Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Harga Karet Cuma Naik 500 Rupiah/Kilogram, Petani Aceh Timur Mengeluh

Idi – Harga karet di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, naik 500 rupiah. Hal itu dapat dilihat dari total perkilogramnya yang hanya menyentuh harga Rp7500. Akibat kenaikan yang cuma dikisaran Rp500 pendapatan petani karet turun drastis. Para petani di dua (2) desa Alue Teh dan Paya Rambong mengeluhkan harga yang berpatok pada angka Rp7500 saja.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mayoritas warga dua desa Alue Teh dan Paya Rambong hanya mengandalkan hasil produksi karet sebagai mata pencarian utama mereka. Karena 80 persen warga dua desa itu umumnya berprofesi sebagai petani karet.

Kepada HARIANACEH.co.id pada Kamis 10 Januari 2019, salah seorang petani dusun Becek desa Alue Teh, Kambali (65) mengaku tidak bisa lagi menabung dan bahkan tidak mampu lagi membayar biaya sekolah anak-anaknya. Saat ini beralih profesi ketanaman lain dan tidak lagi memanen karet.

Tidak hanya Kambali, kata dia hampir sebagian warga di desa Alue Teh juga mengaku merasakan hal yang sama seperti yang dialaminya. Akibat dampak jatuhnya harga karet ini banyak dari anak-anak mereka tidak lagi melanjutkan pendidikan kuliah karena ketidakmampuan biaya.

Sampai saat ini Kambali hanya mampu membiayai kehidupan sehari-hari saja dan terpaksa menghentikan kuliah anaknya.

“Walau saya memiliki ladang karet 2 hektar lebih, tiap minggunya menghasilkan 20Kg getah kering dengan harga Rp7.500 per Kg, tapi tidak cukup membiayai kebutuhan sehari-hari, apalagi anak saya ada yang sedang berkuliah. Terpaksa saya hentikan pendidikannya,” keluh Kambali sambil murung.

Petani Karet di Aceh Timur
Petani karet di Desa Alue Teh mengeluhkan harga karet yang cuma naik Rp500 saja, Kamis (10/1). FOTO/HAI/Hermansyah

Begitu juga dengan Suprianto (22), ia terpaksa berhenti kuliah dan memilih membantu orang tua ke ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menutup cicilan utang.

“Harga getah karet tidak stabil bang, ya beginilah bang,” kata Suprianto kepada HARIANACEH.co.id yang juga memberikan komentar terkait harga karet yang cuma naik Rp500 saja perkilogramnya.

Sedangkan, petani lain, Wahdania (40), ia mengatakan harga karet yang pas untuk petani di Aceh saat ini adalah Rp35.000 per kilogram. Dengan harga itu, menurut Wahdania petani karet dapat memenuhi ekonominya.

“Idealnya, harga karet itu di harga Rp35.000, insya allah dengan harga itu ekonomi kami dapat dipastikan baik-baik saja,” pungkas Wahdania juga ikut berkomentar kepada HARIANACEH.co.id.

Ada juga petani karet lainnya, namanya Suratmi, ia mengungkapkan, sebelumnya di masa era Susilo Bambang Yudhoyono, petani karet sempat menikmati harga hingga Rp20.000 per kilogram. Menurutnya era itu adalah era yang sangat membahagiakan baginya dan warga pada umumnya yang berprofesi sebagai petani karet di Desa Alue Teh.

“Dulu, saat Bapak SBY kita pernah menikmati Rp20.000 dan itu sangat luarbiasa sekali membantu pertumbuhan ekonomi keluarga kami di desa ini, tapi heran saat era Jokowi ini kok begini ya ekonomi kami. Yang kami dengar justru era Jokowi ini sibuk mikirin soal jalan tol saja,” kata Suratmi terlihat bingung dengan keadaan ekonomi akhir-akhir ini.

Ia juga melanjutkan, kata dia harga karet Rp20.000 saat itu sudah cukup untuk membuat kehidupan para petani hidup layak. Sama halnya seperti Kambali, Suratmi juga memiliki dua hektar lahan karet.

“Saat itu harga segitu saja kami dapat hidup layak dan itu cuma dialami masa Era SBY,” kata Suratmi menambahkan.

Mereka semua mengharapkan kepada pemerintah untuk dapat mencari solusi agar harga karet dapat kembali tinggi, bukan cuma naik 500 rupiah.[]

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya