Kamis, 20 Februari 2020
Kamis, 20 Februari 2020

Helm Pintar UMM Raih Penghargaan di Korsel

Inovasi mahasiswa UMM meraih medali perunggu di ajang inovasi tingkat dunia di Seoul

 MALANG — Inovasi garapan mahasiswa Fakultas Teknik sukses meraih medali perunggu di ajang inovasi tingkat dunia, Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019. Inovasi tersebut berupa helm pintar yang dinamakan IOSHEL (Iot Smart Helmet).

Mahasiswa UMM Tito Setyawal Putra dan Dwi Puji Laksono menjelaskan, kehadiran IOSHEL pada dasarnya bermula dari keprihatinan yang terjadi di sekitarnya. Hal ini terutama mengenai banyaknya kecelakaan lalu lintas yang tidak segera tertangani para pengguna kendaraan roda dua. “Maka itu, kita membuat helm pintar yang secara otomatis mengirim koordinat Global Positioning System (GPS) saat pengendara mengalami kecelakaan lalu lintas,” ujar Tito.

Berdasarkan data Global Status Report on Road Safety (WHO, 2015), lebih dari 1,25 juta korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas setiap tahun di dunia. Kemudian sekitar 50 juta di antaranya mengalami luka berat. Dari jumlah ini, 90 persen kecelakaan terjadi di negara berkembang di mana sebanyak 54 persennya merupakan jumlah kendaraan yang terdaftar di dunia. 

BACAAN LAINNYA

“Kecelakaan lalu lintas ini menjadi pembunuh terbesar kedua di dunia,” katanya.

WHO juga menyebutkan, transportasi roda dua paling sering mengalami kecelakaan. Bahkan, kecelakaannya acap tidak diketahui sehingga tidak bisa tertolong dengan cepat. Oleh sebab itu, diperlukan inovasi yang diharapkan para petugas bisa segera menemukan dan melakukan penanganan korban kecelakaan.

Mengenai inovasinya, Tito menjelaskan, helm dilengkapi dengan sollarcell. Bagian ini dijadikan sebagai pengisian daya dengan menggunakan sistem seperti ponsel. Kapasitas baterainya sebesar 1.100 MAh dengan daya tahan sekitar 24 jam ketika digunakan dalam berkendara. 

“Kami berharap IOSHEL ini dapat diproduksi masal oleh perusahaan di Indonesia,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika, Jumat (6/12).

Adapun cara kerjanya, helm secara otomatis akan mengirimkan koordinat GPS ke aplikasi Telegram dan SMS. Kemudian helm akan mengirim data berupa koordinat lokasi kecelakaan dengan tiga indikator. Indikator tersebut yakni getaran, kemiringan, dan percepatan. 

“Lalu lokasi kendaraan akan segera diketahui,” ucapnya.

Meski telah berhasil, Tito mengaku, masih menemukan kendala selama perakitan alat. Pertama, tentang keilmuan elektronika dan pemrogaman yang harus dipelajari secara mendalam. Lalu terkait beberapa komponen yang tidak ada di Indonesia sehingga ia harus pesan dari luar negeri.

Sumber: Republika

Loading...

BERITA LAINNYA

Selanjutnya