Rabu, 19 Februari 2020
Rabu, 19 Februari 2020

Regulasi Mobil Listrik di Indonesia Keluar, Ini Skenario Toyota

JAKARTA – Pemerintah Indonesia baru saja mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 55 Tahun 2019 terkait Kendaraan Listrik. Kebijakan ini disambut positif produsen otomotif di Indonesia.

Salah satunya pabrikan terbesar di dunia, Toyota. Mereka mengaku sebelum perpres tersebut keluar perusahaan telah menggodok mengenai rencana dan skenario kendaraan listrik di Indonesia.

“Kami telah mempelajari kendaraan listrik di Indonesia sebelum perpers keluar. Kami pun telah menyampaikan ini kepada principal (Toyota di Jepang), apakah development atau produksi di Indonesia,” ujar Direktur Marketing PT Toyota-Astra Motor (TAM), Anton Jimmy Suwandi di Jakarta, baru-baru ini.

BACAAN LAINNYA

Anton menuturkan, saat ini pihaknya masih menunggu implementasi dari regulasi ini terkait pajak penjualan barang mewah (PPnBM) khusus dan aturan produksi kendaraan listrik.

“Support ini yang ditunggu, kita menunggu dua hal tersebut. Semoga bila yang dua itu sesuai harapan, kami melihat target electrifical di Indonesia 20 persen sangat possible,” katanya

Baca juga: Perpres Sudah Diteken, Toyota Tunggu 2 Implementasi Kebijakan Kendaraan Listrik

Dia menyebutkan, Toyota turut mendukung regulasi pemerintah. Namun, ada salah satu poin yang menjadi perhatian yaitu produksi baterai kendaraan listrik.

“Sudah pasti kita butuh dalam domestik di Indonesia adalah produksi baterainya sendiri. Jadi itu yang belum ada di Indonesia. Namun, sepertinya sudah ada investor-investor yang akan masuk. Mudah-mudahan Perpres ini mempercepat keputusan mereka masuk dan berinvestasi di Indonesia,” ujarnya.

Anton menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa skenario dalam produksi kendaraan listrik. “Deadline kira-kira dua tahun akan terjadi, kita fokus bagaimana menjual dan memproduksi,” katanya.

Baca juga: Menperin Ungkap Beberapa Poin Perpres Mobil Listrik, Ini Bocorannya

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, insentif fiskal dan nonfiskal untuk mobil listrik akan menurunkan rata-rata harga sekitar 25 persen dari harga mobil listrik saat ini. Harga mobil listrik sekarang sekitar 40 persen di atas harga mobil konvensional.

“Kalau sekarang bedanya 40 persen, dengan kebijakan itu mungkin sekitar 10 persen sampai 15 persen dari mobil yang combustion engine (mesin bahan bakar),” ujarnya.

Dalam Perpres 55/2019, insentif fiskal yang diberikan salah satunya PPnBM dihapus. Namun, penghapusan tarif ini menunggu aturan turunnya berupa revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 41 Tahun 2013.

Selain PPnBM, kata Airlangga, insentif lain yang diberikan khusus, yaitu pembebasan bea balik nama. Guyuran insentif ini lumrah diberikan jika berkaca pada pengalaman negara-negara lain.

Editor : Dani Dahwilani

Sumber: iNews

Loading...

BERITA LAINNYA

Selanjutnya
Wiranto Imbau Masyarakat Tak Terpancing Berita Hoaks Kerusuhan Manokwari : Okezone Nasional