Sabtu, 25/05/2024 - 12:02 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Mengapa Perempuan di Atas 50 Tahun Lebih Rentan Kena Osteoporosis?

Osteoporosis disebut silent disease karena tidak menimbulkan gejala.

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

JAKARTA — Dokter spesialis bedah tulang Oryza Satria mengatakan perempuan yang memasuki usia di atas 50 tahun dan sudah mengalami menopause lebih rentan mengalami osteoporosis. Terlebih, jika orang tersebut memiliki massa tulang yang rendah.

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

“Apalagi kalau di masa mudanya orang-orang itu kurang aktivitas fisik, kemudian indeks kalsium dan proteinnya itu kurang, di bawah rekomendasi,” kata dokter dari RSUP Fatmawati itu dalam bincang virtual, dikutip Jumat (21/10/2022).

Dr Satria mengatakan kondisi osteoporosis berisiko terjadi pada perempuan di atas 50 tahun atau lebih dari 60 tahun yang sudah menopause karena berkaitan dengan penurunan level hormon estrogen yang berpotensi terjadinya penurunan massa tulang. Massa tulang yang rendah dapat meningkatkan seseorang mengalami osteoporosis.


Dr Satria menyebut bahwa kepadatan tulang tertinggi seseorang terjadi di antara usia 20 sampai 40 tahun. Oleh sebab itu, orang dewasa seharusnya bisa mencapai massa tulang yang maksimal di periode emas tersebut sehingga dapat terhindar dari osteoporosis di masa tua.

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh
Berita Lainnya:
Dokter Spesialis Ungkap Fase Kritis Bagi Pasien Demam Berdarah

“Kalau bisa, sebisa mungkin kita harus mencapai big bone mass di usia itu sebagai “tabungan” kita nanti di masa tua,” ujarnya.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action


Penurunan kepadatan tulang tidak akan terhindarkan, terutama pada wanita usia 50-60 tahun ke atas yang sudah mengalami menopause. Dr Satria menganjurkan agar seorang perempuan yang berusia di atas 50 tahun, apalagi di atas 60 tahun, dan sudah menopause untuk skrining atau memeriksakan kondisi kepadatan tulang (bone density test atau bone mineral density test).

Pemeriksaan kepadatan tulang akan melibatkan tulang belakang, tulang panggul, dan tulang tangan. Dari situ, dokter akan menilai normal-tidaknya dan kesesuaiannya dengan usia.

ADVERTISEMENTS


“Apakah osteopenia atau kepadatan tulangnya rendah, apakah osteoporosis. Nanti tergantung dokternya mau memberikan terapi apa,” jelas dr Satria.

ADVERTISEMENTS

Orang yang mengalami patah tulang pada pergelangan tangan di usia lebih dari 50 tahun juga direkomendasikan untuk menjalani skrining. Patah tulang pada pergelangan tangan di atas usia 50 tahun dapat menjadi prediktor terjadinya patah tulang di bagian lain seperti tulang belakang dan tulang panggul yang berkaitan dengan osteoporosis.

Berita Lainnya:
Pertanyaan di Tempat Kerja yang Seolah 'Menghakimi' Seseorang Tentang Usia

“Jadi tujuan skrining itu adalah mengetahui faktor risiko,” kata dr Satria.


Lebih lanjut, dr Satria juga mengingatkan agar orang menjaga diri agar tidak sampai jatuh. Kondisi rumah dan tempat kerja harus dimodifikasi jika sudah terdeteksi terjadinya osteoporosis.

sumber : Antara

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi