IndonesianArabicEnglishRussianGermanChinese (Simplified)JapaneseTurkish

Merangkul Fenomena Citayam Fashion Week dengan Penguatan Moral

Merangkul Fenomena Citayam Fashion Week dengan Penguatan Moral
Bagikan

Bagikan Artikel Ini

atau salin tautannya

Ruang kebebasan berekspresi yang kita percayakan kepada generasi muda jadi kebablasan

Penulis:KH Nurul Badruttamam, S.Ag., M.A, Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

Fenomena Citayam Fashion Week resmi ditutup hari ini. Setidaknya informasi ini telah beredar di lini masa. Citayam Fashion Week beberapa waktu lalu berhasil mencuri perhatian dari kalangan pengguna media sosial. Kemunculan anak-anak muda dari daerah penyangga Jakarta yang kemudian viral dengan sebutan SCBD (Sudirman, Citayam, Bojong Gede dan Depok) menjadi perbincangan hangat karena kiprah muda-mudi yang berpakaian nyentrik dalam membuat konten kreatif dan berlenggak lenggok menirukan peragaan busana layaknya model Internasional.

Kreativitas muda-mudi ini tentu saja patut kita apresiasi, di tengah dinamika perkembangan teknologi informasi yang begitu hebatnya, generasi ini berhasil menaklukkan teknologi bukan hanya sebagai penggunanya saja. Mereka ambil bagian sebagai konten kreator yang kemudian menjadi hype dan menjadi trend di masyarakat.

BACA JUGA:
Mampukah Kejahatan Korporasi Industri Farmasi Dijerat Hukum Pidana?


Sebut saja Jeje, Bonge, Kurma, Roy dan lainnya yang berhasil menjadi seleb Instagram maupun tiktok dan berhasil mendapatkan popularitas juga penghasilan dari konten yang mereka ciptakan. Apresiasi juga datang dari berbagai kalangan, tak terkecuali Presiden Jokowi, menurutnya kegiatan tersebut justru harus didukung dan didorong selama sifatnya positif serta tidak melanggar hukum.

Memetakan Masalah Fenomena Citayam Fashion Week

Saya berkesempatan merasakan langsung suasana Citayam Fashion Week ketika saya melipir ke Dukuh Atas dan melihat langsung bagaimana muda-mudi usia belasan tahun saling beradu gaya di zona yang jadi buah bibir semua kalangan juga media. Tentu saya dibuat takjub dengan kreatifitas dan gaya mereka.

Di sisi lain saya juga sangat terpukul sekaligus prihatin, miris melihat muda-mudi saling merangkul bebas, dan “maaf” saling bercumbu tanpa batas tanpa menghiraukan lagi norma dan adat ke-Indonesiaan kita. Bagaimana mungkin, ruang kebebasan berekspresi yang sudah kita percayakan kepada generasi kita menjadi teramat kebablasan.

BACA JUGA:
Mampukah Kejahatan Korporasi Industri Farmasi Dijerat Hukum Pidana?

Banyak sekali pertanyaan bergelayut di benak saya, apalagi membayangkan fenomena Citayam Fashion Week yang kabarnya saat ini mulai menjamur dan dicopy di berbagai daerah lainnya. Adakah norma dan batasan yang masih terjaga sebagaimana budaya dan ajaran agama yang selama ini kita percaya.

Jika kita tilik lebih jauh, kelompok “SCBD” ini terdiri dari remaja yang berusia kisaran belasan tahun dan memiliki kondisi status sosial yang rendah serta putus sekolah. Sehingga ketika tawaran untuk merasakan kembali bangku pendidikan, di saat iming-iming kemandirian finansial yang menghampiri, tentu saja mereka lebih memilih untuk mandiri finansial daripada kembali ke bangku sekolah yang dulu pernah gagal dicapainya.

0
senang
Senang
0
sedih
Sedih
0
marah
Marah
0
waduh
Waduh
0
sakit
Sakit
Merangkul Fenomena Citayam Fashion Week dengan Penguatan Moral
Masuk Login

Log in or create an account now to take advantage of its privileges, and it's completely free!