Kode Keras untuk Amerika, China Daratkan 16 Pesawat Militer di Iran

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH –  China mengirim kode keras untuk Amerika Serikat, khususnya Donald Trump. 

Sebab, baru-baru ini China baru saja mengirim 16 pesawat militernya ke Iran.

 

Sebanyak 16 pesawat kargo militer milik Angkatan udara China dilaporkan mendarat di wilayah Iran dalam kurun waktu 56 jam.

Dilansir dari Tribunnews, pendaratan misterius tersebut lantas memicu kekhawatiran di kalangan analis keamanan internasional mengenai potensi eskalasi konflik baru di Timur Tengah.

Menurut laporan yang dipublikasikan oleh Defence Security Asia, operasi ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah hubungan militer China–Iran.

Dengan melibatkan pesawat angkut strategis seperti Y-20 yang dikenal memiliki kemampuan pengangkutan peralatan berat dan jarak jauh.

Laporan itu mencatat bahwa pesawat-pesawat kargo Y-2o milik China tiba berturut-turut di lapangan udara Iran hanya dalam waktu kurang dari tiga hari.

Aktivitas ini dinilai bukan sekadar penerbangan sipil biasa, lantaran beberapa pesawat sempat mematikan transponder atau perangkat pelacakan mereka sebelum memasuki wilayah udara Iran, sebuah praktik yang biasanya digunakan dalam operasi sensitif untuk menghindari deteksi radar publik.

Pola ini mengingatkan pada insiden serupa pada 2025, ketika pesawat kargo yang dikaitkan dengan China dilaporkan menghilang di sekitar koridor udara Asia Tengah menuju Iran, memicu spekulasi penggunaan jalur udara rahasia untuk pengiriman militer.

Muncul Dugaan Operasi Tertutup

Spekulasi dari komunitas intelijen sumber terbuka dan analis militer juga menyebutkan bahwa operasi semacam ini menandakan dukungan logistik atau militer terselubung China kepada Iran, terutama di tengah konflik berkepanjangan dengan Israel.

Para pengamat menilai pengiriman pesawat kargo kapasitas muatan 66 ton dan jangkauan lebih dari kilometer memungkinkan China membawa sistem pertahanan udara jarak jauh, radar canggih, peralatan peperangan elektronik, atau subsistem drone, yang berpotensi memperkuat pertahanan Iran terhadap serangan udara.

Beberapa analis menyebut kemungkinan pengiriman sistem HQ-9 atau HQ-19, yang dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat tempur dan rudal balistik.

Kehadiran sistem semacam ini dinilai dapat secara signifikan memperumit operasi udara Israel di wilayah Iran.

Namun, hingga kini tidak ada bukti independen yang memastikan muatan spesifik atau tujuan resmi dari penerbangan-penerbangan tersebut.

Sementara Beijing sendiri belum secara resmi mengakui laporan tersebut. Kendati demikian peristiwa ini memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan dan badan intelijen global.

Karena jika benar, langkah tersebut mencerminkan perubahan dalam peran China sebagai aktor logistik militer aktif di luar wilayah tradisionalnya sekaligus menambah dimensi baru dalam perseteruan geopolitik di kawasan.