Rabu, 19 Februari 2020
Rabu, 19 Februari 2020

Muhammad Ja’far Hasibuan si Penemu Obat Kulit dari Olahan Terasi

Jelang Hari Sumpah Pemuda Ke-91 Tahun 2019 yang akan diselenggarakan pada 28 Oktober, sejumlah civitas akademika dan ilmuwan muda dunia berkumpul di Kota Solo. Konvensi Pemuda Hebat Indonesia itu digelar selama dua hari di kota Budaya Surakarta.

Uniknya, nama Muhammad Ja’far Hasibuan, pemuda asal Sumatera Utara yang berhasil menginovasi bahan olahan terasi menjadi obat kulit luar dan dalam bagi manusia dan hewan, kembali disebut-sebut diperbincangkan dalam forum tersebut sebagai pemuda hebat Indonesia yang diakui dunia. Bahkan, pengusaha farmasi asal Brunei Darussalam ikut merespon dan mengapresiasi.

“Itu temuan yang cerdik dan pintar sudah berabad abad lamanya Nusantara mengonsumsi terasi kok sekarang baru temukan obat ajaib. Ini penemuan spektakuler. Saat yang lain hanya bicara terasi sebagai bagian dari bumbu masak, beliau mampu membuat terobosan menjadi sebuah obat kulit. Ya, patutlah kita beri apresiasi,” kata Datuk Mohamed Yosuf Al Haj, pengusaha Brunei yang malam ini tengah mengikuti acara Konvensi di kota Solo, Jawa Tengah pada wartawan, Minggu (13/10).

BACAAN LAINNYA

Tidak ada Konten yang Tersedia

Menurut Datuk, sudah sepantasnya jika Pemerintah Indonesia memberi perhatian khusus atas temuan ini. Karena, saat dunia pasar bebas sudah diberlakukan seperti saat ini, kekayaan intelektual yang sekiranya memberi manfaat ekonomi kedepannya harus ditampung dan dikembangkan.

“Itu hal kecil tapi bisa berdampak luar biasa. Bila dikembangkan, sangat mungkin memberi wadah bagi tenaga kerja yang cukup besar. Selain tentunya, mempunyai nilai ekonomis makro,” ungkap Datuk,

Ja’far juga satu-satunya pemuda dari Asia yang mendapat medali emas pada acara CSITF (China Shanghai International Exhibition Of Inventions) ketujuh yang telah berlangsung pada 16-02 Juli 2019 di Shanghai World Expo Exhibition & Convention Center beberapa waktu yang lalu. Ja’far juga mendapat WIIPA Special Award World Invention Intelektual Property Association di CSITF.

CSITF merupakan acara penting yang disetujui oleh dewan negara, diselenggarakan bersama oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Sains dan Teknologi, Kantor Kekayaan Intelektual Negara dan Pemerintah Kota Shanghai.

Datuk menilai, jika sekelas China Shanghai International Exhibition of Inventions (CSITF) dan WIIPA Special Award World Invention Intelektual Property Association saja sudah mengakui temuan dan keilmuan Ja’far, maka sepatutnya ada pihak yang memfasilitasi dari temuan tersebut.

Memang diakui Ja’far, pihaknya pernah diundang oleh Menteri Koperasi Dan UKM RI Drs.Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga terkait prestasi yang telah mengalahkan 193 negara di dunia di bawah PBB dalam event CSITF di Cina beberapa bulan lalu.

“Tapi sejauh ini belum ada pembicaraan detail tentang produksi obat secara masal dengan beliau. Ya, masih terbatas memberi ucapan selamat saja belum ada yang memberikan apresiasi hadiah Juara Dunia dari Pemerintah Indonesia,”terang Ja’far. 

Justru, kata Ja’far, sejak ia tampil di sebuah acara di televisi mulai banyak yang mengontak lewat Ig,Twitter, Fb, dan Whatshap sampai tidak terlayani lagi.

“Sudah banyak yang kontak, bahkan ada ribuan yang hendak minta dan membeli obat ini kebanyakan dari Luar Negri. Sayangnya, saya masih mengerjakannya secara konvesional, sehingga belum dapat memproduksi secara masal karna tidak ada apresiasi pemerintah indonesia terkait prestasi ini,” terang Ja’far.

Diakui Ja’far, sudah ada beberapa pihak koorporasi yang sudah menghubungi, namun sejauh ini belum ada yang cocok.

“Alasannya, karena saya ingin, jika Allah berkehendak untuk dibuatkan pabrik, biarlah diisi oleh putra-putri negeri ini saja, tak perlu harus tenaga kerja asing. Itu niat dan harapan saya,” pungkas Ja’far, yang kini tengah sibuk menjadi Duta Santripreneur Indonesia mempersiapkan agenda Santri Enterpreneurship di Sumatera Utara.

Sumber: Okezone

Loading...

BERITA LAINNYA

Selanjutnya

KOMENTAR

jasa seo terbaikcheap smm panelTraffic Bot