Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini Jadi Tulang Punggung Inovasi Menuju Indonesia Emas 2045

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

JAKARTA – Selama ini ada persepsi bahwa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) hanyalah “pilihan kedua”. Namun, fakta di lapangan berbicara sebaliknya.

Dalam forum strategis Urun Rembuk Pimpinan PTS LLDikti Wilayah III yang digelar di Universitas Paramadina, Cipayung (30/12), terungkap bahwa PTS kini memegang peran kunci dalam menentukan nasib bangsa di masa depan.

Dengan tema “Menata Arah Perguruan Tinggi Swasta yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan”, forum ini menjadi ajang “curhat” sekaligus penyusunan strategi besar antara akademisi, pemerintah, dan pembuat kebijakan.

PTS Kuasai 46% Mahasiswa Nasional, Bukan Lagi Pemain Pinggiran

Rektor Universitas Yarsi, Prof. Dr. H. Fasli Jalal, memaparkan data mengejutkan yang mematahkan stigma negatif terhadap PTS. Dari 9,8 juta mahasiswa di Indonesia, hampir separuhnya—yakni 46%—menempuh pendidikan di PTS.

“PTS bukan sekadar pelengkap sistem. Kami adalah mitra strategis negara. Bahkan, rasio dosen dan mahasiswa di PTS saat ini lebih baik dibandingkan PTN. Kontribusi ini tidak bisa dipandang sebelah mata,” tegas Prof. Fasli.

Ia menambahkan bahwa fleksibilitas PTS dalam menciptakan prodi aplikatif membuat lulusannya jauh lebih adaptif dengan kebutuhan industri.

Kejutan Pendanaan: Jatah Riset PTS Tembus 60%

Sinyal positif datang dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Prof. Mukhamad Najib, Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, mengungkapkan langkah berani pemerintah: 60% proporsi pendanaan penelitian kini dialokasikan untuk PTS.

“Angka ini lebih besar dari PTN. Ini bukan soal persaingan, tapi kolaborasi. Kami ingin PTS mencapai kelas dunia sehingga mampu menghadirkan talenta global dan transfer teknologi,” ujar Prof.

Najib. Ia mendorong adanya “perkawinan” antara PTN dan PTS melalui program fast track (S1 di PTS, S2 di PTN) serta konsorsium riset bersama.

Perjuangan 25 Tahun Universitas Paramadina: Simbol Resiliensi

Kisah inspiratif datang dari Sekretaris Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Ir. Wijayanto Samirin. Ia menceritakan bagaimana Universitas Paramadina harus menyewa gedung selama 25 tahun sebelum akhirnya memiliki kampus sendiri di Cipayung.

“Universitas adalah bentuk sociopreneurship. Fokusnya bukan profit, tapi peradaban. Agar PTS terus tumbuh, kami butuh kepastian regulasi yang lebih sederhana dan adil,” ungkapnya.

Aspirasi untuk Pemerintah: Kebijakan Harus Nyata, Bukan Normatif

Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amalia, ., yang hadir dalam diskusi tersebut, mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah tidak boleh berhenti di atas kertas.

Sebagai mitra negara dalam pemerataan pendidikan, PTS harus difasilitasi secara nyata agar kesenjangan kualitas dengan PTN semakin terkikis.

Senada dengan hal itu, Kepala LLDikti Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, menegaskan komitmennya sebagai jembatan strategis.

“Kemajuan pendidikan tidak bisa dilakukan parsial. Harus ada sinergi kuat antara pemerintah, kampus, dan industri,” tuturnya.

3 Poin Utama Hasil Urun Rembuk PTS:

  1. Hapus Kesenjangan: Menipiskan jarak kualitas antara PTN dan PTS melalui kolaborasi sumber daya.

  2. Daya Saing Global: Mendorong PTS masuk dalam jajaran universitas terbaik dunia.

  3. Ekosistem Inklusif: Menciptakan iklim pendidikan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Pertemuan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi PTS di Jakarta untuk tidak hanya bertahan, tetapi memimpin perubahan menuju visi Indonesia Emas 2045.