Minggu, 21/07/2024 - 07:51 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

ISLAM

Terungkap Dialog Nabi Hud dan Kaum Ad, Minta Diazab, Kota Iram, dan Horor Murka Allah

JAKARTA — Setelah Nabi Nuh dan umatnya selamat dari bencana (atau azab) banjir besar, manusia melanjutkan kehidupannya. Mereka kembali membangun keluarga, berketurunan, dan menyembah Allah SWT. Ketika itu, manusia masih mengingat betapa pedihnya siksa Allah di dunia dan sedih rasanya kehilangan orang-orang tersayang.

Dengan begitu, mereka istikamah menegakkan perintah Allah, yaitu hanya menyembah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang. Syariat agama dijalankan dengan maksimal. Kehidupan pun berjalan dengan teratur.

Namun keadaan ideal seperti itu berubah ketika manusia sudah jauh dari kehidupan Nabi Nuh. Mereka tak lagi mengingat (atau sengaja melupakan dan mengabaikan) sejarah kelam banjir hebat yang pernah terjadi akibat kemungkaran. Sehingga pada masa Kaum Ad, mereka mulai bertingkah sombong, mengedepankan ego sebagai bangsa terbaik, melupakan hakikat kehidupan sebagai makhluk Allah, menjadi makhluk bengis dan kejam.

Satu lagi yang paling parah, mereka kembali melakukan apa yang kaum Nuh pernah kerjakan, yaitu menyembah berhala Shamda, Shamud, dan Hira.

 

Dalam tradisi dahulu, berhala adalah upaya menghidupkan orang-orang mulia sebelumnya yang berjasa besar kepada banyak orang. Ketiga berhala tersebut, bisa jadi pada hakikatnya adalah orang-orang yang berakhlak mulia dan dicintai banyak orang semasa hidupnya. Sehingga banyak orang berharap mereka tetap hidup. Agar mereka selalu dikenang dan tetap ‘hidup’ maka mereka dijadikan berhala, yang dihormati, bahkan disembah sebagai penghormatan kepada mereka.

Berita Lainnya:
Dua Pertanyaan tentang Mualaf untuk Buya Hamka

Namun tradisi memuja berhala semacam itu ternyata mengesampingkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang Mahapencipta. Dia mengutus orang-orang pilihan untuk menyegarkan tradisi manusia bahwa bukan berhala yang harus disembah, melainkan Allah satu-satunya Tuhan yang seharusnya diagungkan.

Allah sayang kepada Kaum Ad. Dia tak menginginkan mereka tersesat terlalu jauh. Sikap sayang tersebut ditunjukkan dengan mengutus seorang nabi bernama Hud kepada mereka.

Lahir di Hadramaut, kini daerah Negara Yaman, Nabi Hud dibesarkan dengan komitmen untuk bertakwa, memegang teguh syariat Allah, totalitas mengimani tauhid. Dia berdzikir siang dan malam agar hatinya tak pernah sepi dari asma Allah. Hingga jadi dewasa, datanglah perintah untuk mendakwahkan tauhid kepada Kaum Ad.

Profil kaum Ad

Mereka disebut Ad. Sedangkan dalam latin disebut Adites. Banyak ulama menjelaskan kaum Ad datang dari timur laut. Mereka adalah putra aud ( عوض‎), yang merupakan putra Aram ( إرم ‎), yang merupakan putra Sam, putra Nuh ( سام بن نوح ‎). Oleh karena itu, Nuh ( نوح ‎) dikatakan sebagai kakek buyut Ad. Setelah kematian Ad, putra-putranya, Shadid dan Shedad, berturut-turut memerintah kaum Ad. Kemudian menjadi istilah kolektif untuk semua disebut sebagai kaum Ad.

Berita Lainnya:
Perbedaan Iblis, Setan, dan Jin

Mereka adalah orang-orang berbadan besar. Boleh dibilang menyerupai raksasa. Karya dan kreasi mereka sungguh luar biasa. Mereka ahli mendirikan bangunan-bangunan bertiang tinggi nan indah, yang banyak ditemukan di Kota Iram, sebagaimana Allah jelaskan dalam Surah al-Fajr 6-8 berikut ini

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

a lam tara kaifa fa’ala rabbuka bi’ād

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad? (6)

إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ

irama żātil-‘imād

(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi (ayat 7)

ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ

allatī lam yukhlaq miṡluhā fil-bilād

Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (ayat 8)

Konon, Bangsa Ad mendirikan bangunan megah semacam itu karena mereka ingin meniru bangunan surga di langit. Mereka membangun surga di bumi, merasakan kenikmatan, dan menganggap mereka berada di sana dan merasakan kenikmatan yang ada di sekitar tempat itu selamanya. 

Sejumlah orientalis, terutama mereka yang terlibat langsung dalam riset arkeologi untuk mengungkap misteri kota Iram, mengemukakan, bahwa lokasi mereka berada antara Yaman dengan Oman. Tepatnya, sekitar Selatan Arab. Di antara temuan arkeologis tersebut terdapat di area Rub’ al-Khali. Di sana mereka menemukan bangunan raksasa yang tertimbun di bawah lautan padang pasir.

1 2

Reaksi & Komentar

الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَن ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا الكهف [101] Listen
Those whose eyes had been within a cover [removed] from My remembrance, and they were not able to hear. Al-Kahf ( The Cave ) [101] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi