Minggu, 21/07/2024 - 20:13 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EKONOMISYARIAH

PR Besar Asuransi Syariah yang Belum Terpecahkan

 JAKARTA — Asuransi syariah memiliki prospek besar di Indonesia, berdasarkan data Maret 2024 aset asuransi dan reasuransi syariah secara CAGR naik 5,83 persen dengan total aset pada Maret 2024 sebesar Rp 45,10 triliun. CAGR merupakan singkatan dari compounded annual growth rate, yakni tingkat pertumbuhan per tahun selama rentang periode waktu tertentu.

Populasi Muslim di Indonesia yang besar juga menjadi potensi meningkatnya permintaan akan produk keuangan yang sesuai syariah. Oleh karenanya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong perusahaan asuransi syariah dan unit usaha syariah untuk terus mengembangkan fitur produk berbasis syariah dan tidak hanya mengganti “baju” produk konvensional dan memberi label “syariah”.

Penguatan terhadap lembaga syariah pun terus ditingkatkan antara lain penguatan struktur penguatan lembaga syariah melalui konsolidasi spin off. Hal itu termaktub dalam Peraturan OJK Nomor 11 Tahun 2023 (POJK 11/2023) tentang Pemisahan Unit Syariah Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. 

Ekuitas minimum tersebut dapat dipenuhi baik melalui penambahan modal dari pemegang saham, pertumbuhan perusahaan secara organik, atau melalui konsolidasi perusahaan. Ekuitas minimum sebesar Rp 100 miliar bagi unit syariah perusahaan asuransi, dan Rp 200 miliar bagi unit syariah perusahaan reasuransi.

Pendiri Karim Consulting Indonesia, Adiwarman A Karim mengingatkan, ketika perusahaan asuransi spin off maka akan ada banyak masalah yang tak bisa dihindari. Salah satunya adalah belum ada pemetaan yang jelas segmen mana yang akan menjadi target sasaran.

Berita Lainnya:
Bank Muamalat Jajaki Kerja Sama LPHU PP Muhammadiyah Soal Layanan Haji

“Permasalahan saat ini, asuransi syariah sebagian besar belum ada strategi yang jelas menyasar segmen mana, mau jadi champion di mana. Karena ketika spin off kan ibaratnya seperti kakak dan adik dengan perusahaan induk, tak bisa dihindari nantinya rebutan pasar dengan induk. Oleh karena itu, ada baiknya sebelum spin off sudah petakan sasaran yang bagus,” ujarnya dalam Free session For Islamic Insurance, Outlook 2024 yang diadakan Karim Consulting Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2024).

Adiwarman menambahkan dalam menyusun strategi, terdapat tantangan strategi produk berupa pemisahan pool of risk antara konvensional dan syariah yang menyebabkan  hukum bilangan besar dalam penghitungan aktuaria kurang menguntungkan bagi asuransi syariah. Akibatnya, nasabah asuransi syariah harus membayar premi lebih tinggi untuk mendapat benefit yang sama dan mendapat benefit yang lebih kecil untuk premi yang sama.

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemisahan pengelolaan investasi pool of tabaru fund syariah dengan pool cost of insurance covensional. Pool of risk dalam penghitungan aktuaria dilakukan secara keseluruhan sehingga nasabah syariah membayar premi yang sama untuk benefit yang sama dengan nasabah konvensional.

Berita Lainnya:
Kinerja Pertamina Patra Niaga: Volume Penjualan Naik 17 Persen Sepanjang 2023

“Tak hanya itu, peran skema insentif kepada agen yang diberikan perusahaan asuransi juga turut menentukan tingkat penjualan asuransi syariah,” kata dia.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Project Managing Director Karim Consulting Indonesia Rizal Arslan mengatakan hal yang sama. Menurutnya, saat ini pekerjaan rumah yang paling besar untuk asuransi syariah adalah belum memiliki fokus bisnis yang pas, lantaran masih selalu dibayangi oleh asuransi konvensional.

“Sekarang asuransi syariah masih belum fokus mau ke mana, masih ngambang, kadang-kadang ada yang masih saingan sama konvensional. Jadi belum ada strategi-strategi yang cukup pas, karena kan asuransi konvenvensional pasti ada syariahnya,” jelas Rizal.

Oleh karenanya dibutuhkan pemetaan strategi agar bisnis asuransi syariah dan konvensional mampu bertahan. Ia pun menjabarkan sejumlah strategi yang dapat dilakukan, pertama adalah dengan melakukan miroring, yakni menjadikan semua produk konvensional memiliki produk syariah, mengingat permintaan produk berlandaskan syariah yang terus meningkat.

“Sehingga itu bisa menjadi opsi bagi masyarakat nanti ada pilihan konvensional atau syariah, itu strategi pertama yaitu mirroring model. Jadi semua produk konvensional ada syariahnya, ada pilihan syariahnya, daripada ke syariah lain mendingan ke syariah anak perusahaan gitu,” jelasnya.

1 2

Reaksi & Komentar

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا الكهف [7] Listen
Indeed, We have made that which is on the earth adornment for it that We may test them [as to] which of them is best in deed. Al-Kahf ( The Cave ) [7] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi