Sosok Gimah, Warga Lumajang yang Minta Gunung Semeru Dipindah dan Ditutup Semen

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH  – “Coba dipindah saja bapak itu gunungnya, dipindah ke mana gitu. Biar saya aman di sini.” Celoteh polos nan menggelitik ini keluar dari mulut Gimah, seorang wanita paruh baya asal Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timu (Jatim), yang mendadak jadi buah bibir netizen se-Indonesia.

Di tengah suasana mencekam pasca-erupsi, Gimah justru membawa tawa bagi jutaan orang. 

Lewat unggahan akun media sosial TikTok @tni_in_action, video wawancara Gimah telah ditonton lebih dari 1,7 juta kali dan dibagikan sebanyak 31 ribu kali hingga Senin (12/1/2026).

Lelah Hadapi Erupsi Rutin

Bukan tanpa alasan Gimah melontarkan permintaan mustahil tersebut. Ia mengaku lelah, karena desanya terus-menerus menjadi langganan bencana Gunung Semeru dalam beberapa tahun terakhir.

“Masak empat tahun sekali (erupsi). Coba tanya Bu Indah itu (Bupati Lumajang) bisa tidak ditutup gunungnya. Se-Indonesia saja dibawa semennya ke sini (untuk menutup kawah), tidak akan ada separuhnya,” ujar Gimah sambil berseloroh.

Meski mengundang gelak tawa netizen, pernyataan Gimah sebenarnya menyiratkan trauma mendalam seorang warga yang tinggal di zona merah bencana.

Kenangan Mencekam Saat Erupsi

Gimah yang tinggal di Dusun Gumukmas ini, menceritakan kembali detik-detik saat erupsi melanda wilayahnya pada Rabu, 19 November 2025 lalu. 

Baginya, suara gemuruh dan hujan abu panas adalah pengalaman yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

“Awalnya saya pikir lahar biasa, jadi saya tidak ke mana-mana. Tapi kok semakin lama semakin besar. Saya lari ke Supiturang, debunya semakin besar dan panas,” kenangnya.

Beruntung, rumah yang ia tempati bersama suaminya tidak mengalami kerusakan parah. 

“Alhamdulillah rumah tidak ada yang rusak, cuma bagian depan saja. Sekarang masih November, jadi tidak menyangka (akan erupsi lagi),” tambah Gimah.

Upaya Mitigasi di Lapangan

Sementara celoteh Gimah viral sebagai hiburan, TNI melalui Korem 083/Baladhika Jaya tetap bekerja serius di lapangan untuk memastikan keselamatan warga. 

Personel TNI terus dikebut untuk melakukan revitalisasi aliran lahar dan pembangunan tanggul.

Peltu Suwandi, personel Penerangan Korem Baladhika Jaya, menjelaskan bahwa penggunaan alat berat difokuskan untuk membuat benteng pertahanan dari terjangan lahar susulan.

“Alat-alat berat di belakang ini sedang membuat tanggul. Harapannya, jika ada erupsi susulan, material lahar tidak meluber ke pemukiman warga di Desa Supiturang,” tegas Peltu Suwandi