Gaza Masih Menderita, Dunia Bilang “Baik-baik Saja”?

Musim dingin, banjir, dan blokade terus menambah penderitaan Gaza. Meski ada gencatan senjata, serangan dan krisis kemanusiaan terus memburuk. Baca analisis lengkapnya.
MUSIM dingin kembali datang ke Gaza, dan bersamanya datang pula badai, hujan, dan banjir yang menyiksa jutaan warga yang tak lagi memiliki rumah. Dunia berdalih bahwa situasi “mulai stabil” setelah gencatan senjata disepakati, tetapi kenyataan di lapangan justru sebaliknya: penderitaan semakin dalam, luka semakin banyak, dan harapan hidup semakin terjal.
Gaza yang Basah, Dingin, dan Terlupakan
Hingga hari ini, sebagian besar warga Gaza masih tinggal di tenda-tenda tipis yang tak layak dihuni, apalagi untuk menghadapi musim dingin. Hujan deras membuat tenda-tenda roboh, sobek, atau hanyut diterjang air. Anak-anak menggigil di lantai basah tanpa selimut tebal, perempuan dan para orang tua mencoba bertahan dalam kondisi yang tak manusiawi.
Lebih ironis lagi, meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, otoritas Zionis tetap memblokir masuknya tenda baru, mobil rumah (mobile shelter), dan material perlindungan lainnya. Artinya, warga Gaza dipaksa menghadapi badai tanpa pelindung sedikit pun. Sejak kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober lalu, setidaknya 260 warga Palestina kembali tewas, sementara lebih dari 630 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang tetap berlanjut.
Apakah ini yang disebut dunia sebagai “situasi membaik”?
Narasi global—yang didominasi sekutu kuat penjajah—mencoba menciptakan ilusi bahwa Gaza mulai aman. Padahal di balik kata-kata diplomatis itu, penderitaan tak pernah benar-benar berhenti.
Gencatan Senjata Bukan Solusi
Berkali-kali, dunia internasional menjual mimpi bahwa gencatan senjata adalah “harapan baru” bagi rakyat Palestina. Namun sejarah panjang konflik ini justru membuktikan hal sebaliknya:
gencatan senjata hanya menjadi jeda singkat bagi penjajah untuk menyusun napas, bukan menuju perdamaian, tetapi untuk memperpanjang penjajahan.
Masalah Gaza bukan soal konflik dua pihak. Akar masalahnya jelas: penjajahan.
Dan selama penjajahan tidak dihapus dari akar-akarnya, penderitaan rakyat Palestina akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Allah berfirman, “Dan jika kalian menolong (saudara kalian), maka Allah pasti menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)
Ayat ini bukan sekadar motivasi spiritual, tetapi perintah yang mengikat bagi umat agar tidak diam ketika saudara seiman dijajah. Namun, kenyataan di dunia Islam hari ini jauh dari semangat ayat ini. Negara-negara Muslim enggan bertindak tegas, bahkan hanya berani mengeluarkan pernyataan retorika tanpa tindakan nyata.
Dunia di Bawah Kendali Amerika
Mengapa dunia bisa berkata bahwa Gaza “baik-baik saja”? Karena narasi global dikendalikan oleh kekuatan besar yang selama ini menjadi sponsori utama penjajahan Palestina: Amerika Serikat.
Setiap solusi yang ditawarkan Barat bukan dimaksudkan untuk membebaskan Palestina, tetapi untuk mempertahankan status quo. Gencatan senjata, bantuan terbatas, konferensi internasional—semuanya hanya memoles wajah penjajahan agar tampak lebih manusiawi.
Padahal Allah sudah memperingatkan tentang tipu daya para penjajah, “…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (berhasil) memalingkan kalian dari agama kalian…” (QS. Al-Baqarah: 217)
AS dan sekutunya tidak memiliki kepentingan untuk mengakhiri tragedi ini. Bagi mereka, Palestina adalah medan geopolitik, bukan tempat manusia-manusia yang harus dilindungi. Selama struktur global masih dikuasai kekuatan kolonial modern, solusi yang dihasilkan pun tak akan pernah lepas dari aroma manipulasi dan kepentingan.
