Kritik Tajam Rumah Aspirasi UKM & IKM Aceh Terkait Penghargaan Ekraf Award

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Penghargaan Ekraf Award yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menuai kritik tajam dari Rumah Aspirasi UKM & IKM Aceh, Senin (1/9/2025).

Lembaga ini menyoroti minimnya pengakuan terhadap para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta Industri Kecil dan Menengah (IKM) asli, yang dinilai menjadi pihak yang seharusnya paling layak menerima penghargaan tersebut.

T. Tansri, selaku pimpinan Rumah Aspirasi UKM & IKM Aceh, menyatakan apresiasinya terhadap inisiatif Ekraf Award yang dianggap sebagai indikator bahwa UKM dan IKM di Aceh memiliki nilai jual dan berpotensi untuk naik kelas.

Namun, ia menyayangkan fakta bahwa penerima penghargaan didominasi oleh para pejabat, sementara para pelaku UKM dan IKM yang berjuang dari nol justru tidak mendapatkan pengakuan apa pun.

Menurut Tansri, para pelaku UKM dan IKM asli telah mengorbankan banyak hal—mulai dari waktu, tenaga, hingga finansial—untuk merintis usaha mereka. Namun, kerja keras dan pengorbanan ini tidak mendapatkan hasil berupa sebuah penghargaan, meskipun nama dan merek mereka sering kali digunakan dalam ajang-ajang seperti ini.

Kondisi ini digambarkan sebagai “telur mata sapi,” di mana nama pelaku murni hanya menjadi pelengkap, sementara pengakuan dan penghargaan jatuh ke tangan pihak lain.

Pernyataan tersebut diakhiri dengan sindiran pedas: “Salam sukses untuk para pejabatnya dan selamat berduka kepada para pelaku UKM dan IKM aslinya yang mempunyai nama tapi tidak mempunyai nama.”

Kritik ini menjadi sorotan penting bagi Kemenparekraf dan pihak terkait di Aceh untuk mengevaluasi kembali sistem penghargaan yang ada, agar lebih berpihak kepada para pelaku usaha yang sesungguhnya.