Rabu, 24/04/2024 - 09:35 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EKONOMIPERTANIAN

Peragi: El-Nino Bakal Tekan Produksi Beras, Siapkan Mitigasi

ADVERTISEMENTS

 BOGOR — Kemarau ekstrem El-Nino yang akan memasuki puncak pada semester kedua 2023 diyakini bakal mempengaruhi tingkat produksi gabah hingga beras dalam negeri. Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) meminta pemerintah untuk menyiapkan mitigasi secara tepat demi meminimalisasi dampak yang dapat ditimbulkan. 

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

Ketua Umum Peragi, Andi Muhammad Syakir, mengatakan, anomali iklim secara langsung akan berdampak pada performa produksi pertanian di Indonesia, tak terkecuali beras. Di saat bersamaan, surplus produksi beras terhadap konsumsi cukup kecil sehingga Indonesia tak memiliki ruang cadangan beras yang besar. 

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

“El Nino yang berat dan sedang pasti berdampak ke produksi. Cuma sejauh mana dampaknya? Ini yang perlu kita lihat. Anomali iklim ini juga sudah sering terjadi di Indonesia. Musim kemarau (biasa) saja berpengaruh,” kata Syakir dalam Focus Group Discussion Peragi di Bogor, Kamis (6/7/2023). 

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah
Berita Lainnya:
Bea Cukai Kupang Dampingi Pelaku Usaha Lakukan Ekspor Langsung

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan puncak El Nino kemungkinan akan terjadi pada bulan Agustus mendatang dengan level lemah hingga sedang. 

ADVERTISEMENTS

Meski demikian, intensitas anomali iklim kering di setiap daerah bakal memiliki level berbeda. Oleh karena itu, Syakir menegaskan, tanggung jawab terhadap mitigasi El Nino harus dipahami oleh pemerintah pusat hingga lokal. 

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi gabah kering panen (GKP) dalam tiga tahun terakhir memang surplus dengan level fluktuatif. Pada 2020 lalu, produksi GKP mencapai 54,6 juta ton lalu 2021 turun menjadi 54,4 juta ton dan kembali naik menjadi 54,7 juta ton tahun 2022 lalu. 

Berita Lainnya:
Airlangga Tegaskan Pendistribusian Perlinsos Dilaksanakan secara Transparan dan Akuntabel

Meski demikia, kata Syakir, pencapaian surplus produksi dengan iklim yang relatif baik nyatanya belum memperlihatkan peningkatan signifikan. “Dengan mitigasi adaptasi yang tepat, pemerintah paling tidak harus mampu mempertahankan produksi nasional karena jumlah penduduk yang terus meningkat,” ujarnya. 

Tantangan peningkatan konsumsi pun harus dipikirkan pemerintah. Meski ia meyakini laju pertambahan konsumsi beras tidak akan signifikan. Karenanya, kampanye diversifikasi pangan yang dijalankan Badan Pangan Nasional perlu terus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap beras sebagai pangan pokok. 

Syakir menambahkan, upaya-upaya mitigasi seperti perbaikan irigasi hingga pemetaan wilayah lahan rawa memang telah dilakukan pemerintah. Namun, yang masih menjadi tugas pemerintah yakni sejauh mana strategi tersebut dapat meyakinkan pasar perberasan agar tidak terjadi gejolak sekaligus menyiapkan petani menghadapi kemarau ekstrem. 

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi