Tanjong Seulamat, Cermin Demokrasi yang Teduh dari Darussalam

Di tengah berbagai dinamika politik di tingkat atas yang kerap diwarnai ketegangan, Gampong Tanjong Seulamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, menghadirkan pelajaran berharga tentang arti sejati demokrasi.

Pelaksanaan Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung) pada Minggu, 12 Oktober 2025, berlangsung dengan damai, tertib, dan penuh rasa saling menghargai antarcalon maupun warga.

Bukan hanya sukses secara teknis, Pilchiksung Tanjong Seulamat menunjukkan bahwa demokrasi di tingkat akar rumput bisa tampil dewasa dan beradab.

Lima calon keuchik yang bersaing — Fadhli H. Nurdin, Jufri, Ridwan, Salamun, dan Husaini — tidak sekadar berlomba merebut suara rakyat, tetapi juga memperlihatkan sikap saling menghormati yang jarang kita jumpai di banyak tempat.

Setelah penghitungan suara usai, mereka tampak bersalaman dan saling memberi ucapan selamat. Tak ada wajah tegang, tak ada narasi kalah-menang yang membelah warga. Yang ada hanyalah rasa syukur dan kebersamaan.

Sikap seperti ini patut dicatat dan ditiru. Demokrasi lokal seringkali menjadi cermin sejauh mana nilai-nilai sosial masyarakat masih terjaga. Ketika persaingan politik bisa dijalankan tanpa permusuhan, itu artinya masyarakat telah menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Panitia Pemilihan Keuchik (P2K) di bawah kepemimpinan Syamsul Bahri Ys juga layak diapresiasi. Mereka memastikan seluruh proses berjalan transparan dan inklusif, termasuk memberikan pelayanan setara bagi para penyandang disabilitas.

Hal ini menunjukkan bahwa di Tanjong Seulamat, hak setiap warga dipandang sama tanpa diskriminasi.

Tak kalah penting, apresiasi yang tinggi juga patut diberikan kepada Pemerintah Gampong Tanjong Seulamat di bawah kepemimpinan Pj. Mahfudh Saputra. Peran pemerintah gampong yang aktif, komunikatif, dan menjaga netralitas menjadi salah satu kunci utama suksesnya Pilchiksung kali ini.

Dukungan dan keteladanan Pj. Keuchik beserta perangkat gampong dalam menjaga kondusivitas menjadikan proses pemilihan berlangsung aman dan penuh kekeluargaan.

Demokrasi sejatinya bukan sekadar proses memilih, melainkan cara kita menghargai pilihan orang lain. Dan Gampong Tanjong Seulamat baru saja memberi teladan tentang itu — bahwa perbedaan pilihan tidak harus berujung pada perpecahan, bahwa rivalitas politik bisa dibungkus dengan semangat kebersamaan, dan bahwa kemenangan sejati adalah ketika seluruh warga tetap bersatu setelah pemilihan usai.

Dalam konteks pembangunan Aceh, praktik demokrasi seperti ini seharusnya menjadi contoh bagi gampong-gampong lain. Pilchiksung bukan hanya ajang menentukan pemimpin lokal, tetapi juga ruang pendidikan politik yang membentuk karakter warga: terbuka, jujur, dan saling menghargai.

Tanjong Seulamat mungkin hanya satu dari ratusan gampong di Aceh Besar, tetapi sikap dewasa para calonnya, dukungan masyarakatnya, dan kepemimpinan pemerintah gampongnya menjadi bukti bahwa kematangan berdemokrasi tidak diukur dari besarnya panggung politik, melainkan dari ketulusan menjaga persaudaraan.

Jika semangat seperti ini menular ke gampong-gampong lain, niscaya demokrasi di Aceh akan tumbuh semakin matang — bukan hanya di bilik suara, tetapi juga di hati warga yang mencintai damai dan kebersamaan. **