Ketika Rasa Cemburu dalam Islam Meredup

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

ACEH BESAR – Dalam sebuah khutbah Jumat yang menggugah di Masjid As Sajidin Komplek Tanjung, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Tgk. Syahrial menekankan bahaya sifat dayuts, yaitu sikap abai dan tidak peduli saat istri atau anggota keluarga melanggar ajaran Islam.

Mengawali khutbahnya, Ketua Umum Dayah Mabdaul ‘Ulum Al Aziziyah Banda Aceh ini mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat enam: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan (selalu) mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Tgk. Syahrial menjelaskan bahwa salah satu sifat mulia yang wajib dimiliki oleh seorang mukmin, khususnya ayah atau suami, adalah ghirah atau rasa cemburu. Ia mencontohkan kisah Sahabat Saad bin Ubadah yang pernah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Kalau aku melihat seorang pria berduaan bersama istriku, maka pasti aku pukul dia dengan menghujamkan pedang yang tajam.”

Khatib, yang juga alumni Dayah Mudi Samalanga, melanjutkan, “Demi Allah, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku. Dan karena kecemburuan-Nya, Allah mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”

Menurut Tgk. Syahrial Maulidin M. Jakfar, lawan dari sifat ghirah adalah dayuts. Sifat tercela ini merujuk pada sikap cuek, tidak peduli, dan berdiam diri ketika istri atau keluarga melakukan perbuatan yang tidak pantas atau dilarang dalam ajaran agama Islam.

“Semoga Allah melindungi kita dari sifat ini,” ujar Wakil Imam Masjid Baburrahmah Lamteumen Banda Aceh ini. Ia menambahkan bahwa dalam sebuah hadits Nabi disebutkan ada tiga golongan yang diharamkan surga bagi mereka: pecandu khamr (pemabuk), orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayuts—yaitu orang yang membiarkan kejahatan atau perbuatan keji menjijikkan terjadi dalam keluarganya.

Tgk. Syahrial menjelaskan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki sifat dayuts mencakup berbagai bentuk pembiaran terhadap kemaksiatan dalam keluarga, seperti membiarkan istri berinteraksi terlalu dekat dengan laki-laki lain atau keluar rumah dengan pakaian terbuka aurat, mengizinkan anak perempuannya berpacaran atau keluar malam dengan teman pria yang belum menjadi suaminya, bahkan hingga membiarkan istri dan anak perempuan membuka baju, berjoget, direkam video, lalu menyebarkannya di media sosial seperti TikTok atau Instagram.

“Jika sifat dayuts ini dibiarkan merebak di masyarakat, maka umat manusia akan semakin bejat dan moral seluruh masyarakat akan rusak,” tegas khatib.

Ia mengutip Adab Al Islam yang ditulis oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, yang menyebutkan akan ada zaman di mana perbuatan mesum dilakukan di tengah jalan, bahkan hingga ada yang menasihati, “Kalau saja kalian mau menyingkir saat melakukannya, tidak di tengah jalan.”

“Orang yang menasihati itu sudah setara Abu Bakar dan Umar,” ungkap Tgk. Syahrial. Ia menekankan bahwa hadits ini, yang mungkin terdengar tidak masuk akal 30 tahun lalu, kini semakin terasa kebenarannya.

“Zaman sekarang ini, mesum model apa lagi yang tidak dipamerkan? Wanita yang buka aurat, bermesraan di depan publik, bahkan perbuatan mesum disiarkan langsung di berbagai media sosial,” tanyanya retoris. “Kenapa semua ini bisa terjadi?”

“Semua itu sebab ayah mereka, suami mereka, mengidap penyakit dayuts, tidak punya rasa cemburu melihat keluarganya berbuat maksiat. Segala perbuatan kotor itu adalah tanggung jawab suami atau ayah mereka, yang tidak mau menasihati,” pungkas Tgk. Syahrial, mengakhiri khutbahnya dengan doa, “Semoga Allah menolong kita, memperbaiki keadaan keluarga kita, memberikan petunjuk kepada para pemuda kita.”