15 Siswa SMP Positif Narkoba: Alarm Besar Kerusakan Remaja

Kasus 15 siswa SMP positif narkoba di Surabaya ungkap lemahnya pengawasan dan krisis nilai pada remaja. Simak analisis lengkap dalam opini berikut.
Oleh: Hanny N
KASUS 15 siswa SMP di Surabaya dinyatakan positif mengonsumsi narkoba menjadi pukulan keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Fakta ini diungkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur setelah penggerebekan di Jalan Kunti—sebuah kawasan yang bahkan sudah dijuluki Kampung Narkoba. Di area itu berjajar bedeng-bedeng kecil dari kayu dan terpal yang kerap dijadikan tempat transaksi narkoba hingga pesta sabu. Fenomena ini bukan sekadar kasus tunggal, tetapi sinyal kuat bahwa remaja Indonesia sedang berada dalam ancaman serius yang tidak bisa dianggap biasa.
Remaja yang Kehilangan Arah: Antara Krisis Iman dan Krisis Kebahagiaan Hakiki
Narkoba bukan sekadar masalah penyalahgunaan zat, tetapi juga cermin dari hilangnya pegangan hidup pada sebagian remaja. Dalam usia yang seharusnya penuh semangat belajar dan beraktivitas positif, mereka justru terjebak dalam lingkaran kemaksiatan yang menghancurkan masa depan.
Allah SWT sudah memberi peringatan melalui firman-Nya, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Ayat ini menegaskan bahwa siapa pun yang jauh dari nilai keimanan akan mudah terseret dalam kesempitan hidup, termasuk mencari pelarian dalam bentuk narkoba. Banyak remaja hari ini mengalami tekanan mental, kehilangan arah hidup, mengalami krisis identitas, hingga merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita. Ketika kebahagiaan mereka dibangun atas hiburan sesaat, bukan nilai iman, mereka mudah mencari sensasi dan pelarian yang salah.
Padahal Rasulullah SAW bersabda,“Tidak halal membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.” (HR. Ibn Majah)
Narkoba jelas merusak diri, merusak keluarga, dan merusak masyarakat. Ia adalah kemungkaran nyata yang dampaknya menjalar panjang.
Sejarah Islam mencatat bagaimana generasi muda justru menjadi pilar kekuatan umat ketika dibina dengan iman yang kokoh. Di masa Rasulullah SAW, para pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, dan Mus’ab bin Umair tumbuh menjadi generasi emas karena pendidikan islamiah yang membentuk akhlak, kecerdasan, dan ketangguhan mental. Bandingkan dengan remaja masa kini yang banyak terseret arus pergaulan bebas, konten merusak, hingga narkoba.
Peredaran Narkoba yang Sistemik: Bukti Pengawasan Negara dan Masyarakat Lemah
Fakta bahwa ada Kampung Narkoba yang dibiarkan tumbuh dan berkembang di sebuah kota besar seperti Surabaya menunjukkan adanya masalah besar dalam pengawasan dan penegakan hukum. Bedeng-bedeng narkoba yang bisa beroperasi terang-terangan adalah bukti bahwa peredaran narkoba sudah begitu sistemik, bahkan membentuk ekosistem bisnis haram tersendiri.
Jika tempat semacam ini dibiarkan, maka ia akan menjadi magnet kemaksiatan, merusak lingkungan, dan menjadi malapetaka bagi remaja. Kondisi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan. Negara berkewajiban hadir secara tegas dan serius dalam menjaga generasi muda. Tidak cukup hanya dengan sosialisasi bahaya narkoba, tetapi harus ada tindakan nyata, tegas, dan komprehensif.
Remaja adalah aset bangsa. Ketika mereka terjerumus ke narkoba, maka bukan hanya individu yang rusak, tetapi masa depan bangsa ikut hancur.
Keluarga dan Pendidikan: Benteng Pertama yang Mulai Runtuh
Fenomena ini juga menunjukkan lemahnya peran keluarga dan dunia pendidikan. Bukan berarti keluarga tidak peduli, tetapi ada banyak faktor yang membuat mereka lengah. Mulai dari kesibukan orang tua dan lemahnya komunikasi dalam rumah, lingkungan belajar yang tidak memberi pembinaan karakter dan iman, media yang penuh dengan konten merusak, tetapi minim kontrol, lingkungan sosial yang permisif terhadap gaya hidup hedon.
Padahal keluarga memiliki peran utama dalam menanamkan nilai keimanan. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa pembinaan tidak bisa diserahkan hanya kepada sekolah. Remaja membutuhkan keteladanan, cinta, arahan, dan pendidikan akidah sejak kecil.
Di sisi lain, dunia pendidikan seharusnya menjadi tempat membangun karakter, bukan hanya mengajarkan mata pelajaran kognitif. Ketika sekolah gagal menanamkan nilai agama, disiplin, dan akhlak, maka remaja akan rentan terjerumus dalam pergaulan buruk.
Negara Wajib Melindungi Generasi dari Bahaya Narkoba
Tidak dapat dipungkiri, narkoba adalah ancaman strategis yang memerlukan ketegasan negara. Jika Kampung Narkoba dibiarkan tumbuh begitu lama, maka ada celah besar dalam pengawasan dan pemberantasan. Negara harus menutup total seluruh titik rawan, memperkuat patroli, menindak tegas bandar, serta memberantas jaringan hingga ke akar-akarnya.
Lebih jauh lagi, negara juga wajib menyiapkan lingkungan yang sehat bagi remaja, mulai dari ruang bermain dan ruang kreatif yang aman, pendidikan yang membina iman dan akhlak, kebijakan tegas terhadap tempat maksiat, lingkungan sosial yang mendukung tumbuhnya karakter baik.
Dalam Islam, pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, negara tidak boleh membiarkan peredaran narkoba merajalela hingga menyentuh anak-anak SMP. Ini bukan sekadar kabar buruk—ini adalah red alert bagi keberlangsungan generasi.
Kemungkaran Tidak Boleh Dibiarkan Merajalela
Ketika kemungkaran dibiarkan, ia akan tumbuh dan membesar. Kampung narkoba di Surabaya adalah contoh nyata bagaimana kemaksiatan yang awalnya kecil berkembang menjadi sarang kejahatan yang sulit diberantas.
Dalam Islam, kemungkaran harus dicegah dengan tegas. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Membiarkan peredaran narkoba sama saja dengan membiarkan kehancuran generasi.
Saatnya Selamatkan Remaja Sebelum Terlambat
Kasus siswa SMP pemakai narkoba bukan sekadar angka statistik. Ini adalah jeritan realitas bahwa generasi muda kita sedang diburu oleh jaringan kejahatan yang terorganisir, sementara benteng-benteng yang seharusnya melindungi mereka—keluarga, sekolah, dan negara—masih memiliki banyak celah.
Penguatan iman adalah kunci utama. Remaja perlu diarahkan kepada kebahagiaan hakiki, bukan kesenangan semu yang merusak. Negara wajib hadir melindungi remaja, membersihkan sarang narkoba, dan menyiapkan lingkungan terbaik bagi tumbuhnya generasi berkarakter mulia. Masyarakat pun tidak boleh diam melihat kemungkaran.
Selamatkan remaja hari ini, karena dari merekalah masa depan bangsa ditentukan. Menyelamatkan remaja bukan tugas satu pihak. Ini kewajiban bersama keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Karena masa depan terlalu berharga untuk dibiarkan rusak oleh narkoba.
Wallahu’alam bish shawab.