Solusi Barat Terbukti Gagal
Sejarah panjang konflik Palestina membuktikan bahwa seluruh pendekatan Barat—mulai dari Oslo Agreement, Road Map to Peace, sampai berbagai perundingan internasional—gagal total menghapus penderitaan rakyat Palestina.
Mengapa? Karena Barat tidak pernah berniat menghapus penjajahan. Mereka hanya ingin, mengontrol wilayah strategis Timur Tengah, menjamin keberlangsungan proyek Zionis, menjaga pengaruh politik dan ekonomi mereka, dan mengamankan kepentingan sekutu di kawasan. Dengan kata lain, semua “solusi” Barat hanya memperpanjang usia penjajahan. Itulah sebabnya kondisi Gaza tidak pernah benar-benar membaik.
Saatnya Kembali pada Solusi Islam
Ketika semua opsi dunia gagal, umat harus kembali bertanya, solusi apa yang seharusnya diambil oleh para pemimpin negeri Muslim?
Dalam sejarah Islam, pembebasan negeri yang dijajah bukan sekadar tindakan politik, tetapi kewajiban syar’i. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang pemimpin adalah perisai (junnah), orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Konsep “perisai” ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kekuasaan bukan alat untuk melayani kepentingan asing, tetapi pelindung bagi seluruh umat, termasuk mereka yang dijajah. Sejarahlah yang menjadi saksi. Ketika negeri-negeri Muslim masih memiliki kepemimpinan yang satu, pembebasan negeri tertindas berjalan cepat dan tegas. Dari pembebasan Al-Quds oleh Umar bin Khattab, hingga pembelaan para penguasa Muslim terhadap wilayah-wilayah yang terancam penjajah.
Dalam Islam, jihad untuk membela wilayah yang dijajah bukan pilihan, melainkan kewajiban. Bukan jihad sembarangan, tetapi jihad yang dipimpin oleh negara, dilakukan secara terorganisir dan terarah. Tanpa kekuatan politik dan militer umat, penjajahan tidak akan bisa dihentikan. Tidak heran, penjajah hari ini begitu bersemangat mencegah kembalinya kekuatan politik umat Islam, karena mereka tahu—itulah satu-satunya ancaman nyata terhadap proyek kolonial modern.
Dakwah Ideologis Tak Boleh Padam
Di saat dunia memalingkan wajah dari penderitaan Gaza, tugas umat justru semakin besar yakni menguatkan dakwah ideologis, membangkitkan kesadaran umat, dan menyeru para pemimpin negeri Muslim agar berhenti tunduk pada kepentingan asing.
Perubahan tidak akan datang dari konferensi internasional. Tidak akan datang dari negara-negara yang takut kehilangan dukungan Barat. Perubahan hanya akan datang jika umat bangkit dengan kesadaran bahwa penjajahan hanya bisa dihapus dengan kekuatan yang lahir dari ajaran Islam itu sendiri.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhasil membebaskan bangsa-bangsa tertindas bukan karena diplomasi Barat, tetapi karena mengikuti petunjuk wahyu.
Dan hari ini, jalan itu harus kembali didakwahkan, meskipun dunia membencinya.
Penutup: Gaza Tidak Baik-baik Saja
Gaza tidak membaik. Gaza tidak aman. Gaza tidak stabil. Dan dunia yang berkata demikian sedang memainkan kebohongan besar untuk menutup mata umat terhadap tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung.
Namun umat tidak boleh diam. Sebagaimana firman Allah, “Dan apa saja yang menimpa kalian, maka itu adalah ujian. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ujian Gaza adalah ujian bagi umat seluruhnya. Dan kemudahan itu akan datang ketika umat kembali pada solusi yang benar—bukan solusi buatan penjajah, tetapi solusi yang berasal dari wahyu yakni jihad dalam naungan negara.
Wallahu’alam bish shawab.