Jumat, 26/04/2024 - 04:32 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EROPAINTERNASIONALNASIONAL

Eks Anak Buah SBY Sebut Jokowi Gagal Jadi Juru Damai Rusia-Ukraina

ADVERTISEMENTS

BANDA ACEH – Presiden Joko Widodo atau Jokowi dinilai gagal menjadi juru damai Rusia dengan Ukraina. Menurut Wakil Menteri Luar Negeri era SBY, Dinno Patti Djalal belum ada terobosan yang dilakukan Jokowi dalam misi damainya ke Ukraina dan Rusia pekan ini.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

“Menurut saya kalau ukurannya adalah misi perdamaian, maka kita harus jujur menyatakan kunjungan (Jokowi) ke Ukraina dan Rusia ini belum mencapai terobosan,” kata Dinno melalui pernyataan resminya.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

Penilaian dari Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu berdasarkan pada respons Jokowi usai membahas misi perdamaian. Menurutnya, saat Jokowi bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Zelensky menyambut baik. Sambutan baik itu berupa titipan pesan Zelensky melalui Jokowi untuk disampaikan ke Presiden Rusia Vladimir Putin.

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

“[Zelensky] juga menyatakan menghargai posisi dan sikap dan upaya Presiden Jokowi ya,” ujar Dino.

ADVERTISEMENTS

Namun hal serupa tak tergambar saat Jokowi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow.

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil
Berita Lainnya:
Puluhan Ribu Warga Pulau Bawean Masih Mengungsi Akibat Gempa Tuban

“Presiden Putin dalam Konferensi pers sama sekali tidak menyebut mengenai misi perdamaian dan yang dirujuk hanya mengenai hubungan ekonomi Indonesia-Rusia.” tuturnya.

Putin memang sempat menyinggung soal Ukraina dalam konferensi persnya. Namun, bukan terkait misi damai, melainkan ekspor gandum pemerintahan Kyiv.

“Jadi dari segi misi perdamaian, saya tidak melihat adanya terobosan karena kalau misi perdamaian itu berarti konsep perdamaian diterima oleh kedua pihak, baik Ukraina maupun Rusia,” jelas Dino lagi.

Di luar itu, Putin terus melanjutkan aksi militer dan perang di negara tetangganya.

Meski demikian, Dino menyarankan agar RI tak berkecil hati. Apalagi, upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara lain yang mendorong negosiasi juga macet.

“Tak ada terobosan yang signifikan, dan juga Presiden Turki [Recep Tayyip] Erdogan pun yang melakukan upaya fasilitasi atau mediasi antara Rusia dan Ukraina juga belum mencapai terobosan,” tegas dia.

Usai lawatan Jokowi di Eropa, publik juga bertanya-tanya apakah misi damai RI dan berlanjut dan serius. Dino menilai jawaban ini hanya bisa direspons pemerintah.

Berita Lainnya:
Bocil Pembunuh Anggota TNI Gagal Kabur ke Palembang, Diringkus ketika Makan di Cilegon

Lebih jauh ia menerangkan, jika memang Indonesia serius dan ingin melanjutkan misi ini maka harus ada langkah-langkah berikutnya.

“Karena proses perdamaian di manapun di dunia ini memerlukan sikap yang konsisten dan persisten, yang gigih tidak ada perdamaian yang tercapai hanya dalam satu kunjungan, atau dalam satu hari ya atau 2 hari ya,” terangnya.

Ia lalu memberi contoh upaya Indonesia dalam mendamaikan konflik di Kamboja yang memakan waktu bertahun-tahun. Dino mengusulkan agar pemerintah menunjuk tim khusus yang fokus melakukan tindak lanjut yang digarap Jokowi selama lawatannya dalam ke Rusia dan Ukraina.

Selain itu, ia menyarankan RI membuka komunikasi dengan pihak lain di dunia internasional yang turut terlibat dalam misi damai.

Jokowi telah melakukan kunjungan ke Ukraina dan Rusia pada pekan ini. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyebut kunjungan itu membawa misi damai di tengah perang yang berkecamuk di Eropa Timur.

Namun, sejumlah pengamat menilai kunjungan itu menekankan pasokan pangan dan demi menyukseskan acara G20, yang diketuai Indonesia.

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi