PIJ Kecam Pernyataan Menteri Israel yang Klaim Gaza dan Tepi Barat Milik Israel

GAZA – Gerakan Jihad Islam Palestina (Palestinian Islamic Jihad/PIJ) mengkritik keras pernyataan Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, yang mengklaim Gaza dan Tepi Barat sebagai milik Israel serta menyebut warga Palestina sebagai “tamu”.
Dalam pernyataan resminya, PIJ menilai ucapan Zohar mencerminkan ideologi rasis dan kolonial yang mengabaikan sejarah dan realitas geografis Palestina. PIJ menyebut pernyataan tersebut sebagai bukti niat Israel untuk melanjutkan proyek aneksasi dan pengusiran terhadap rakyat Palestina.
“Pernyataan ini bukan hal baru, melainkan pengulangan kebohongan kolonial lama yang menggambarkan Palestina sebagai ‘tanah tanpa rakyat’, sambil menafikan keberadaan historis rakyat Palestina dan peradaban kuno mereka,” demikian pernyataan PIJ.
PIJ menegaskan bahwa seluruh wilayah Palestina, dari Laut Mediterania hingga Sungai Yordan, merupakan tanah yang diduduki, dan rakyat Palestina adalah pemilik sah dan historis wilayah tersebut. Menurut PIJ, Israel tidak memiliki bukti untuk menyangkal fakta itu dan hanya mengandalkan mitos serta pemalsuan realitas.
Kelompok tersebut juga menyoroti perlawanan rakyat Palestina selama puluhan tahun, termasuk pengorbanan jiwa dan keterikatan mereka pada tanahnya, sebagai bukti nyata kepemilikan Palestina atas wilayah tersebut. PIJ membandingkannya dengan keberadaan pemukim Israel yang disebut berasal dari berbagai negara dan bergantung pada perlindungan negara asing.
PIJ menilai pernyataan Zohar tidak hanya memalsukan sejarah, tetapi juga berbahaya karena mengandung ujaran kebencian dan dianggap dapat menjadi pembenaran atas kejahatan perang, kelanjutan pendudukan, serta perluasan permukiman Israel.
“Kami adalah pemilik sah tanah ini. Pemukim pendudukan hanyalah penyusup sementara. Waktu akan membuktikan bahwa kami akan tetap tinggal dan pendudukan pasti berakhir,” tegas PIJ.
Sebelumnya, Miki Zohar menyatakan secara terbuka bahwa Gaza adalah milik Israel dan menggambarkan lebih dari dua juta warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut sebagai “tamu” yang keberadaannya hanya ditoleransi sementara. Pernyataan itu disampaikan Zohar, yang juga anggota parlemen dari Partai Likud, dalam sebuah wawancara radio.
Komentar tersebut muncul di tengah polemik penghargaan film Israel, Ophir Award, yang diberikan kepada film The Sea. Film itu mengisahkan seorang anak Palestina dari Tepi Barat yang diduduki yang dicegah tentara Israel untuk mencapai pantai. Zohar mengancam akan memotong dana negara untuk industri film Israel, dengan alasan film tersebut menggambarkan Israel sebagai negara apartheid dan menampilkan tentara Israel secara negatif.
Saat ditanya apakah Gaza masih berada di bawah pendudukan, Zohar menolak anggapan tersebut dan bersikeras bahwa baik Gaza maupun Tepi Barat adalah wilayah Israel. Ia juga menyatakan bahwa seniman yang menginginkan pendanaan publik seharusnya menghasilkan karya yang mendukung narasi Israel, bukan mengungkap realitas di lapangan.