Idealisme Qurban: Perspektif Teologis dan Sosiologis

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

“Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu nikmat yang banyak, maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan qurban karena sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang terputus dari nikmat Allah.” (Q.S. al-Kautsar: 1-3)

Dr. H. Hasan Basri Ahmad, MA Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh akan menyampaikan khutbah pada peringatan Hari Raya Idhul Adha 1446 H/2025M, Jumat, (6/6) di Masjid Baitul Maghfirah Dusun Beurami Gp. Payatieng Kec. Peukan Bada Aceh Besar.

Bahwa Qurban merupakan salah satu ritual ibadah dalam Islam yang memiliki kedalaman makna spiritual dan sosial. Praktik penyembelihan hewan qurban yang dilakukan setiap tanggal 10 Dzulhijjah plus tiga hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) tidak hanya mencerminkan ketaatan ritualistik, melainkan juga mengandung nilai-nilai teologis dan sosiologis yang kompleks.

Dalam konteks ini, istilah idealisme qurban dapat dimaknai sebagai pencapaian kesadaran religius tertinggi yang menempatkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan ketundukan kepada Tuhan sebagai prinsip utama.

Secara historis, perintah qurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada perintah Allah menjadi simbol utama dari makna idealisme qurban.

Dalam Surah Al-Hajj ayat 37, ditegaskan bahwa “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Ayat ini menegaskan bahwa esensi qurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan, bukan pada aspek lahiriah Dr. H. Hasan Basri Ahmad, MA

Dari perspektif teologis, qurban merepresentasikan hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya (habl min Allah), sementara dari dimensi sosial, qurban berfungsi sebagai sarana distribusi keadilan dan solidaritas sosial (habl min al-nas). Pembagian daging qurban kepada fakir miskin mengandung prinsip keadilan distributif yang sangat relevan dalam konteks pengentasan kemiskinan.

Selain itu, idealisme qurban dapat dimaknai sebagai simbol pembebasan manusia dari belenggu materialisme dan egoisme. Dalam kerangka pemikiran etika Islam, pengorbanan yang dilakukan dalam qurban merefleksikan usaha manusia untuk menundukkan hawa nafsu serta mengedepankan nilai-nilai transendental dalam kehidupan.

Dengan demikian, qurban yang ideal tidak hanya diukur dari kualitas hewan yang disembelih, tetapi lebih jauh menyangkut kualitas spiritual pelaksanaannya. Qurban ideal adalah qurban yang mampu menginternalisasi nilai-nilai ketulusan, solidaritas, dan ketaatan dalam kehidupan nyata, serta menjadi cermin dari kesadaran religius yang matang. Demikian tutup Dr. H. Hasan Basri Ahmad. Wallahu a’lam!