Empat Amalan Masjid yang Mengundang Hidayah Allah

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

ACEH BESAR – Masjid tidak hanya sekadar tempat sujud dan shalat berjamaah, melainkan juga pusat hidayah, pembinaan iman, dan kebangkitan umat Islam. Sejak zaman Rasulullah Saw, masjid menjadi tempat umat berkumpul, menuntut ilmu, dan mengatur urusan kehidupan.

Supaya fungsi masjid tetap hidup, para ulama menyebut ada empat amalan pokok yang jika dihidupkan akan mendatangkan hidayah Allah kepada jamaah dan masyarakat di sekitarnya.

Tausyiah mengenai hal ini disampaikan oleh seorang jamaah yang datang berdakwah di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjong Seulamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Jumat (19/09/2025) bakda shalat Subuh berjamaah. Dai tersebut mengingatkan pentingnya menghidupkan empat amalan masjid sebagai jalan turunnya rahmat dan hidayah Allah.

Pertama, dakwah ilallah, yaitu menyeru manusia kembali kepada Allah. Dakwah bukan hanya tugas para dai atau satu kelompok, tetapi kewajiban setiap muslim sesuai kemampuannya. Dengan lisan, tulisan, atau perbuatan, seorang muslim dapat mengajak saudaranya untuk taat dan menyampaikan kebaikan Allah kepadanya, memperkuat iman, dan menjauhi kemungkaran.

“Kemungkaran itu ibarat virus, ia harus segera diatasi jika tidak, maka akan menyebar,” tegasnya.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushshilat: 33).

Kedua, taklim wa ta’allum, yakni belajar dan mengajarkan ilmu. Masjid harus hidup dengan majelis ilmu, tempat Al-Qur’an dibaca, hadis Nabi dipelajari, fiqh dan akhlak diajarkan, serta umat mendapatkan bimbingan. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Dengan taklim, iman bertambah dan umat tidak mudah goyah menghadapi ujian zaman.

Kita perlu mengundang ulama atau orang yang berilmu untuk mengajarkan ilmu kepada kita dan kita bertanya kepadanya tentang apa yang ingin dipelajari. Belajar-mengajar dengan orang yang memiliki ilmu sesuai dengan hajat.

Umar bin Khattab mendapatkan hidayah Islam karena mendengarkan bacaan Alquran saudaranya. Ia diberitahu oleh saudaranya itu bahwa untuk memegang Alquran harus dalam keadaan suci, maka ia diminta untuk mandi dan berwudhu terlebih dahulu. Inilah taklim wa ta’allum.

Ketiga, dzikir dan ibadah, yaitu menghidupkan suasana masjid dengan shalat berjamaah, doa, membaca Al-Qur’an, dan amalan sunnah lainnya. Masjid adalah rumah Allah, tempat seorang hamba menenangkan hati dan membersihkan jiwa. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Dengan dzikir, masjid akan selalu bercahaya dan jamaahnya akan merasakan kedamaian.

Masjid adalah cahaya bagi penduduk langit sebagaimana bintang merupakan cahaya bagi penduduk bumi. Mari kita ambil waktu minimal 2,5 jam per hari untuk berada di masjid guna berziir, membaca dan mentadabbur alquran. Lebih banyak menghabiskan waktu di masjid seperti halnya para sahabat yang selalu di masjid bersama Rasulullah.

Masjid adalah kapal Nabi nuh, di masa Nabi Nuh mereka yang berada di dalamnya hanya 83 orang itulah yang selamat dari banjir. Saat ini masjid akan menyelematkan manusia dari banjir maksiat.

Keempat, khidmat atau melayani, yaitu sikap berbakti dalam menjaga masjid dan menolong sesama. Khidmat bisa berupa membersihkan masjid, menyiapkan keperluan jamaah, hingga membantu kebutuhan masyarakat.

Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad). Dengan khidmat, tumbuhlah ukhuwah dan kasih sayang yang mempererat persaudaraan muslimin. Bilal bin Rabah mendapatkan hidayah karena berkhidmat kepada Rasulullah.

Keempat amalan ini saling melengkapi. Dakwah membangkitkan semangat iman, taklim menguatkan ilmu, dzikir menenangkan hati, dan khidmat menumbuhkan kasih sayang. Jamaah tabligh tersebut mengingatkan, bila amalan-amalan ini dihidupkan di masjid, maka insyaAllah hidayah Allah akan turun, membawa keberkahan bagi jamaah dan lingkungan sekitar.

Menutup tausyiah, salah seorang anggota jamaah tabligh berpesan, “Mari kita semua jadikan masjid sebagai pusat iman, ilmu, dan amal. Semoga Allah memilih kita untuk berkhidmat di rumah-Nya, sehingga hidup kita dipenuhi rahmat dan keberkahan.” (*)