Alarm G 30 S/PKI Bagi Generasi Milenial

Alarm G 30 S/PKI Bagi Generasi Milenial
Muralis menggambar wajah Pahlawan Revolusi yang gugur pada peristiwa G30S PKI. (ilustrasi). FOTO/ANTARA/Raisan Al Farisi
Bagikan

Bagikan Artikel Ini

atau salin tautannya

Generasi milenial harus mengetahui dan tidak salah memahami sejarah G30S PKI.

Penulis: M. Nasir Djamil**

LIMA puluh tujuh tahun silam, langit  biru Indonesia berubah menjadi hitam pekat. peristiwa di tahun itu menjadi lembaran hitam perjalanan sejarah bangsa ini.

Kekuatan politik yang bernama Partai Komunis Indonesia (PKI), melakukan kudeta kekuasaan dan ingin mengganti ideologi pancasila menjadi ideologi komunis.

Tidak itu saja, dalam rangka memuluskan ambisinya, PKI juga membunuh  dengan kejam dan sadis sejumlah jenderal dan perwira, bahkan seorang bocah perempuan  yang tak berdosa bernama Ade Irma Suryani Nasution, juga meninggal akibat terkena tiga butir peluru yang dimuntahkan oleh pasukan cakrabirawa yang dipimpin oleh Kolonel Untung.

Sang ayah yang tak lain Jenderal Abdul Haris Nasution lolos dari maut. Tapi nasib yang berbeda dialami oleh Jenderal Ahmad Yani , Mayjen R Suprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.

BACA JUGA:
Tingkatkan SDM Berkualitas, Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Setelah dibunuh, jasad mereka ditimbun bersamaan di sebuah tempat bernama lubang buaya. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan pahlawan revolusi.

Menariknya sejarah kelam pembantaian sadis ini dikemas dalam sebuah film yang berdurasi selama hampir empat jam, Film ini mampu menjadi alat untuk meyakinkan dan membuat masyarakat percaya bahwa kudeta yang dilakukan pada tahun 1965 adalah ulah dari PKI dan PKI adalah sekelompok manusia yang kejam karena melakukan kekerasan terhadap para masyarakat dan puta-putri terbaik bangsa.

Kontroversi pun lahir setiap tahunnya dari penayangan film ini Ketika mendekati 30 September.

Begitupun, saya ingin menghadapkan tulisan ini kepada generasi milinial. Angkatan yang saat ini memiliki jumlah mayoritas. Bahkan jumlah mereka  akan makin  bertambah saat Indonesia menghadapi bonus demografi di tahun 2030 mendatang.

BACA JUGA:
Mampukah Kejahatan Korporasi Industri Farmasi Dijerat Hukum Pidana?

Membekali generasi milinial dengan aspek sejarah tentu sangat dibutuhkan. Sebab itu menyangkut dengan kesadaran dan persiapan mereka memasuki era disrupsi. Jujur kita akui bahwa selama ini upaya membekali angkatan milinial dengan nilai-nilai sejarah masih belum masif dan sistematis.

Dalam konteks G 30 S PKI, bahwa peristiwa itu harus diambil nilai sejarah dan kemanusiaannya  oleh anak-anak muda milenial. Di antara nilai-nilai itu adalah di bidang ideologi PKI, PKI melancarkan upaya, perubahan yang mendasar terhadap pancasila, PKI berusaha mengganti sila pertama, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan rumusan “kemerdekaan beragama” seperti yang telah dikemukakan oleh Njoto dalam sidang-sidang konstituante pada tahun1958. Menurut PKI tidak semua masyarakat Indonesia beragama monotheis, banyak di antaranya yang beragama politheis, bahkan ada yang tidak beragama sama sekali.

0
senang
Senang
0
sedih
Sedih
0
marah
Marah
0
waduh
Waduh
0
sakit
Sakit
Alarm G 30 S/PKI Bagi Generasi Milenial
Masuk Login

Log in or create an account now to take advantage of its privileges, and it's completely free!

Follow us