “bumerang” bagi pemerintah yang dianggap tidak serius dalam menuntaskan isu tersebut.

Untuk itu, pelibatan seluruh element masyarakat, dalam hal ini ormas-ormas Islam dalam menyelesaikan permasalahan tersebut dengan pendekatan musyawarah. Indonesia dengan mayoritas penduduknya Islam sekiranya setiap ada permasalahan yang melibatkan agama terselesaikan dengan sempurna melalui musyawarah.

Lebih lanjut, beragam persepsi terhadap permasalahan ini, sehingga menyebabkan multi tafsir di masyarakat dan bahkan seolah-olah persilisihan itu dianggap sebagai “perang” antara rakyat dengan pemerintah. Oleh karena itu, untuk meng counter bias tafsir di masyarakat, sepatutnya pemerintah mencanangkan pendekatan Islami untuk menjawab permasalahan tersebut.

Kendati metode ini telah diterapkan, seperti dialogis oleh stasiun TV ONE dengan program ILC (Indonesia Lawyer Club) yang banyak mengangkat isu-isu terbaru yang terjadi pada bangsa ini, bahkan para pakar dengan keahlian dibidang masing-masing dihadirkan untuk memberikan tanggapan atas isu yang liar terjadi di masyarakat. Namun, menurut amatan saya terhadap acara tersebut, para finalis yang diundang saling ‘show’ atau sebagai ajang mempromosikan diri dengan saling mempertahankan argumentasi pribadi. Lebih lanjut, ajang ‘show’ tersebut juga menafikan kritikan lawan dan menurut saya, tidak ada kesimpulan atau solusi yang dihasilkan dari acara tersebut terhadap isu-isu yang diperbincangkan.

Oleh karena itu, sudah selayaknya untuk menyelesaikan berbagai dinamika bangsa ini, pendekatan musyawarah, muwafakat atau duduk bersama  yang ditawarkan oleh Islam sebagai langkah kongkrit dalam pengambilan keputusan terbaik untuk kemaslahatan ummat Islam di Indonesia.

Allah Swt berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159 yang artinya:

”Dan musyawarahlah kamu (Muhammad) bersama mereka”.

Dan juga pada tempat lain Allah berfirman dengan gaya bahasa berbeda, namun tetap memberi maksud dan tujuan yang sama yakni sepatutnya umat Islam memutuskan suatu masalah melalui pendekatan syura (muwafakat), surah Al-Syura ayat 38, Allah Swt berfirman yang bermaksud: “Dan urusan mereka, mereka  putuskan diantara mereka melalui musyawarah dan sebagian apa yang kami rezekikan maka mereka berinfak”.

Dr. Mohd Daud Bakar dalam bukunya “Membumikan Syari’ah: Menjelajahi Dimensi Syari’ah Secara 360 Darjah” , halaman 75-78 memberi satu penjelasan sangat  menarik terkait pendekatan syura, dimana syura merupakan satu pesan Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, metode syura merupakan bagian syari’ah yang menjadi landasan kukuh bagi komunitas masyarakat Muslim menangani dan menjawab segala problematika yang berkembang di dalam masyarakat muslim sejak 1,400 tahun lalu. Ini menunjukan bahwa metode Syura merupakan salah satu approach (pendekatan) yang tidak seharusnya dianggap kecil oleh kita, bahkan Nabi sendiri memerintahkan mengambil pendekatan ini demi mencapai satu solusi yang disepekati bersama (sahabat).

Selanjutnya, Dr. Mohd. Daud Bakar menambahkan, dalam keputusan kolektif atau jama’i merupakan cara terbaik yang harus digelorakan bagi mengelakkan berbagai perselsihan yang akan muncul dikemudian hari dan pendekatan ini bertujuan untuk memilih satu pandangan solutif agar permasalahan ummat bisa terjawab.

Berdasarkan ayat di atas sangat jelas makna dan maksud yang dikehendaki, Allah Swt tidak mensasarkan perintahnya secara perorangan namun Ia menginginkan suatu dinamika perlu didiskusikan secara kolektif. Dan juga Allah menghendaki kita duduk bersama untuk menyelesaikan suatu problematika yang tidak bisa dilakukan secara individu dalam sebuah komunitas, institusi atau organisasi baik organisasi resmi pemerintah maupun non-pemerintah. Sebaliknya, resolusi akan dicapai pada tahap kesimpulannya jika para petinggi yang berperan dalam setiap organisasi tersebut mampu mencari punca permasalahan dan duduk bersama untuk mendiskusikan jalan keluar.

Faktanya, mereka saling “lempar batu sembunyi tangan”, seolah-seolah persoalan bangsa yang terjadi disemua lini merupakan persoalan pribadi ataupun kelompok tertentu, dimana mereka tidak mau ambil peduli untuk menyelesaikannya.

Tontonan saban hari dimedia sosial maupun media elektronik yang penuh dengan cacian, makian, sumpah-serapah hingga penghinaan dan pelecehan satu komunitas kepada komunitas lain seolah-olah menjadi kebiasaan dan ini sangat jauh melenceng dari nilai filosofi bangsa Indonesia.

Ini diperparah lagi dengan mendekatnya tahun Pemilu dan Pileg, dimana rakyat yang pro atas satu pasangan tertentu akan mengkritik bahkan mencaci pihak lawannya tanpa melihat konseweksi yang timbul bagi hidupnya sendiri. 

Begitu sebaliknya bagi pihak lawan, mereka juga akan mencari celah untuk menghantam balik. Diakui memang indonesia adalah sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, perselisihan opini dan cara pandang msayarakat merupakan sesuatu yang lumrah dan tidak dilarang ole konstitusi. 

Tetapi jika melihat kepada sila yang ke 5, disana sangat jelas tertuang mengenai metode musyawarah atau muwafakat sebagai standar untuk menghasilkan kemaslahatan bersama tanpa melihat suku dan kelompok, tetapi yang dilihat adalah satu-kesatuan sebuah bangsa yang tidak terpisah oleh komonitas tertentu. Kenapa musyawarah ini perlu dilakukan oleh semua instansi untuk menghasilkan sebuah tujuan yang komplek bagi kemakmuran masyarakat dan menghindari benih-benih permusuhan diantara anak bangsa, karena: 

  1. Pola pikir antara satu institusi dengan institusi lain itu tidak sama, apalagi persepsi-persepsi liar yang berkembang dalam masyarakat. Maka pendekatan ini hadir untuk menyatukan atau mempertemukan pola tersebut dalam satu wadah tertentu. 
  1. Dalam konteks mencapai matlamat yang tepat, apalagi korelasinya dengan sebuah negara, tujuan ini tidak mampu diraih jika yang melakukannya hanya sekelompok orang sementara satu kelompok lain berupaya untuk menjatuhkan dan menggalangi-halangi, apatah lagi sampai tahapan ancam mengancam. 
  1. Paling penting yaiut pendekatan syura (mufakat) itu sendiri merupakan ajaran Islam yang sangat bijak, mampu menyelesaikan berbagai persoalan umat ketika perselihan tidak lagi dapat dihindari, maka jalan satu-satunya ialah dengan duduk bersama. 

Kesimpulannya, perselisihan dan kesalahpahaman sesama anak bangsa baik itu ditingkat instansi pemerintah maupun organisasi non-pemerintah itu sangat wajar disebabkan oleh watak yang berbeda-beda. Namun tatkala masyarakatnya mengalami dinamika demikian maka agama Islam menawarkan satu konsep bijak yaitu berupa musyawarah. Inipun merupakan ciri dan filosofi masyarakat Indonesia yang diambil dari sila Pancasila. Wallahu a’lam.

Muhammad Razi, SH.I, MCL, Candidate PhD Law at International Islamic University of Malaysia (IIUM)

 

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya