Gelombang Solidaritas Menggema di Banda Aceh, Puluhan Ribu Warga Padati Stadion H. Dimurthala Bersatu Bela Palestina

Banda Aceh, Aceh – Puluhan ribu orang membanjiri jantung kota Banda Aceh pada Ahad pagi ini, tumpah ruah dari Taman Sultanah Safiatuddin hingga memenuhi Stadion H. Dimurthala, Minggu (27/07/2025). Sebuah pemandangan yang mengharukan, di mana ribuan pelajar, aktivis, keluarga, hingga tokoh lintas organisasi keagamaan bersatu padu dalam satu suara: membela Palestina.
Aksi heroik bertajuk “Aksi Bela Palestina dan Konser Amal” ini digagas oleh QUPRO Indonesia bersama Pemerintah Kota Banda Aceh, didukung penuh oleh Anara Group, Exzellenz Institut, dan Lembaga Kemanusiaan AKSI. Acara ini menandai salah satu gelombang solidaritas rakyat Indonesia terbesar untuk Palestina sepanjang tahun 2025, mengirimkan pesan kuat dari Serambi Mekkah kepada dunia.
“Di tengah banyaknya pihak yang masih memilih diam, Aceh justru menyuarakan keberpihakan. Bagi kami di Anara Group, ini adalah panggilan nurani. Dunia usaha tidak boleh cuci tangan dalam isu kemanusiaan sebesar Palestina,” tegas Desi Anara Desky, CEO Anara Group, yang turut hadir di tengah lautan massa.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak dini hari, menorehkan jejak spiritual dan kemanusiaan. Ribuan warga mengawali hari dengan shalat Subuh berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, simbol kekuatan iman dan persatuan. Setelah itu, long march damai menyusuri jalan-jalan protokol kota, membawa syal, poster, dan bendera Palestina, diiringi yel-yel dukungan dan untaian doa yang menggema.
Setibanya di Stadion H. Dimurthala, semangat tersebut diterjemahkan ke dalam serangkaian acara inspiratif: konser amal, orasi publik yang membakar semangat, dan doa bersama. Perpaduan antara aksi massa, pertunjukan seni, dan panggilan nurani ini menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus penuh gairah, menegaskan komitmen Aceh untuk Palestina.
Kepemimpinan Turun Langsung: Wali Kota dan Wakil Wali Kota Buktikan Kepedulian
Solidaritas ini semakin kuat dengan kehadiran langsung Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal dan Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah sejak pagi buta. Keduanya bahkan telah meninjau lokasi acara sehari sebelumnya, memastikan setiap detail teknis siap mendukung suksesnya acara.
“Aceh selalu peduli. Palestina bukan sekadar isu luar negeri, ini urusan umat. Kita ingin menjadi bagian dari solusi. Dari Serambi Mekkah, suara ini akan menggema ke dunia,” tutur Bunda Illiza, panggilan akrab Wali Kota, di hadapan ribuan peserta yang memadati stadion, disambut riuh tepuk tangan dan seruan takbir.
Galangan Dana Berkelanjutan: Rp2 Miliar Terhimpun, Menuju Target Rp5 Miliar
Semangat kemanusiaan ini juga tercermin dari gelombang donasi yang mengalir. Menurut penyelenggara, dana yang telah terkumpul hingga hari ini mencapai Rp2 miliar. Namun, ini hanyalah permulaan. Penggalangan dana akan terus dibuka hingga 10 Agustus 2025, melalui berbagai kanal: situs digital , transfer ke rekening resmi AKSI, QR Code di lokasi publik, serta penggalangan tunai melalui kantor-kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat.
“Ini bukan tentang besar kecilnya jumlah. Ini tentang keberanian untuk tidak tinggal diam. Hari ini, Aceh membuktikan bahwa nurani itu masih hidup,” ujar Ali Amril, Direktur QUPRO Indonesia, menekankan esensi dari gerakan ini.
Panggung konser menjadi magnet utama, diwarnai penampilan musisi spiritual nasional, Opick, yang membawakan lagu-lagu bertema perjuangan dan kemanusiaan, menyentuh hati ribuan hadirin. Disusul oleh orasi inspiratif dari tokoh-tokoh Aceh, seniman lokal, dan pimpinan ormas Islam yang tak henti-hentinya menyampaikan pesan moral dan seruan dukungan untuk rakyat Palestina.
Hubungan emosional antara Aceh dan Palestina bukanlah hal baru. Saat tsunami meluluhlantakkan Aceh pada tahun 2004, Palestina adalah salah satu dari sedikit negara yang sigap menyampaikan dukungan dan menggalang bantuan melalui jejaring dunia Arab. Kini, dua dekade setelah bencana itu, Aceh membalas uluran tangan tersebut dengan memilih untuk tidak tinggal diam di tengah penderitaan saudara-saudara di Palestina.
Gerakan kolosal ini sekali lagi membuktikan bahwa Aceh menjawab seruan Palestina bukan hanya karena alasan politik atau ekonomi, melainkan karena iman, sejarah, dan panggilan kemanusiaan yang tak pernah padam.