Operasi Plastik Revolusi Suriah

PEMIMPIN kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Abu Mohammed al-Julani menyampaikan pidato revolusi Suriah di hadapan khalayak di Masjid Umayyah, Damaskus pada Ahad (8/12/2024).
Bumi Syam telah dibebaskan dari tiran paling hina yang dikenal umat manusia, Allahu Akbar. Dengan cepat kemenangan ini tersebar luas ke seluruh penjuru dunia sehingga bukan hanya rakyat Aleppo, Homs dan Damaskus yang berbahagia, melainkan hampir seluruh masjid di berbagai benua melantunkan takbir untuk kemenangan ini.
Revolusi Suriah sangat berarti bagi Kaum Muslimin ditengah penderitaan berkepanjangan yang diderita Muslim Suriah di bawah pemerintahan Assad dan kroninya. Revolusi ini juga menjadi harapan bagi pintu pembebasan Palestina dikemudian hari sebagaimana Mesir. Hal ini disebabkan oleh keberadaan dua negara ini ibarat sayap burung yang melingkupi Palestina.
Umar bin Khathab ketika futuh Syam menulis surat kepada amirul jihad, Abu Ubaidah, mengatakan, “Mulailah dari Damaskus, sebab kota itu adalah benteng Syam.”
Di masa Shalahuddin al-Ayyubi beperang melawan tentara salib, beliau juga memulai upaya membebaskan Palestina dengan membuka pintu Syam, kemudian menyatukannya dengan Mesir untuk memukul tentara salib.
Syaikh Ali Al Qaradaghi, Ketua Persatuan Internasional Ulama Muslimin dalam merespon revolusi Suriah menyampaikan;
“Tembok ketakutan telah runtuh, dan belenggu kedzaliman telah patah. Inilah rakyat Suriah yang bangkit dari bawah abu untuk menciptakan fajar kebebasan. Bashar melarikan diri, meninggalkan jejak luka, tetapi harapan yang tidak pernah mati terus menerangi jalan para pembebas…”
Video dan rekaman pejuang revolusi suriah masih viral hingga hari ini, salah satu diantaranya adalah video pesan pejuang revolusi Suriah untuk rakyat Gaza dari depan masjid Umayyah, Damaskus. Ia berkata;
“Dari sini akan datang wahai AlQuds…sabar sebentar wahai rakyat Gaza…sabar sebentar wahai rakyat Gaza…”
Seorang ulama Suriah yang lain, Syaikh Abdul Karim Bakkar menggambarkan kegembiraan masyarakat Suriah dengan sebuah ungkapan;
“Dan engkau menginginkan kabar gembira hanya berupa sebuah desa, Namun Tuhanmu menghendaki untuk memberimu (kabar gembira) berupa kota-kota. Inilah keadaan para pejuang Suriah hari ini.”
Sungguh umat ini sangat berharap pada para mujahidin yang telah berperang selama bertahun-tahun melawan kebengisan Assad agar dapat menegakkan pemerintahan Islam yang berhukum penuh pada Syariat Islam, negara Khilafah Islamiyah.
Pada hari kemenangan bendera Tauhid telah diarak ke seluruh penjuru kota bersama dengan bendera Suriah. Para komandan menyampaikan bahwa Revolusi Syam adalah permata Musim Semi Arab yang merupakan ekspresi tulus dan berani dari aspirasi bangsa untuk pembebasan, pemulihan identitas dan penegakan agama. Kemenangan ini bukanlah proyek faksi-faksi namun Allah melimpahkannya semata-mata untuk meninggikan kalimah-Nya.
Nadi dan jiwa revolusi Suriah adalah Islam, Allah telah menepati janji-Nya dengan memberikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya. Seluruh dunia Islam mengucap syukur dan berdoa semoga peristiwa Musim Semi Arab di 2011 tidak terulang kembali. Hingga dalam sekejap satu persatu tirai mulai tersingkap.
Dimulai dari fakta yang disampaikan oleh Ibrahim Rihan dalam tulisannya di pada Senin (9/12/2024) menyampaikan bahwa beberapa jam terakhir sebelum jatuhnya rezim Suriah dan presidennya, Bashar al-Assad, mengadakan pertemuan publik dan rahasia untuk membahas era pasca-Assad. Yang paling menonjol adalah pertemuan rahasia di kota Gaziantep di Turki. Gaziantep merupakan tempat ruang operasi utama faksi oposisi berada.
