Jangan Biarkan Panglima Kita Menangis Sendirian

Air mata itu jatuh bukan karena lemah.
Air mata itu jatuh karena beban yang terlalu berat dipikul seorang diri.
Di hadapan Najwa Shihab, Muzakir Manaf—Mualem, Panglima yang dulu berdiri paling depan, hari ini menangis bukan untuk dirinya, tetapi untuk rakyat Aceh. Untuk anak-anak yang kehilangan orang tuanya, untuk ibu-ibu yang tidur di pengungsian, untuk ratusan nyawa tak berdosa yang direnggut banjir tanpa ampun.
Tangis itu adalah panggilan nurani.
Wahai para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka,
kalian yang pernah berjalan bersama Mualem di hutan, di gunung, di medan paling berat perjuangan Aceh,
apakah pantas hari ini Panglima Besar kita menangis sendirian menghadapi bencana yang menghancurkan tanah yang dulu kita bela bersama?
Dulu, kita bersatu melawan ketidakadilan.
Hari ini, musuh kita adalah banjir, penderitaan, dan kelambanan.
Aceh tidak butuh senjata.
Aceh butuh tenaga, keikhlasan, dan keberanian kemanusiaan.
Turunlah ke lapangan.
Bantu evakuasi.
Bantu distribusi logistik.
Bantu rakyat yang kelaparan, kedinginan, dan kehilangan harapan.
Bantu pemerintahan Mualem agar beban itu tidak ia pikul sendiri.
Inilah saatnya membuktikan bahwa GAM tidak hanya lahir untuk berperang, tetapi juga untuk melindungi rakyatnya dalam damai.
Jika dulu kita sanggup bertahan di rimba dan hujan peluru,
maka hari ini kita pasti sanggup berdiri di tengah banjir dan air mata rakyat.
Jangan biarkan sejarah mencatat: Saat Panglima kita menangis demi Aceh, kita memilih diam.
Aceh memanggil.
Rakyat menunggu.
Dan tangis itu… adalah seruan untuk kita semua. ***