Selasa, 21/03/2023 - 18:13 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

UPDATE TERBARU

ISLAM

Ciri Tasawuf Adalah Selalu Mendekatkan Diri kepada Allah

Pelaku tasawuf menjadikan pekerjaannya sebagai alat untuk bertakwa kepada Allah.

JAKARTA — Orang-orang yang menempuh jalan tasawuf senantiasa memfokuskan diri untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Pengasuh Pondok Pesantren Suniyyah Salafiyah Pasuruan, Jawa Timur yang juga ketua umum Rabithah Alawiyyah, Habib Taufiq bin Abdul Qadir bin Husein Assegaf saat mengisi kajian kitab Fushulul Ilmiyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad beberapa waktu lalu mengatakan sebagaimana menukil keterangan Imam Junaid bin Muhammad (Junaid Al Baghdadi) bahwa menempuh jalan tasawuf bukanlah dari pandai berbicara atau juga sekedar mendengarkan orang berbicara (memberi nasihat).  Melainkan menempuh tasawuf itu dari banyaknya lapar (puasa), qiyamullail (beribadah di malam hari) dan meninggalkan dunia walaupun itu adalah halal. Selain itu menempuh tasawuf juga melalui jalan memutus segala yang disenangi oleh diri meskipun itu tak dilarang.

“Semua sederhana, waktunya digunakan untuk ibadah, malamnya untuk qiyamullail, siangnya untuk puasa, kalau tidak ada untuk puasa dia tidak pernah kenyang, inilah tasawuf,” kata Habib Taufiq dalam kajian Fushulul Ilmiyah yang juga disiarkan melalui kanal resmi YouTube Pondok Pesantren Suniyyah Salafiyah, Sunsal Media, beberapa hari lalu. 

BACAAN LAIN:
Adab Berziarah ke Makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi

Habib Taufiq mengatakan tasawuf dari kata sofa berarti bersih. Sebab orang-orang yang berjalan dalam tasawuf memfokuskan untuk membersihkan hatinya (tashfiyatul qalb). Selain itu tasawuf juga adalah bersikap zuhud pada dunia sebagaimana ashabus suffah atau para sahabat yang senantiasa beraktivitas di masjid Nabawi dan membersamai Rasulullah. Para ashabus suffah hidup sederhana dan selalu menahan lapar namun begitu bersemangat dan menjadi orang yang awal dalam beribadah. Selain itu Habib Taufiq mengatakan tasawuf juga berarti akhlak yang bagus. Semakin bagus akhlak seseorang maka semakin dia menjadi seorang sufi. 

“Jadi (tasawuf) bukan berpenampilan kumuh, bukan berpenampilan rambutnya gondrong, tasbihnya panjang tapi tak peduli dengan akhlak dan hati penuh dengan dendam, kesumat, hasud, cinta dunia dan lainnya apalagi ditambah makan haram, menipu, makan harta anak yatim dan hak orang lain, maka jangan anggap itu bernilai tasawuf di sisi Allah,” kata Habib Taufiq.

BACAAN LAIN:
Farhan As-Sa'di Pejuang Palestina yang Dihukum Mati Pasukan Inggris

Habib Taufiq mengatakan Rasulullah SAW pernah menggambarkan bahwa ada orang yang bersikap seperti sufi. Rambutnya tidak teratur, pakaiannya kumuh, dan tangannya selalu mengangkat ke langit berdoa Tuhannya. Tapi dia tidak mempedulikan makanannya dan minumannya yang haram, pakaiannya haram. Karena itu menurut Habib Taufiq seseorang bisa dikatakan sufi kalau sudah tidak mencintai dunia. Seorang sufi menjadikan pekerjaannya sebagai alat untuk bertakwa kepada Allah. Menjadikannya dunia untuk ladang akhirat. 

“Meninggalkan dunia berat tetapi kehilangan kebahagiaan akhirat lebih rugi lagi. Untuk mendapatkan akhirat ada maharnya, maharnya untuk dapat surga (yaitu) tarkul dunnya (meninggalkan dunia),” katanya.

 

 

 

Sumber: Republika

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi
Click to Hide Advanced Floating Content

Click to Hide Advanced Floating Content