Aulia Al Farabi: Huruf, Makna, dan Perjalanan Menuju Mekkah

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Tipografi bukan hanya tentang menyusun huruf; ia adalah seni membaca dunia dalam bentuk yang tak bersuara.

Dalam dunia desain Indonesia, Aulia Al Farabi—yang dikenal lewat akun Instagram @scrachtzo—telah menjadi salah satu sosok yang menyalurkan kedalaman makna lewat garis dan lengkungan huruf.

Namun kini, karya-karya visualnya tampak diam, karena sang empunya tengah memulai sebuah perjalanan yang jauh lebih hening dan sakral: menuju Tanah Suci Mekkah.

Menjadi Musafir Spiritual

Langkah Aulia menuju Mekkah bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah musafir spiritual—seorang pencari makna, yang kini meninggalkan layar digital untuk menyusuri jalan pasir yang sama yang pernah dilalui oleh para nabi dan wali.

Dalam unggahan terbarunya, tampak jejak langkah yang tenang, senyum sederhana, dan mata yang menyimpan kekhusyukan. Tak ada sorotan glamor. Ia menapaki jalan ini sebagaimana ia merancang huruf: perlahan, penuh makna, dan jujur pada bentuk aslinya.

Perjalanan ini tidak hanya akan membentuknya sebagai pribadi, tapi juga akan membentuk bahasa visualnya kelak. Sebab, spiritualitas yang dialami secara langsung sering kali menjadi sumber kreativitas paling murni—lebih dari teori desain, lebih dari referensi visual.

Ketika Huruf Bertemu Doa

Dalam dunia Aulia, huruf selalu menjadi alat untuk menyampaikan yang tak terucap. Kini, di hadapan Ka’bah, dalam diamnya doa-doa yang hanya bisa didengar oleh langit, Aulia tengah merancang sesuatu yang mungkin tak kasat mata: huruf-huruf dari langit, semacam alif yang lurus seperti tawadhu, atau ya yang melengkung seperti istighfar. Barangkali kelak, tipografi baru akan lahir dari pengalaman batin ini—huruf yang lahir bukan dari pena, tapi dari sujud.

Refleksi: Mengubah Langkah Menjadi Jejak Makna

Perjalanan haji dan umrah seringkali menjadi titik balik. Bagi Aulia, ini bisa menjadi fase baru dalam karier dan karya seninya.

Mungkin kelak kita akan melihat karya yang lebih sunyi, lebih minimalis, namun lebih dalam.

Perjalanan ini akan mengajarkannya untuk membiarkan ruang kosong dalam desain berbicara lebih banyak—seperti halnya jeda dalam doa yang lebih bermakna daripada ribuan kata.

Dari Huruf ke Harfiah

Dulu ia menulis, “Sedang menikmati dialog dengan semesta.” Kini, ia mungkin tengah berbicara langsung kepada Pencipta semesta itu sendiri. Dari huruf-huruf ciptaannya yang dulu penuh estetika duniawi, kini Aulia Al Farabi sedang membangun narasi yang lebih luhur: kisah spiritual seorang desainer yang kembali kepada akar makna, bukan sekadar bentuk.

Jika kreativitas sejati memang lahir dari pengalaman hidup, maka karya-karya Aulia setelah ini bukan hanya akan lebih matang—tapi mungkin juga akan menjadi doa dalam bentuk huruf.