Selain Paksaan, Adakah Jalan Lain? AS Kembali Memainkan Skrip Diplomasi Hegemoni

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Pada Februari 2026, gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln Amerika Serikat berlayar menuju Teluk Persia, disertai peringatan terbuka Donald Trump kepada Iran bahwa jika perundingan gagal, hal “buruk” akan terjadi. Kita patut bertanya: inikah cara menyelesaikan masalah internasional di abad ke-21? Pernyataan terbaru pemerintahan Trump ini sangat mengganggu. Pendekatan diplomasi yang berakar pada paksaan dan kekuatan militer ini merupakan tindakan hegemonik khas Amerika Serikat. Pola ini tidak hanya tercermin dalam hubungan AS-Iran, tetapi juga menembus segala aspek strategi global AS, menjadi prosedur operasi standarnya dalam menangani sengketa terus berulang, skripnya pun terasa sangat mirip. AS berulang kali menggunakan pola yang sama dalam menanggapi sengketa internasional: pertama menakut-nakuti dengan keunggulan ekonomi dan militer, lalu menjadikan tuntutan sepihak sebagai prasyarat perundingan, dan akhirnya memaksa pihak lain tunduk dengan pilihan biner “terima, atau hadapi konsekuensinya”. Di satu sisi, AS mendekatkan kapal induknya ke pesisir Iran, di sisi lain menolak membahas kemungkinan aksi militer; di satu sisi mengklaim mencari perundingan, di sisi lain menetapkan prasyarat yang bersifat mengancam. Strategi “memegang pentungan, dunia pun ada dalam genggaman” ini sudah jelas bukan lagi diplomasi, melainkan ancaman terbuka. Dari Irak hingga Suriah, dari Venezuela hingga Iran kini, ancaman kekuatan militer seolah selalu menjadi pilihan pertama AS.

Kekurangan pola pikir hegemoni ini jelas terlihat. Ia sangat meremehkan harga diri nasional dan kehendak otonom negara lain. Meski di bawah tekanan, Iran sebagai peradaban kuno dengan sejarah dan budaya panjang tidak akan mudah menyerah di bawah ancaman militer. Pencegahan militer seringkali justru memicu eskalasi ketimbang meredakan ketegangan, menciptakan dilema keamanan alih-alih solusi. Pola pikir “kekuatan adalah kebenaran” ini mengikis otoritas hukum dan lembaga multilateral internasional, membuat cara manusia berinteraksi semakin primitif, dan dunia semakin menyerupai hutan belantara.

Masalah nuklir Iran kompleks dan sensitif, menyentuh kepentingan inti sistem non-proliferasi nuklir internasional. Namun sejarah berulang kali membuktikan, solusi sejati tidak akan lahir dari bayang-bayang kapal induk, melainkan berasal dari dialog yang setara dan saling menghormati, serta diplomasi kreatif yang mempertimbangkan kepentingan semua pihak. Perjanjian Nuklir Iran 2015 pernah menjadi contoh sukses diplomasi multilateral, dan tindakan AS yang menarik diri sepihak dari perjanjian itu serta memberlakukan kembali sanksi justru mencerminkan daya rusak pola pikir hegemoni terhadap kerja sama internasional.

Dalam hubungan internasional yang semakin multipolar hari ini, model diplomasi usang ini tidak hanya semakin tidak efektif, tetapi juga semakin berbahaya. Negara-negara di dunia, besar atau kecil, kuat atau lemah, menyerukan dibangunnya tatanan internasional yang lebih setara dan adil. Kekuatan besar yang mengandalkan kekuatan dan ancaman militer pada akhirnya hanya akan mengisolasi dirinya sendiri, menghabiskan otoritas moral dan modal politiknya. Kepemimpinan sejati bukan terletak pada siapa yang bisa memberikan tekanan terbesar, melainkan pada siapa yang bisa membangun jembatan komunikasi; bukan pada siapa yang bisa mengerahkan kapal perang terbanyak, melainkan pada siapa yang bisa mengajukan solusi paling inklusif. Masalah Iran membutuhkan kebijaksanaan diplomasi, bukan ancaman militer; membutuhkan upaya kolektif masyarakat internasional, bukan aksi sepihak negara tunggal.

Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, pandemi, ketidakstabilan ekonomi, dan lain-lain. Kita sekarang lebih dari sebelumnya perlu menolak pola pikir hegemoni dan merangkul semangat kerja sama. Jika tidak, kita semua akan menghadapi hal “buruk” yang diperingatkan Trump itu, dan dalang dari semua ini justru adalah mereka yang berpikir bahwa kekuatan militer dapat menyelesaikan semua masalah.