Asas media mengungkap bahwa forum itu mempertemukan badan-badan intelijen Barat dan Arab, sebelum pertemuan para menteri luar negeri Qatar, Turki, Iran dan Rusia di ibu kota Qatar, Doha untuk menyiapkan “kejatuhan besar”. Pertemuan tersebut dihadiri oleh kepala Badan Intelijen Turki, Ibrahim Kalin, kepala Badan Keamanan Negara Qatar, Khalfan Al-Kaabi, kepala CIA, William Burns, dan perwakilan badan intelijen Teluk, selain perwakilan dari pasukan faksi oposisi.
Pertemuan tersebut membahas hal-hal sebagai berikut; Peralihan kekuasaan di Suriah harus dilakukan secara damai, dan kehati-hatian harus diberikan untuk menjaga kohesi lembaga-lembaga negara guna memfasilitasi proses politik. Negara-negara yang berkepentingan harus memastikan bahwa Suriah tidak menjadi surga bagi ekstremis dan teroris setelah Bashar al-Assad. Menjamin kesopanan negara di Suriah, dan menciptakan kondisi untuk kembalinya pengungsi Suriah di Turki, Lebanon, Yordania dan Irak secara bertahap ke negara mereka seiring dengan pemulihan keamanan.
Informasi ini juga menyampaikan bahwa Rusia dan Iran dengan problematikanya, baik secara finansial dan militer tak mampu lagi menopang rezim Assad. Iran belum kembali ke keadaan semula di wilayah tersebut sejak pembunuhan komandan Pasukan Quds di Garda Revolusi, Jenderal Qassem Soleimani, begitu pun di Irak, dan perang Israel baru-baru ini terhadap “Hizbullah” di Lebanon, yang menyebabkan kerusakan pada wilayah tersebut.
Selain itu, Iran, secara ekonomi menderita akibat krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat mengimpor pesawat tempur dan senjata yang perjalanannya dari Irak dan Lebanon ke Suriah tidak lagi diizinkan oleh Israel dan Amerika Serikat seperti sebelumnya.
Adapun Rusia, sudah jelas bahwa mereka lebih memilih untuk fokus pada front mereka dengan Ukraina dan menginginkan penyelesaian yang mengakhiri kebuntuan yang telah mereka alami selama lebih dari dua tahun. Hal ini terjadi setelah Presiden terpilih Donald Trump mengambil alih kekuasaan di Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah memberi tahu negara-negara terkait pada pertemuan Doha bahwa Teheran tidak peduli untuk tetap berpegang pada Assad, sama seperti ia peduli agar situasi di Suriah tidak memburuk dan melindungi minoritas Syiah dan Alawi. dan bahwa mereka mungkin menahan diri untuk tidak memperpanjang perang Suriah jika ada jaminan bagi minoritas Syiah dan tempat suci agama.
Hal ini mendorong pihak Turki untuk membuka komunikasi antara Iran dan Hayat Tahrir al-Sham yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa (sebelumnya Abu Muhammad al-Julani), untuk mengirimkan pesan ke pihak Iran yang menegaskan jaminan Syiah dan Alawi-minoritas dan keamanan tempat suci keagamaan di sana.
Dan ternyata, Amerika ada di balik semua ini. Pihak Irak telah memberi tahu Iran bahwa mereka tidak akan membuka perbatasan bagi para pejuang untuk menyeberang ke Suriah, terutama sejak peringatan serius dari Amerika telah tiba di Bagdad yang menekankan bahwa pesawat koalisi internasional yang dipimpin oleh Washington tidak akan ragu untuk menargetkan konvoi militer yang melintasi dari Suriah. Al-Qaim di Irak menuju Al-Bukamal. Penerbangan pesawat pembom strategis B52 Amerika di atas gurun Suriah dua hari lalu menyampaikan pesan Amerika kepada semua orang.
Adapun Rusia, telah memberi tahu Assad selama kunjungannya ke Moskow seminggu yang lalu bahwa ia harus mengundurkan diri dari kekuasaan atau mengambil langkah politik cepat untuk mengatur situasi dengan oposisi. Di sini, Assad memahami bahwa Kremlin belum siap membelanya. Sumber tersebut mengonfirmasi bahwa penasihat pemimpin Iran, Ali Larijani, mengunjungi Damaskus jauh dari media pada Jumat malam dan memberi tahu Assad tentang keputusan Iran untuk menarik penasihat militernya dari Suriah.
Inilah fakta yang sebenarnya. Revolusi Suriah ternyata hanya sebuah operasi plastik, revolusi semu. Tampaknya siasat membawa Al-Julani ke Damaskus tidak hanya sebatas menjamin kelangsungan hidup pasukan Amerika dan menjaga pangkalan Rusia, tetapi juga menutup mata terhadap mereka yang membunuh, membantai, dan memperkosa.
Pada hari keempat ini kita melihat saksi-saksi kekejaman dan kebrutalan rezim Assad tampak menghiasi media. Penjara-penjara mengerikan telah diungkap. Pelapor PBB menyerukan agar para pelaku kejahatan terhadap rakyat Syam diadili, sementara Al-Julani memaafkan mereka! Pengampunan Al-Julani terhadap kroni-kroni rezim bukanlah upayanya, melainkan keinginan Amerika, Ini adalah langkah untuk merehabilitasi sistem.
Padahal mengampuni penjahat hanya memungkinkan penjahat melakukan kejahatannya lagi. Revolusi Suriah telah menjadi operasi plastik berupa kesepakatan jahat yang menjamin pengaruh Amerika di Suriah, dan mengabaikan semua kejahatan rezim, sambil melewati tahapan sampai kaum revolusioner terserap dan senjata mereka dilucuti, sebagai persiapan untuk munculnya geng-geng kriminal, seperti yang terjadi di Mesir.
Sekarang, mereka mengadopsi kebijakan “tunggu sampai Anda bisa”, dan mereka berbicara tentang persatuan nasional, amnesti, toleransi, membuka lembaran baru, dan semua orang berbagi kekuasaan, sehingga masyarakat menjadi mati rasa oleh kebohongan-kebohongan konyol ini, sampai konspirasi disahkan.
Al Julani bukanlah aktor yang tiba-tiba muncul, namanya telah dihapus dari daftar teroris oleh Amerika, sebagai imbalan dari perilakunya yang penurut. Julani terus menampilkan dirinya sebagai seorang Islamis moderat demi menyenangkan Amerika. Ketika semua penjahat perang diampuni, penjara-penjara di cat putih dan tahanan dibebaskan, namun Julani tidak membuka penjaranya di Idlib.
Para Muslimah dan keluarga di Idlib melakukan aksi duduk di depan Penjara Qah menuntut Julani melepaskan tahanan yang penuh sesak. Julani telah menahan para pemuda yang selama ini ikut berjuang. Terdapat pula tudingan adanya penyiksaan terhadap narapidana yang sebagian besar merupakan simbol agama dan menolak pendekatan Julani dalam masa transisi.
Inilah revolusi operasi plastik. Padahal kemenangan dalam pandangan Islam tidak berarti menguasai lebih banyak wilayah jika tujuan para penyerang bukanlah untuk memperkuat keimanan mereka terhadap wilayah tersebut. Sesungguhnya jika pembebasan bumi tidak didahului dengan pembebasan pikiran dan hati dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam, maka penguasaan atas bumi akan menjadi milik para penyembah nafsu yang mengibarkan panji-panji kebodohan, kejahatan dan kedzaliman.
Amerika telah berhasil mencuri perjuangan para mujahidin, dan orang-orang yang membela pencuri revolusi melakukan hal tersebut bukan karena mereka adalah anggota faksinya, atau karena mereka yakin terhadap orang atau kelompoknya, melainkan karena mereka putus asa dan tidak berdaya. Mereka ibarat manusia yang tenggelam kemudian berpegangan pada sedotan, dan orang-orang malang ini tidak mengetahui bahwa yang mereka kira sedotan bukanlah tali penyelamat, melainkan ekor ular!