Asap Harap dari Belanga Lintas Sumatra

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Di antara bisingnya air keran dan denting wajan, sebuah kalimat meluncur pelan, penuh ketulusan, dari balik cadar Susi Khairiati. “Kami belum bisa membantu dengan uang, yang ada tenaga.”Tangan mahasiswi asal Aceh Selatan itu telaten, cekatan. Bersama beberapa temannya, Susi meriung di tempat pencucian, memastikan setiap potongan ayam yang akan dimasak tidak hanya bersih, namun juga suci untuk hidangan para penyintas.

Di tengah kesibukan itu, Solidaritas Sumatera begitu terasa. Mereka adalah denyut nadi yang memastikan Dapur Umum Universitas Syiah Kuala (USK) terus mengepul, berjuang menyiapkan makanan bagi ratusan mahasiswa USK lain yang terdampak bencana.

Di sana ada Nur Sakinah Rangkuti, mahasiswi FISIP asal Siantar, Sumatra Utara. Di sebelahnya, Nurifo Maisitah, mahasiswi FKIP Matematika dari Sumatra Barat. Aceh, Sumut, dan Sumbar: tiga provinsi yang sama-sama berduka akibat musibah banjir dan longsor di penghujung tahun 2025, kini bersatu dalam satu dapur.

Mereka mengetahui panggilan itu dari unggahan Instagram Rumah Amal USK dan grup mentor UP3AI. Kehadiran mereka diperkuat oleh Nabella Lutfi Andini dan Aulia Rahmi, dua mahasiswi FKIP yang datang dari ujung Aceh: Subulussalam dan Aceh Tenggara.

Informasi bencana itu telah menggugah hati, mereka bahu membahu demi meringankan beban saudara. Bagi mereka, energi yang mengalir di dapur itu adalah bukti bahwa Sumatra adalah cinta tanpa syarat.

“Kami hanya ingin meringankan beban. Cepat pulih, semoga semuanya kembali normal dengan secepatnya,” harapan itu terdengar lirih, namun menggema di antara kesibukan.

Siang itu, jelang salat Jum’at (5/12), asap sudah mengepul tebal. Potongan ayam yang telah berlumur bumbu khas memenuhi belanga besar. Dapur Umum USK sedang menyiapkan menu yang menggugah selera.

“Masak apa hari ini?” celetuk Prof. Khairul Munadi, Dirjen Dikti, yang kala itu menyambangi dapur.

“Siang ini kita menunya: ayam masak Aceh,” jawab Muslim, yang bertugas memasak di Dapur Umum.

Muslim menjelaskan, mereka menghabiskan satu sak setengah beras setiap kali masak. Dapur ini bekerja dua kali sehari, menyiapkan hingga 500 porsi makan per hari untuk makan siang dan malam bagi para mahasiswa yang bertahan di Banda Aceh. Menunya pun variatif: kadang ayam, tak jarang ikan, atau udang, tergantung bahan baku yang tersedia.

“Ini bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa kami yang terdampak bencana. Mereka yang bertahan di Banda Aceh butuh uluran tangan kita, boleh jadi kiriman dari orangtua terbatas di situasi seperti ini,” tutur Prof. Marwan, Rektor USK.

Asap yang mengepul dari belanga di Dapur Umum USK hari itu bukan sekadar tanda masakan matang. Itu adalah bara api solidaritas lintas Sumatra yang tak pernah padam.

Di tangan para relawan muda yang rela berpeluh, janji untuk pulih kembali ditegaskan, sejalan dengan komitmen Rektorat. Sebab, bagi mereka dan seluruh civitas akademika USK, kampus adalah rumah, dan di dalam rumah itu, tidak ada satu pun anggota keluarga yang boleh kelaparan atau berjuang sendirian.[]