Minggu, 21/07/2024 - 20:25 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LINGKUNGAN

El Nino Picu Krisis Pangan di Kawasan Selatan Afrika

 JAKARTA — Petani-petani di negara-negara di selatan Afrika mengalami kesulitan selama tiga bulan pertama 2024. Petani Malawi, Mozambik, Zambia, dan Zimbabwe mengalami kekeringan tidak biasa pada Februari dan musim hujan dengan curah hujan paling rendah dalam beberapa dekade.

Masalah-masalah ini mengakibatkan gagal panen dan memicu krisis pangan. Petani dari daerah tradisional Ngabu di selatan Malawi, Felix Phikamiso mengatakan, cuaca panas membuat ladang jagungnya mengering dan hujan pada pertengahan Maret juga merusak ladangnya.

“Tahun lalu, kami tidak panen karena sebagian besar ladang kami tersapu banjir badai Freddy, saya rasa penanaman tahun ini tidak akan menghasilkan sesuatu,” kata seperti dikutip Dialogue Earth, Jumat (14/6/2024).

Sementara itu di Provinsi Timur, Zambia, Janet Mwale, pasrah melihat jagung ia tanam di Desa Chipwaira layu dan mati. Pupuk tidak cukup menyelamatkan tanamannya.

“Kami tidak tahu bagaimana kami bisa memberi makan kami sendiri karena kami hanya mengandalkan pertanian, musim kemarau membuat kami kesulitan,” katanya kepada Dialogue Earth.

Fenomena alam El-Nino berperan besar dalam kekeringan parah tahun ini. Peristiwa alam ini terjadi ketika suhu permukaan Samudra Pasifik naik. El Nino mengubah pola cuaca di seluruh dunia, termasuk menurunkan curah hujan di kawasan selatan Afrika.

Apa yang terjadi kawasan selatan Afrika mencerminkan laporan lembaga pemantau ketahanan pangan Famine Early Warning Systems Network tahun 2023 lalu. Laporan itu memprediksi El Nino akan mengakibatkan panas berlebih dan menurunkan curah hujan di Malawi, Mozambique, Zambia, Afrika Selatan, Zimbabwe dan Madagaskar.

Berita Lainnya:
Bank Dunia Gelontorkan Dana Hibah Atasi Bencana Kekeringan di Zambia

Selain memperingatkan El Nino akan menurunkan panen di Malawi, Mozambik, dan Zimbabwe pada tahun 2024, laporan tersebut juga memperkirakan fenomena tersebut akan mendorong kerawanan pangan di Afrika Selatan hingga awal tahun 2025.

Penelitian World Weather Attribution menemukan kekeringan sebagian besar disebabkan El Nino dibandingkan perubahan iklim. “Selama satu tahun terakhir, penelitian menunjukkan banyak peristiwa cuaca ekstrem didorong kombinasi antara perubahan iklim dan El Nino,” kata peneliti cuaca ekstrem di Imperial College, Joyce Kimutai.

“Kekeringan di Selatan Afrika tampaknya contoh jarang di mana peristiwa itu sebagian besar disebabkan El Nino,” tambahnya.

Famine Early Warning Systems Network memperingatkan kekeringan akan menaikan harga pangan di seluruh kawasan dibandingkan tahun 2023 dan rata-rata lima tahun terakhir. Kenaikan harga pangan dan rendahnya pendapatan diprediksi akan semakin menekan perekonomian rumah tangga di kawasan.

Dalam laporannya yang bertajuk “Southern African Seasonal Monitor” pada Februari 2024, Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan penurunan curah hujan pada kuartal pertama tahun ini akan berdampak signifikan pada pertanian dan ketahanan pangan sepanjang 2024.

Pemimpin-pemimpin politik di kawasan sudah mengungkapkan krisis ini. Pada bulan Maret lalu, Presiden Malawi Lazarus Chakwera mendeklarasikan masa darurat di 23 dari 28 distrik negara itu. Ia mengatakan hampir dua juta rumah tangga terdampak.

Berita Lainnya:
Dampak Gelombang Panas: Serbia Kehilangan Danau untuk Pertama Kalinya

Sebanyak dua pertiga masyarakat Malawi menggunakan jagung sebagai pangan dasar. Chakwera mengatakan kekeringan berdampak pada 750 ribu hektare ladang biji-bijian atau 44,3 persen dari total jagung. “Kerusakan sebesar ini memerlukan hampir 600.000 metrik ton jagung senilai 357,6 miliar MWK atau 205 juta dolar AS untuk respons kemanusiaan,” katanya.

Jagung merupakan makanan pokok di Zambia. Presiden negara itu Hakainde Hichilema mengatakan, sebanyak 84 dari 116 distrik terdampak kekeringan yang menghancurkan hampir setengah dari 2,2 juta hektare ladang jagung.

Selain pertanian, Hichilema juga menyoroti dampak kekeringan pada pasokan air dan energi. “Kekeringan berdampak buruk pada banyak sektor seperti pertanian, ketersediaan air, dan pasokan energi, membahayakan ketahanan pangan nasional dan kehidupan jutaan orang,” katanya.

Menurut Hichilema, kekeringan juga akan berdampak pada pembangkit listrik tenaga air. Ia mengatakan Zambia dapat mengalami defisit sebesar 520 megawatt pada Desember 2024. Sementara itu, Presiden Zambia berharap bantuan yang ditujukan untuk produksi pertanian akan mengurangi tekanan pangan. Namun, kemungkinan akan memakan waktu bertahun-tahun bagi negara ini untuk pulih dari dampak kekeringan sebesar ini, misalnya terhadap nutrisi anak-anak.

1 2

Reaksi & Komentar

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا الكهف [47] Listen
And [warn of] the Day when We will remove the mountains and you will see the earth prominent, and We will gather them and not leave behind from them anyone. Al-Kahf ( The Cave ) [47] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi