Keluarga Nabi Ibrahim Role Model Pendidikan Ciptakan Generasi Mulia

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Nabi Ibrahim adalah contoh bahwa pendidikan keluarga yang benar menghasilkan generasi mulia. Dari Ismail lahirlah Nabi Muhammad. Dari rumah Ibrahim, dunia mengenal makna tauhid, makna kurban, makna cinta sejati pada Allah.

Demikian dikatakan Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar, Ustaz Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, S.S, kepada Jurnalis dalam sebuah kesempatan seusai pelaksanaan ibadah jumat kemarin.

Ustaz Ikhram mengajak umat Islam merenungkan doa Nabi Ibrahim dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 35–37: “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman… Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman… agar mereka mendirikan shalat…”

“Lihatlah, tujuannya bukan sekadar tempat tinggal, tetapi agar anak-anak mendirikan shalat, agar spiritualitas tetap tumbuh meski di tengah keterbatasan,” tegasnya.

Ustaz Ikhram menyampaikan, pada era modern saat ini, yang teknologi berkembang pesat, arus informasi tak terbendung, dan gaya hidup kian materialistik, maka nilai-nilai spiritual dan pendidikan dalam keluarga kerap terabaikan. Banyak anak yang tumbuh bersama gawai/gadget, tetapi jauh dari sentuhan kasih sayang orang tua. Banyak rumah yang mewah secara fisik, namun gersang dari nilai ruhani.

“Inilah tantangan zaman yang harus kita hadapi sebagai orang tua dan pendidik dalam keluarga. Kita harus kembali menanamkan nilai kurban, yakni keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan keimanan ke dalam kehidupan modern anak-anak kita,” ungkapnya.

Ustaz Ikhram menegaskan, kita tidak lagi diminta menyembelih anak seperti Nabi Ibrahim, tetapi kita diminta menyembelih ambisi pribadi demi mendidik anak dengan lebih baik. Kita tidak lagi diperintahkan meninggalkan keluarga di padang pasir seperti Ibrahim meninggalkan Hajar, tapi kita diminta meluangkan waktu di tengah kesibukan dunia kerja untuk hadir dalam kehidupan anak-anak kita.

Menurutnya, seringkali ayah terlalu sibuk bekerja, ibu terlalu sibuk dengan urusan lain, dan anak-anak akhirnya tumbuh bersama televisi, internet, atau media sosial. Lalu kita heran saat nilai-nilai keimanan melemah, saat anak-anak tidak lagi patuh, saat keluarga terasa renggang. Padahal, akar masalahnya adalah hilangnya pendidikan spiritual dalam rumah.

“Apalah artinya rumah yang megah, mobil yang mewah, jika anak-anak kita jauh dari shalat, jauh dari Al-Qur’an, dan tidak kenal siapa Nabinya,” gugatnya.

Ustaz Ikhram menambahkan, Idul Adha harus menjadi momentum bagi kita untuk menyembelih ego, menyembelih kesibukan duniawi yang berlebihan, dan menghidupkan kembali pendidikan tauhid dalam keluarga. Mengajak anak-anak berdiskusi tentang arti kurban, melibatkan mereka dalam proses ibadah, menanamkan nilai bahwa hidup ini bukan untuk mengejar dunia semata, tapi untuk meraih ridha Allah.

Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

“Ini adalah perintah langsung kepada kita semua, agar kita tidak hanya menjaga anak-anak dari bahaya dunia, tetapi juga dari bahaya akhirat. Jaga mereka dengan pendidikan iman, bukan hanya fasilitas,” ujarnya.

Ustaz Ikhram mengatakan, di zaman di mana segala sesuatu serba cepat dan instan, mari kita perlambat langkah sejenak untuk mengasuh hati-hati yang kita cintai, anak-anak kita, dengan kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan. Jangan sampai keluarga kita menjadi sukses secara duniawi, tetapi gagal dalam pendidikan akhirat.

“Untuk itu, mari kita jadikan rumah kita seperti rumah Nabi Ibrahim, yang diisi doa, ibadah, dan cinta kepada Allah. Mari kita wariskan kepada anak-anak kita bukan hanya harta, tetapi iman yang hidup, akhlak yang mulia, dan jiwa yang rela berkorban untuk kebenaran,” tandasnya.