Serangan AS ke Iran Segera Terjadi, Kapal Induk Amerika Menuju Timur Tengah

BANDA ACEH – Kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln, bersama kelompok tempurnya sedang bergerak dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah. Pemindahan aset-aset tempur ini terjadi setelah muncul laporan bahwa serangan Amerika terhadap Iran segera kapal induk tersebut dilaporkan Kellie Meyer, koresponden Gedung Putih dari News Nation, yang mengutip sumber AS.
“PERALATAN MILITER AS DIPINDAHKAN KE TIMUR TENGAH DI TENGAH KETEGANGAN DENGAN IRAN: AS sedang memindahkan gugus tempur kapal induk dari Laut China Selatan ke wilayah tanggung jawab CENTCOM, menurut sumber yang mengetahui hal ini. Proses ini akan memakan waktu sekitar satu minggu,” tulis Meyer di akun X-nya, @KellieMeyerNews, Kamis (15/1/2026).
Kendati demikian, pergerakan kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln itu belum tentu terkati dengan rencana serangan AS terhadap Iran, mengingat perjalanannya membutuhkan waktu setidaknya satu minggu.
Di Iran, otoritas berwenang telah menutup sebagian wilayah udara negara itu sejak hari Rabu. Menurut situs pelacakan penerbangan, FlightRadar24, Kamis (15/1/2026), Peringatan Pemberitahuan kepada Misi Udara (NOTAM) dikeluarkan oleh Teheran tepat setelah pukul ET.
Dalam NOTAM tersebut, Iran melarang semua penerbangan kecuali penerbangan internasional ke dan dari Iran dengan izin.
Peta lalu lintas udara di atas Iran dan wilayah sekitarnya menunjukkan banyak penerbangan dialihkan di sekitar wilayah udara Iran.
Hanya lima pesawat yang terlihat di atas wilayah udara Iran pada saat NOTAM dikeluarkan, menurut situs pelacakan penerbangan tersebut.
Maskapai penerbangan Jerman; Lufthansa, mengatakan bahwa mereka akan menghindari semua wilayah udara Iran dan Irak sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, menurut laporan AFP. Lufthansa mengoperasikan beberapa merek di seluruh Eropa dan Timur Tengah, termasuk Austrian, Brussels Airlines, Discover, Eurowings, Swiss, dan ITA Airways.
Juga pada hari Rabu, AS meminta personel di beberapa pangkalan militernya di Timur Tengah untuk dievakuasi. Meski demikian, seorang diplomat AS yang dikutip Reuters, mengatakan langkah evakuasi ini hanya sebagai “perubahan postur”. Menurutnya, penyebab pasti evakuasi tentara ini tidak disebutkan.
Di antara pangkalan yang terkena dampak perubahan postur tersebut adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan serangan militer AS terhadap Iran akan segera terjadi. Menurut laporan tersebut, serangan itu dapat terjadi hanya dalam beberapa jam saja.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan beberapa ancaman terhadap Republik Islam Iran, yang telah dilanda demo rusuh sejak akhir Desember.
Kerusuhan tersebut terjadi di tengah inflasi yang melonjak dan devaluasi tajam rial Iran. Teheran menyalahkan kekerasan jalanan, yang diduga telah mengakibatkan ratusan hingga ribuan kematian, kepada AS dan Israel.
Reuters mengutip seorang pejabat militer Barat yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan: “Semua sinyal menunjukkan bahwa serangan AS akan segera terjadi.”
Namun, sumber tersebut menambahkan: “Itulah cara pemerintahan ini bertindak untuk membuat semua orang tetap waspada, dengan ketidakpastian sebagai bagian dari strategi.”
Menurut laporan tersebut, yang mengutip dua pejabat Eropa yang tidak disebutkan namanya, “Intervensi militer AS dapat terjadi dalam 24 jam ke depan.”
Reuters juga mengutip seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya yang menyatakan bahwa Trump tampaknya telah memutuskan untuk menyerang Iran, meskipun cakupan aksi militer potensial tersebut masih belum jelas.