Rabu, 19 Februari 2020
Rabu, 19 Februari 2020

Tradisi Wayang Potehi, Kesenian Tionghoa yang Semakin Sulit Ditemui

JIKA masyarakat Indonesia memiliki kesenian daerah seperti wayang golek dan wayang kulit, maka masyarakat Tionghoa juga mempunyai tradisi wayang potehi.

Saat ini tradisi kesenian Tionghoa tersebut mulai terkikis oleh zaman. Bahkan kaum Millenial akan merasa kesulitan apabila ingin menyaksikan wayang potehi.

Salah satu dalang wayang potehi, Sugiyo Waluyo Subur atau yang lebih dikenal sebagai Dalang Subur adalah orang yang terus melestarikan tradisi yang hampir punah tersebut. Menurutnya, pementasan wayang potehi biasanya dengan judul cerita yang berkaitan dengan binatang.

Dalam acara Festival Imlek yang berlangsung sejak beberapa hari lalu, Dalang Subur memainkan wayang potehi dengan cerita ‘Sam Hai Lam Tong’ yang telah ditulis sejak lama. Satu kali pertunjukkan berlangsung selama satu jam dan ceritanya harus tamat sampai hari terakhir.

BACAAN LAINNYA

Ilustrasi. Foto: Istimewa/Intagram Metduck 

Kepada Okezone, Dalang Waluyo mengatakan bahwa dirinya telah belajar menjadi seorang dalang sejak 1974 tepatnya ketika ia masih menginjak Sekolah Dasar (SD).

“Langsung terjun ke potehi karena wilayah Pecinan dan klenteng yang punya aktivitas potehi gitu. Antusias untuk ini (wayang potehi) sedikit, regenerasi pun susah padahal tidak dipungut biaya. Satu sesi durasi selama satu jam, paling menggunakan empat sampai lima karena banyak dialog,” terang Dalang Waluyo.

Tantangan menjadi seorang dalang potehi yakni dalam hal bersuara. Seorang dalang harus bisa mengeluarkan suara pria, setengah muda sementara perempuan ada yang tua muda dan anak kecil. Selain itu seorang dalang juga harus bisa merawat boneka wayangnya dengan baik mengingat harganya yang tidak murah.

“Tidak ada yang susah untuk merawat boneka. Harga bonekanya lumayan mahal. Jadi kalau beli di tempat yang berbeda-beda dan tidak hanya di satu tempat. Kalau baju dan topi ya beli sendiri,” lanjutnya.

Tentunya sebelum pentas, seorang dalang potehi memiliki ritual khusus yang harus dijalani. Sebagai salah satu seniman yang mewarisi penuh tradisi leluhur, Dalang Waluyo pun taat untuk melakukan ritual.

“Semua pertunjukkan wayang ada ritual hanya saja caranya lain. Kalau saya mengikuti senior dahulu. Setiap mau tampil selalu bakar kim cua (kertas emas). Kalau menurut mereka izin sama yang punya daerah dan karena pasti ada sejarahnya. Kain lima warna juga harus ada. Takutnya pertunjukkan gagal karena ada angin atau hujan sampai tidak bisa main,” tuntasnya.

Sumber: Okezone

Loading...

BERITA LAINNYA

Selanjutnya

KOMENTAR

jasa seo terbaikcheap smm panelTraffic Bot