Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Aceh Pernah Digdaya di Zaman Sultan Iskandar Muda

Sejarah Indonesia

Sultan Iskandar Muda, penguasa terbesar Kerajaan Aceh. FOTO/Tirto.id/Fiz
9.936

Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda dari 1607 hingga 1636.

Oleh: Iswara N Raditya

Raja James I dari Inggris mengirimkan surat kepada Sultan Iskandar Muda pada pertengahan abad ke-17 itu. Surat tersebut berisi permohonan kepada sultan agar orang-orang Inggris diizinkan berdagang di sejumlah lokasi yang termasuk wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam.

Jawaban Sultan Iskandar Muda: Tidak diizinkan!

Dalam surat jawaban yang ditulis tahun 1024 Hijriah atau 1615 Masehi itu, permintaan Raja James I ditolak. Sultan Iskandar Muda paham betul, dalih dagang hanyalah kedok Inggris untuk menguasai sumber daya di Aceh. Portugis dan Belanda pernah mencobanya, dan gagal.

Di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda sejak 1607, Aceh sangat digdaya sebagai suatu imperium yang makmur, kuat, dan memiliki wilayah yang sangat luas. Tak pernah ada bangsa asing yang benar-benar berhasil menguasai bumi Serambi Makkah selama Iskandar Muda bertakhta.

Sepak Terjang Perkasa Alam

Aceh pada awal abad ke-17 Masehi dilanda konflik. Selain ancaman dari Portugis, situasi kerajaan juga sedang guncang. Pemimpin Aceh Darussalam kala itu, Sultan Alauddin Riayat Syah, dikudeta anaknya sendiri pada 1604 yang kemudian menduduki takhta dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah.

Penguasa baru ini bertabiat buruk dan membuat Aceh semakin terpuruk. Djokosurjo dalam buku Agama dan Perubahan Sosial (2001) menyebut bahwa kepemimpinan Sultan Ali Riayat Syah merupakan periode yang penuh dengan kekacauan internal (hlm. 63).

Dalam situasi ini, muncullah sosok anak muda bernama Perkasa Alam. Pemuda yang masih berstatus pangeran ini menunjukkan rasa tidak puas terhadap Sultan Ali Riayat Syah. Perkasa Alam pun melancarkan perlawanan.

Namun, Perkasa Alam ditangkap dan dipenjara. Dari dalam jeruji besi, ia memberikan penawaran kepada Sultan Ali Riayat Syah yang saat itu memang sedang risau karena tekanan Portugis.

Perkasa Alam menawarkan, jika dibebaskan dan diberi perlengkapan senjata serta sedikit pasukan, ia berjanji dapat mengusir Portugis dari tanah rencong. Sultan Ali Riayat Syah yang sudah kewalahan menghadapi Portugis menerima tawaran itu.

Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa (2005) memaparkan, Perkasa Alam mengerahkan anak-anak muda Aceh untuk melawan Portugis. Hasilnya, orang-orang semenanjung Iberia itu dapat diusir dari bumi Serambi Makkah pada 1606 (hlm. 280). Kemenangan atas Portugis ini juga membuat nyali Belanda dan Inggris ciut.

Tak lama setelah itu, Sultan Ali Riayat Syah mangkat. Perkasa Alam muncul sebagai kandidat terkuat sebagai penggantinya. Selain dikenal cakap dan pemberani serta didukung tokoh-tokoh adat berpengaruh, ia juga masih keturunan dari Sultan Alauddin al-Qahhar, penguasa Kesultanan Aceh era 1537-1571.

Maka, pada 1607 itu, Perkasa Alam dinobatkan sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam yang baru. Setelah bertakhta, Perkasa Alam dikenal dengan nama Sultan Iskandar Muda.

Sumber Tirto
Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya