Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Degradasi Kultur Simeulue

Oleh: Irmayadi Sastra

SIMEULUE merupakan salah satu kepulauan yang terletak di penghujung Sumatera Aceh, berdiri tegar di tengah-tengah Samudera Hindia dan berjarak dari lepas pantai Aceh (Meulaboh) kurang lebih 150 KM. Disanalah masyarakatnya hidup tentram dan bahagia, jauh dari pertikaian dan peperangan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Sepanjang sejarah Simeulue dikenal “Nyiur Melambai” ini merupakan slogan orang-orang cina dahulu, dikarenakan dengan sumber daya alamnya, keeksotisan alamnya, keberagaman suku, bahasa, maupun budayanya yang sangat multikompleks. Sakin kayanya pulau itu membuat daerah tetangganya cemburu karena hasil cengkeh, pala, cacao, karet, pinang dan masih banyak lagi kekayaan alam lainnya yang dimiliki oleh Simeulue.

Bahkan Simeulue itu lebih dikenal dengan istilah “Simeulue Ate Fulawan dalam bahasa defayan, sementara dalam bahasa Agemei (digunakan oleh masyarakat Simbar, Alafan, Salang) lebih dikenal dengan istilah “Simeulue Ede Bulawa.” Kenapa demikian penamaannya? Jawabannya adalah karena Pulau Simeulue memiliki seguadang SDA yang melimpah ruah. Namun sayang pengelolaannya belum maksimal, sehingga dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya pun belum tercapai secara total dan sustainable (berkelanjutan).

Kultur (budaya) yang melekat pada masyaraktanya pada tempo dulu masih sangat kental. Dimana dahulunya adat-istiadat menjadi satu-kesatuan yang terpatri dalam tubuh masyarakat ketika hendak melaksanakan suatu kegiatan, misalnya: dimana ada perkawinan distu dipragakan silat, debus dll.

Lambat laun (bye and bye) segudang kekayaan kultur yang dimiliki Simuelue tergerus oleh pergantian zaman. Dimana kulturnya sudah diombang-ambing oleh abrasi kehidupan yang semakin modern. Sehingga membuat budaya itu semakin hari semakin terlupakan dan tertinggalkan, dikarenakan zaman telah berganti.

Begitu juga dengan debus, rebana, silat, nandong, kenduri blang, menjalang, lawatan, hikayat (ina-inafi dalam hasa Simeuleu), syarian, mengundang dgn bathin berisi pinang selasi ketika ada pernikahan dan masih banyak lagi budya yang dilikinya. Namun hari ini budaya tersebut telah mengalami pergeseran atau degradasi secara derastis. Budaya itu hanya diketahui oleh orang-orang yang lahir di bawah tahun 2000 an, kemudian mengalami transisi karena dimensi perubahan tehnologi dan tidak pandainya masyakat mempertahankan segudang kebudayaan tersebut.

Pada dasarnya buda merupakan ciri khas sebuah daerah dimana bisa dijadikan sebagai sebuah pembelajaran dan pendidikan bagi semua masyarakat khususnya warga Simeulue.

Artinya pran Pemerintah Daerah Simeulue dan Majelis Adat Aceh (MAA) Kab. Simeulue dibutuhkan untuk merestorasikan (mengembalikan pada semula) untuk dilestarikan kembali. Sehingga budaya nenek moyang (endatu) seperti Silat, debus, rebana dll harus benar-benar dipertahankan menjadi sebuah ciri khas atau kesitimewaan Pulau Simeulue untuk dikenalkan pada Dunia bahwa Simeulue punya segudang Budaya.

Irmayadi Sastra. S.H., M.H., Alumni S2 Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur.

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya