Dampak Sekularisme pada Liberalisasi Pergaulan Remaja

Penulis: Hanny N.
PERMOHONAN dispensasi nikah oleh remaja di Kabupaten Sleman pada tahun 2024 tercatat sebanyak 98 kasus. Dari jumlah tersebut, alasan terbanyak untuk mengajukan permohonan dispensasi adalah karena hamil di luar nikah.
Sekularisme menjadi isu yang sering dibahas sebagai akar permasalahan dalam berbagai kerusakan moral di masyarakat saat ini. Prinsip utama sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan justru membawa manusia menjauh dari tuntunan ilahi. Akibatnya, banyak individu kehilangan pegangan moral yang sejatinya bisa menjadi landasan kuat dalam menjalani hidup. Pergaulan yang seharusnya dibatasi oleh nilai-nilai agama kini justru semakin bebas tanpa aturan. Semua usia, baik muda maupun tua, terpapar oleh arus liberalisasi pergaulan yang mementingkan kebebasan tanpa peduli akibat jangka panjangnya.
Dampak Liberalisasi Pergaulan
Liberalisasi pergaulan membuka ruang untuk memuaskan hawa nafsu secara bebas tanpa kendali. Norma agama yang menjadi pelindung moral seolah dikesampingkan, digantikan oleh pola pikir yang berasaskan kebebasan individu. Akibatnya, banyak terjadi kasus seperti seks bebas, kehamilan di luar nikah, aborsi, hingga meningkatnya kasus pelecehan seksual. Hal ini tidak hanya merusak individu, tetapi juga menyebabkan degradasi moral di masyarakat secara keseluruhan.
Ironisnya, negara yang seharusnya melindungi generasi justru berperan dalam memperparah situasi ini. Dalam sistem kapitalisme sekuler, banyak aturan yang dibuat hanya untuk mengejar keuntungan ekonomi atau meniru tren dari Barat. Alih-alih membangun generasi emas yang berakhlak mulia, negara malah memfasilitasi kebijakan yang mendorong liberalisasi pergaulan.
Kebijakan yang Memperparah Kerusakan Moral
Contoh nyata adalah program penyediaan kontrasepsi untuk pelajar. Program ini mungkin dimaksudkan untuk mencegah kehamilan di luar nikah, tetapi di sisi lain, justru dianggap melegitimasi seks bebas di kalangan remaja. Selain itu, pendidikan kesehatan reproduksi yang sering diadopsi dari peradaban Barat lebih banyak menekankan pada hak individu tanpa membahas aspek moral dan spiritual.
Tidak hanya itu, kebijakan terkait kesetaraan gender juga sering disalahgunakan untuk mendukung konsep-konsep seperti hak reproduksi dan kebebasan tubuh (bodily autonomy). Konsep-konsep ini, yang awalnya bertujuan melindungi hak perempuan, kini sering digunakan untuk membenarkan gaya hidup bebas yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Islam sebagai Solusi
Berbeda dengan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, Islam hadir dengan aturan yang menyeluruh untuk menjaga kemuliaan manusia. Dalam Islam, pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur dengan jelas untuk melindungi kehormatan dan moralitas individu maupun masyarakat. Misalnya, Islam menetapkan batasan dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, mewajibkan berpakaian menutup aurat, dan melarang segala bentuk perbuatan yang mendekati zina.
Tidak hanya itu, Islam juga mewajibkan negara untuk menjaga nasab dan moral masyarakat dengan berbagai mekanisme. Sistem pergaulan dalam Islam dirancang untuk menciptakan masyarakat yang sehat secara moral dan spiritual. Pendidikan berbasis akidah Islam, misalnya, bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, sehingga individu tumbuh dengan pemahaman yang kuat tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Selain itu, sistem sanksi dalam Islam diterapkan dengan tegas dan menjerakan. Pelaku perbuatan maksiat tidak hanya dihukum, tetapi juga diberi pembinaan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hukuman yang tegas ini berfungsi sebagai pencegah (deterrent) bagi individu lain untuk tidak melakukan pelanggaran serupa.
Menutup Celah Masuknya Ide-Ide Liberal
Islam juga menuntut negara untuk menutup semua celah yang bisa menjadi pintu masuk bagi ide-ide liberal. Media-media yang menyebarkan nilai-nilai sekuler dan mempromosikan gaya hidup bebas harus diawasi dengan ketat. Jika ada media yang terbukti merusak moral generasi, negara harus memberikan sanksi tegas, termasuk penutupan atau pencabutan izin operasionalnya.
Tidak hanya itu, negara juga harus menjaga masyarakat dari pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, dengan membatasi akses terhadap konten-konten yang merusak moral di internet dan media sosial. Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya liberalisme dan pentingnya kembali kepada ajaran Islam juga harus terus dilakukan secara konsisten.
Menuju Generasi yang Bermoral Tinggi
Untuk menciptakan generasi emas yang bermoral tinggi, kunci utamanya adalah kembali kepada sistem Islam. Islam menawarkan solusi yang komprehensif untuk semua aspek kehidupan, termasuk pergaulan. Dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh), masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang mendukung kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa sekularisme tidak memberikan solusi, tetapi justru memperparah permasalahan. Liberalisasi pergaulan yang terjadi hari ini adalah bukti nyata dari kegagalan sistem sekuler. Sebaliknya, Islam hadir sebagai sistem yang mampu menjaga kehormatan manusia dan menciptakan masyarakat yang bermoral tinggi.
Sebagai individu, kita bisa memulai perubahan ini dari diri sendiri dengan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi juga berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan kebenaran dan mengajak orang lain kembali kepada Islam. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk terus berjuang demi kebaikan umat. Aamiin.