Muhammadiyah: Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump tak akan Ciptakan Perdamaian

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas menilai inisiatif mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membentuk Dewan Perdamaian Gaza tidak akan mampu menciptakan perdamaian sejati bagi rakyat Palestina. Menurut dia, gagasan tersebut justru berpotensi melemahkan perjuangan kemerdekaan sebelumnya menggagas pembentukan Dewan Perdamaian Gaza dengan tujuan menyusun kerangka kerja serta mengoordinasikan pendanaan rekonstruksi wilayah Gaza yang hancur akibat agresi Israel. Dewan tersebut diklaim akan membantu mengembalikan otoritas Palestina agar mampu memimpin Gaza secara aman dan efektif.

Namun, Anwar Abbas mempertanyakan ketulusan Amerika Serikat dalam inisiatif tersebut. Ia menegaskan AS justru memiliki tanggung jawab besar atas kehancuran Gaza karena selama ini selalu berada di belakang Israel.

“Dilihat dari sisi tujuan, gagasan Trump tampak menarik karena dewan ini akan memikirkan bagaimana Gaza yang sudah porak-poranda akibat dibom Israel dapat dibangun kembali. Tetapi pertanyaannya, bukankah Amerika telah ikut menghancurleburkan Gaza karena selalu berada di belakang Israel,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Sabtu (24/1/2026).

Ia juga mempertanyakan alasan Amerika justru mengajak negara-negara lain untuk membiayai rekonstruksi Gaza, padahal AS memiliki andil besar dalam konflik tersebut. Lebih jauh, Anwar Abbas meragukan apakah setelah pembangunan selesai, Amerika dan Israel benar-benar akan menyerahkan pengelolaan Gaza kepada Palestina yang merdeka dan berdaulat.

“Jawabannya jelas tidak, karena Donald Trump tidak akan mendukung berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” ucapnya.

Anwar Abbas mengingatkan rekam jejak Trump saat menjabat Presiden AS pada periode 2017–2021 yang dinilainya sangat merugikan Palestina. Salah satu kebijakan yang disorot adalah pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel serta pemindahan Kedutaan Besar AS ke kota tersebut.

Ia juga mempertanyakan sikap sejumlah negara Timur Tengah yang disebut-sebut mendukung Dewan Perdamaian Gaza bentukan Trump. Menurutnya, langkah tersebut berisiko melemahkan posisi Politik Palestina di mata dunia internasional.

“Rasanya, apa yang dilakukan oleh Trump bersama dewan yang ia bentuk hanya akan memperlemah dan merugikan perjuangan rakyat Palestina yang ingin merdeka dan berdaulat,” katanya.

Anwar Abbas menambahkan penolakan terang-terangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap berdirinya negara Palestina semakin memperjelas bahwa Dewan Perdamaian Gaza tidak memiliki landasan politik yang adil.

“Kesimpulannya, Dewan Perdamaian Gaza tidak dapat diharapkan untuk menciptakan perdamaian di Gaza. Bahkan, yang mungkin terjadi justru sebaliknya,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Pusat tersebut.

Ia menegaskan rakyat Gaza tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik berupa gedung atau jembatan yang megah. Yang paling dibutuhkan adalah berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuatu yang dinilainya jelas tidak diinginkan oleh Donald Trump maupun Benjamin Netanyahu.