Iran Tingkatkan Status Siaga, Pasang Mural Ancaman terhadap Armada Militer AS di Timur Tengah

BANDA ACEH – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran secara resmi menyatakan status siaga tinggi menyusul pergerakan besar armada militer Amerika Serikat (AS) ke kawasan tersebut.
Pemerintah Iran menunjukkan sinyal kesiapan perang secara terbuka melalui pemasangan mural raksasa di Lapangan Enghelab, pusat Kota Teheran, pada Minggu (26/1/2026).
Mural itu menggambarkan sebuah kapal induk AS hancur, pesawat tempur terbakar di dek penerbangan, serta tubuh-tubuh korban bergelimpangan.
Aliran darah yang digambarkan di mural tampak mengalir ke laut, membentuk pola menyerupai garis-garis bendera AS.
Di sudut mural, tertulis slogan bernada ancaman: “If you sow the wind, you will reap the whirlwind” atau “Jika kau menabur angin, kau akan menuai badai,” sebagai pesan bahwa tindakan agresif terhadap Iran akan berbalik menjadi konsekuensi serius bagi pihak yang menyerang.
Otoritas Iran menegaskan bahwa mural ini bukan sekadar karya visual, tetapi juga pesan Politik langsung kepada Amerika Serikat.
Pemasangan mural ini bersamaan dengan pergerakan kelompok kapal induk AS, termasuk USS Abraham Lincoln, beserta kapal perang pengiringnya ke kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga mengumumkan keberadaan jet tempur F-15E Strike Eagle yang kini berada di wilayah tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, “Kita memiliki armada besar yang menuju ke arah sana dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya.”
Namun pernyataan ini justru memperkuat spekulasi bahwa opsi militer tetap terbuka.
Pihak Iran memandang pergerakan militer AS sebagai ancaman terhadap kedaulatan nasional, terutama di tengah kritik internasional atas penindasan protes domestik yang telah menimbulkan ribuan korban tewas dan puluhan ribu penangkapan.
Dengan mural peringatan ini, Tehran berupaya memproyeksikan kekuatan dan tekad bahwa Iran siap menanggapi setiap tindakan militer dengan konsekuensi yang sepadan.
Para pengamat internasional menilai langkah ini menunjukkan eskalasi simbolik yang jarang terjadi, di mana pesan politik dan peringatan militer disampaikan melalui media visual publik yang dramatis.
Situasi ini memperlihatkan bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kini telah melampaui pernyataan politik biasa, memasuki ranah simbol kekuatan yang dirancang untuk mempengaruhi persepsi publik dan strategi geopolitik global.
Iran Siap Perang Habis-habisan
Iran merespons keras pengerahan armada militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah.
Seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa negaranya akan menganggap setiap bentuk serangan sebagai perang habis-habisan.
Pejabat tersebut menyatakan, pihaknya berharap pengerahan militer Amerika Serikat tidak dimaksudkan untuk memicu konfrontasi langsung.
Namun demikian, Iran telah menyiapkan militernya untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
“Pengerahan militer ini, kami harap tidak dimaksudkan untuk konfrontasi nyata. Namun militer kami siap untuk skenario terburuk. Inilah sebabnya mengapa semuanya berada dalam keadaan siaga tinggi di Iran,” ujar pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, dikutip dari The Independent, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, Iran tidak akan membedakan jenis serangan yang dilancarkan terhadap wilayahnya.
Menurutnya, baik serangan terbatas maupun berskala besar akan diperlakukan sebagai bentuk agresi total.
“Kali ini kami akan menganggap setiap serangan—baik terbatas, tak terbatas, terarah, kinetik, atau apa pun sebutannya—sebagai perang habis-habisan terhadap kami. Kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikan ini,” tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, menyusul penguatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Washington terkait peringatan yang disampaikan Teheran.
Rombongan armada AS tiba dalam beberapa hari
Diketahui, dalam beberapa hari mendatang, rombongan kapal induk AS dan aset militer lainnya akan tiba di Timur Tengah.
“Jika AS melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Iran, kami akan merespons,” ujar pejabat Iran itu.
Namun, ia menolak untuk menjelaskan secara spesifik seperti apa respons Iran tersebut.
“Sebuah negara yang terus-menerus berada di bawah ancaman militer dari AS tidak punya pilihan lain selain memastikan bahwa semua yang dimilikinya dapat digunakan untuk melawan. Jika memungkinkan, memulihkan keseimbangan terhadap siapa pun yang berani menyerang Iran,” jelas dia.
Presiden Donald Trump pada Kamis (22/1/2026), mengatakan, AS memiliki “armada” yang menuju ke Iran tetapi berharap dia tidak perlu menggunakannya.
Ia juga kembali memperingatkan Teheran agar tidak membunuh para demonstran atau memulai kembali program nuklirnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Pentagon telah memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak pendamping ke wilayah tersebut.
Kapal-kapal tersebut meninggalkan Laut China Selatan dan mulai menuju ke Timur Tengah awal pekan ini, menurut seorang pejabat angkatan laut.
Pejabat itu menambahkan, armada tersebut telah berada di Samudra Hindia