Jumat, 19/07/2024 - 16:00 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

OPINI
OPINI

Pengaruh Simbol dalam Pendidikan Karakter

Penulis: Andhika Wahyudiono**

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto
Andhika Wahyudiono

SEKRETARIS Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengkritik tindakan Wakil Presiden terpilih periode 2024-2029, Gibran Rakabuming Raka, yang membagikan buku tulis bersampul foto anaknya, Jan Ethes, kepada anak-anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) Margorejo VI di Surabaya. Hasto berpendapat bahwa pemimpin yang bijak sebaiknya mendidik anak-anak dengan keteladanan melalui simbol-simbol pahlawan nasional. Kritik ini membuka diskusi penting mengenai pengaruh simbol dalam pendidikan karakter anak-anak.

Ketika Hasto Kristiyanto mengingat masa kecilnya, ia menyebutkan bahwa buku-buku yang ia terima saat itu bergambar pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta, dan Raden Ajeng Kartini. Simbol-simbol ini dipandang sebagai representasi dari nilai-nilai keberanian, kepemimpinan, dan pengorbanan yang dapat menjadi teladan bagi anak-anak. Pahlawan nasional memiliki peran penting dalam membangun identitas nasional dan menanamkan nilai-nilai moral serta patriotisme pada generasi muda. Dengan menghadirkan gambar-gambar pahlawan ini pada buku-buku sekolah, diharapkan anak-anak dapat terinspirasi dan belajar dari kisah hidup para pahlawan tersebut.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Gibran Rakabuming Raka berfokus pada penggunaan gambar Jan Ethes, cucu Presiden Joko Widodo, sebagai sampul buku. Penggunaan gambar anggota keluarga pejabat publik dalam materi pendidikan dapat dianggap kurang tepat karena dapat mengaburkan batas antara kepentingan publik dan pribadi. Sebagai figur publik, tindakan Gibran yang membagikan buku dengan gambar anaknya dapat dilihat sebagai upaya membangun citra pribadi atau keluarga di ruang publik yang seharusnya netral dan edukatif.

Selain itu, tindakan ini menimbulkan pertanyaan tentang pesan apa yang ingin disampaikan kepada anak-anak melalui simbol-simbol tersebut. Apakah gambar Jan Ethes, yang meskipun menggemaskan, dapat memberikan teladan yang sama kuatnya dengan gambar pahlawan nasional yang telah teruji oleh sejarah? Dalam hal ini, simbol-simbol memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi dan nilai-nilai anak-anak. Gambar pahlawan nasional tidak hanya mengenalkan sejarah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan pengabdian.

Namun, di sisi lain, tindakan Gibran juga dapat dilihat dari perspektif yang lebih positif, yaitu sebagai upaya mendekatkan diri dengan masyarakat. Dengan membagikan buku, susu, dan gantungan kunci, Gibran berusaha menunjukkan kepedulian dan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Anak-anak yang menerima hadiah tersebut mungkin merasa dihargai dan diperhatikan oleh figur publik yang mereka kenal.

Untuk mengatasi kritik ini, penting bagi pemimpin dan pejabat publik untuk mempertimbangkan dampak simbolik dari tindakan mereka. Penggunaan simbol dalam materi pendidikan harus diarahkan untuk mendukung tujuan pendidikan yang lebih besar, yaitu membentuk karakter dan nilai-nilai moral yang kuat. Dalam hal ini, simbol-simbol pahlawan nasional tetap relevan dan penting sebagai teladan yang dapat menginspirasi anak-anak.

Secara keseluruhan, kritik Hasto terhadap tindakan Gibran menyoroti pentingnya pemilihan simbol yang tepat dalam pendidikan karakter. Penggunaan simbol-simbol pahlawan nasional sebagai bahan pendidikan dapat membantu menanamkan nilai-nilai positif pada generasi muda. Namun, ada beberapa tantangan dan hambatan yang harus dihadapi dalam upaya ini.

Salah satu tantangan utama adalah bagaimana memastikan bahwa simbol-simbol yang digunakan dalam pendidikan benar-benar relevan dan mampu menginspirasi anak-anak. Tidak semua simbol pahlawan nasional mungkin memiliki resonansi yang sama bagi setiap generasi. Anak-anak masa kini hidup dalam konteks yang sangat berbeda dengan masa lalu, sehingga ada kebutuhan untuk memperbarui dan mengontekstualisasikan simbol-simbol tersebut agar tetap relevan dan inspiratif. Misalnya, cara pahlawan nasional disajikan dalam buku-buku dan materi pendidikan harus disesuaikan dengan gaya belajar dan minat anak-anak masa kini, termasuk penggunaan teknologi dan media digital.

Berita Lainnya:
Dikasih Kode Puan, Kaesang Berencana Sowan ke PDIP
1 2

Reaksi & Komentar

قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا الكهف [87] Listen
He said, "As for one who wrongs, we will punish him. Then he will be returned to his Lord, and He will punish him with a terrible punishment. Al-Kahf ( The Cave ) [87] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi