Berawal dari Arsip Aceh, Nyak Sandang Kini Terima Bintang Jasa Utama

Nyak Sandang atau juga disapa Ayah Sandang, pemegang obligasi pembelian pesawat Seulawah RI-001, didampingi Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Aceh, Zulkifli M Ali, Foto direkam di Lamno, Aceh Jaya, Jumat (9/3/2018)

BANDA ACEH – Sebuah kisah sejarah yang berawal dari Aceh kini berujung di Istana Merdeka. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Tengku Nyak Sandang bin Lamuding pada upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Minggu (17/8/2025).

Penghargaan ini diberikan atas jasa besar Nyak Sandang yang mengorbankan harta pribadinya berupa tanah dan emas demi pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, pada tahun 1948. Pesawat inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia.

“Bintang Jasa Utama diberikan kepada saudara Tengku Nyak Sandang bin Lamuding, atas jasa besar beliau dalam mendukung perjuangan kemerdekaan melalui pembiayaan pesawat Seulawah RI-001,” ujar Presiden Prabowo dalam amanatnya.

Jalan panjang menuju penghargaan negara ini bermula dari pencarian pertama kali yang dilakukan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh kala itu, Zulkifli M Ali. Dalam upaya melacak dokumen bersejarah kontribusi rakyat Aceh terhadap NKRI, Zulkifli bersama tim arsiparis mengujungi kediaman Nyak Sandang pada 9 Maret 2018. Tim menemukan bahwa Nyak Sandang masih menyimpan obligasi Seulawah RI-001 tertanggal 9 Oktober 1950.

Penemuan di kediaman Nyak Sandang, Desa Lheut, Lamno, Aceh Jaya, itu menjadi tonggak penting. “Ini bukti otentik cinta rakyat Aceh kepada NKRI. Dokumen ini harus diselamatkan agar tidak hilang ditelan zaman,” tegas Zulkifli kala itu.

Ia menambahkan, arsip bukan sekadar kertas, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi. “Siapa sangka selembar obligasi yang dijaga seorang warga desa di Aceh Jaya akhirnya mengantarkan pemiliknya ke Istana Negara. Inilah kekuatan arsip: ia menghubungkan masa lalu dengan penghargaan negara di masa kini,” ujar Zulkifli dalam refleksinya.

Kini di usia 91 tahun, Nyak Sandang masih tetap menyimpan harapan sederhana yakni bisa menunaikan ibadah haji. “Saya tidak pernah menuntut. Tapi kalau pemerintah mau memberikan fasilitas naik haji, saya siap,” ujarnya dalam wawancara beberapa waktu lalu.

Syukur meski rumah dan desanya pernah diterjang tsunami pada 26 Desember 2004, Namun Nyak Sandang berhasil menyelamatkan surat obligasi itu. Selembar kertas bersejarah yang lahir dari semangat rakyat Aceh, kini membawanya ke Istana Merdeka.

“Oleh karena itu perlu dicatat bahwa, penganugerahan Bintang Jasa Utama ini bukan hanya penghormatan bagi Nyak Sandang, melainkan juga pengakuan negara atas kontribusi rakyat Aceh dalam sejarah perjuangan Indonesia. Dari arsip yang dijaga di sebuah desa kecil di Aceh Jaya, kini nama Nyak Sandang tercatat abadi dalam sejarah bangsa.” pungkas Zulkifli M. Ali (*)