Selasa, 21/05/2024 - 20:18 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

NASIONAL
NASIONAL

Perang Iran-Israel Bisa Picu Kenaikan Harga Minyak Sampai 120 Dolar AS per Barel

Seorang warga Iran berjalan melewati spanduk anti-Israel yang memuat gambar rudal Iran, di Teheran, Iran.

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

 JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai eskalasi konflik Iran-Israel berdampak kepada sejumlah sektor, salah satunya harga minyak dunia. Terlebih, konflik tersebut diproyeksikan masih akan berlanjut hingga pemilihan presiden Amerika Serikat pada akhir tahun ini. 

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

Associate Indef Asmiati Malik mengatakan asumsi harga minyak saat ini berada pada wave empat. “Ini adalah masa ketika kemudian harga minyak itu menurun mengalami dikoreksi,” kata Asmiati dalam diskusi Indef, Sabtu (20/2/2024). 

Meskipun begitu, Asmiati mengingatkan, setelah berada pada wave asumsi harga mintak akan menuju ke wave lima. Dalam tahapan tersebut, dia mengatakan harga minyak akan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. 

Berita Lainnya:
Indef Nilai Kenaikan Suku Bunga Pilihan Kebijakan yang Paling Aman

“Maka kemungkinan harga minyak dunia itu akan melampau 120 dolar AS per barel dan kalai kita kembali pada penganggaran subsidi kita itu akan sangat berdampak signifikan,” ucap Asmiati. 

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh

Terlebih, Asmiati menilai perang tersebut tidak akan berakhir dalam jangka pendek. Terutama sebelum pemilihan umum Amerika Serikat pada November 2024. 

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

Kenapa momen Pemilu AS penting? Kita harus melihat dari pendekatan internasional politik ekonomi, bahwa rezim itu tidak akan terjadi perubahan signifikan selama tidak ada perubahan siapa pemimpin utama di Amerika Serikat,” ungkap Asmiati. 

Jika nantinya Joe Biden atau Donald Trump yang nantinya akan bersaing di pemilihan tersebut, dia menilai masing-masing tentu akan memiliki kebijakan yang berbeda. Dengan asumsi jika Joe Biden kemungkinan besar akan terpilih, Asmiati menyebut maka tidak akan terjadi perubahan signifikan terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. 

ADVERTISEMENTS

Untuk itu, dia mengatakan keberpihakan Amerika Serikat dan keinginan untuk bergabung dalam proxy war di Rusia, Ukraina, Iran, Palestina, dan Israel itu akan terus berlangsung. “Jadi dengan asumsi tersebut, perang ini eskalasinya mungkin akan terus berlanjut sampai kemudian pemilihan presiden Amerika Serikat. Oleh karena itu tentu dampaknya juga akan terus terjadi,” tutur Asmiati. 

ADVERTISEMENTS

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi