Minggu, 21/07/2024 - 21:10 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

NASIONAL
NASIONAL

Merenda Ulang Kejayaan Wangsa Bahari

 Oleh Salim*

Apapun keadaannya, rakyat miskin harus melihat dengan jelas yang harus diperjuangkannya untuk mempertahankan hidup, dan yang paling utama adalah mereka harus bebas dari ilusi-ilusi. Ilusi terburuk dalam sejarah yang dialami oleh rakyat miskin adalah ilusi ketergantungan pada orang lain atau bangsa lain.

Pengertian

Wangsa atau dinasti berarti kelanjutan kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh satu garis keturunan (keluarga yang sama). Dalam sejarah Indonesia banyak kerajaan di bumi Nusantara yang rajanya berasal dari satu garis keturunan yang sama, misalnya wangsa Sailendra pada Kerajaan Mataram Kuno, wangsa Bendahara pada Kesultanan Johor dan Kesultanan Riau-Lingga.

Suatu wangsa bisa jadi memerintah di lebih dari satu negara. Dewasa ini Wangsa Windsor bertahta tidak hanya di Britania Raya, tetapi juga di negara-negara persemakmuran, seperti Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Meskipun dikepalai oleh raja-raja dari wangsa yang sama, negara-negara seperti itu tidak selalu berbagi satu raja. Misalnya, Spanyol dan Prancis pernah diperintah oleh raja-raja dari wangsa Bourbon, tetapi tetap merupakan kerajaan terpisah dengan raja-raja yang berbeda pula.

Arab Saudi dikenal dengan wangsa Saud, Bahrain dikenal dengan wangsa Al Kalifa, Yordania dikenal dengan wangsa Hasyimiah, Monako dikenal dengan wangsa Grimaldi, Belanda dikenal dengan wangsa Oranje-Nassau, Swedia dikenal dengan wangsa Bernadotte, Thailand di kenal dengan wangsa Chakri, Jepang dikenal dengan wangsa Kekaisaran Jepang, dan Inggris dikenal dengan wangsa Windsor. Setiap bangsa memiliki garis keturunan wangsa tersendiri.

Berita Lainnya:
Rasulullah: Pemimpin yang tak Amanah Menyebabkan Kemiskinan

Ketika penulis membaca Babad Tanah Jawi, sejarah kemaritman bangsa dan sumber lainnya bahwa bangsa Indonesia memiliki sebutan dengan wangsa Mataram maka penulis menyebutnya dengan sebutan wangsa Bahari. Hal itu berdasarkan karakter-karakter awal peradaban dan budaya bahari yang berada di Nusantara sebagai peradaban wangsa bahari.

Kaum Wangsa Bahari

Sejarah keperkasaan dan kejayaan nenek moyang kita di laut bukanlah romantisme masa lalu belaka. Marilah kita menjadikannya sebagai energi penggerak dan penyemangat generasi sekarang dan masa yang akan datang. Bentuk implementasinya, bukan hanya sekadar berlayar dan euforia membangun kemaritiman.

Tetapi, bagaimana bangsa Indonesia dapat memanfaatkan laut dan sumber daya yang terkandungnya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pembangunan bangsa dan untuk kemakmuran rakyat.

Kaum wangsa Bahari akan bergerak menuju perubahan yang dicita-citakan bersama dengan terus konsisten meneruskan pembangunan maritim, mencari pemimpin yang memiliki Ocean leadership dan berwawasan global, serta mengerti jati diri bangsa dengan memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dengan cara bagaimana? Imani dan gali terus akan kebenaran sejarah besar bangsa Indonesia yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta, bergabunglah dengan jiwa-jiwa yang tercerahkan dan pemimpin yang memiliki integritas akan menggunakan dan manfaatkan sebesar-besarnya sumber daya yang ada untuk kepentingan rakyat. Hal itu sesuai dengan amanah Pancasila dan UUD 1945 yang asli sebelum dibredel menjadi UUD 2002 sampai dengan sekarang.

Berita Lainnya:
Pidato Keir Starmer Usai Dilantik Raja Charles III Jadi Perdana Menteri Inggris

Mulai dari kita masing-masing, mulai dari tempat-tempat ibadah, mushola rumah, mushola desa, sekolah untuk membentuk ‘jejaring’ revolusi spiritual, justru karena kita sadar bahwa kita adalah bagian dari rakyat jelata yang tak memiliki senjata, uang, atau kekuasaan untuk mengatur militer, logistik perang, dan penyerbuan, tapi kita punya ‘sejengkal’ wilayah kekuatan, yakni menciptakan moment agar seluruh kekuatan semesta alam beserta kita.

Gunung, sungai, laut, gempa dan badai yang dapat meciptakan ‘kelumpuhan sistemik’ pada kekuatan bathil untuk tercerai berai di tengah puncak kekuatan teknologi pertahanannya. Mereka ‘diizinkan’ untuk merancang semua kelebihan power tadi tapi Allah lebih maha pandai untuk ‘mempermalukan’ kekuatan tiran semacam itu sebagai ‘nyamuk’ yang sebenarnya hanya mimiliki ‘ritme’ rasa hidup pendek, yaitu sembilan hari.

1 2

Reaksi & Komentar

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا الكهف [64] Listen
[Moses] said, "That is what we were seeking." So they returned, following their footprints. Al-Kahf ( The Cave ) [64] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi