Bagaimana Burung Purba Memenuhi Tuntutan Energi untuk Terbang?

BANDA ACEH – Terbang merupakan bentuk pergerakan yang paling menguras energi dibanding berjalan, berenang, atau berlari. Kebutuhan kalori yang tinggi ini mendorong burung mengembangkan adaptasi khusus agar lebih efisien dalam mencari dan mencerna makanan.
Studi terbaru terhadap Archaeopteryx mengungkap bahwa ciri-ciri unik pada mulut burung, seperti tulang tambahan pada lidah, ujung paruh yang sensitif, serta struktur berdaging menyerupai gigi di langit-langit mulut, telah muncul sejak Periode Jura. Fitur-fitur tersebut, yang masih ditemukan pada burung modern, menunjukkan bahwa kemampuan mengolah makanan secara efisien menjadi kunci utama kehidupan di udara.
Garis tipis antara dinosaurus dan burung
Semua burung adalah dinosaurus, tetapi tidak semua dinosaurus adalah burung. Burung yang hidup saat ini merupakan satu-satunya kelompok dinosaurus yang selamat dari kepunahan massal 66 juta tahun lalu. Dilansir laman EurekAlert, Archaeopteryx yang hidup sekitar 150 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Jerman, adalah dinosaurus paling awal yang juga dikategorikan sebagai burung.
Advertisements
Namun, Archaeopteryx hidup berdampingan dengan dinosaurus kecil berbulu lain yang berkerabat dekat dengan burung, tetapi bukan burung dan belum mampu terbang. Membedakan kedua kelompok ini sangat sulit bagi ahli paleontologi.
“Untuk waktu yang lama, sangat sedikit hal yang benar-benar bisa kami katakan sebagai ciri yang menandai transisi dari dinosaurus darat ke dinosaurus burung yang mampu terbang,” ujar Jingmai O’Connor, kurator asosiasi reptil fosil di Field Museum Chicago.
Ia menambahkan, “Ciri-ciri kecil yang aneh di dalam mulut Archaeopteryx, yang juga ditemukan pada burung modern, memberi kami kriteria baru yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu fosil dinosaurus termasuk burung atau bukan.”
Kajian Jingmai O’Connor dan timnya itu berjudul “Avian features of Archaeopteryx feeding apparatus reflect elevated demands of flight” yang terbit di jurnal The Innovation.
Temuan fosil Archaeopteryx dipamerkan di Field Museum sejak 2024 dan pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 2025. Ketika fosil itu tiba di Field Museum pada 2022, sebagian besar tubuhnya masih tertutup batuan. Tim preparator fosil yang dipimpin oleh Akiko Shinya menghabiskan lebih dari satu tahun dengan hati-hati mengikis lapisan batu kapur untuk menyingkap spesimen di dalamnya.
“Satu-satunya alasan struktur di dalam mulut Archaeopteryx ini bisa ditemukan adalah karena para preparator kami bekerja dengan sangat teliti pada fosil ini,” kata O’Connor.
Beberapa jaringan lunak seperti kulit dan bulu dapat memancarkan cahaya ketika terkena sinar ultraviolet. O’Connor menjelaskan bahwa tim menggunakan sinar ultraviolet pada tahap-tahap tertentu selama proses preparasi fosil untuk memastikan tidak ada jaringan lunak yang rusak. Ia juga menekankan bahwa beberapa jaringan lunak dan fragmen tulang berukuran sangat kecil dan sangat mudah terlewat jika tidak diamati secara aktif dan cermat.
Dalam proses tersebut, Shinya dan rekannya Connie Van Beek menemukan fitur mikroskopis yang tidak biasa pada tengkorak fosil. O’Connor mengenang bahwa mereka sempat memanggilnya untuk melihat sesuatu yang dianggap aneh. Ia melihat titik-titik kecil yang bercahaya, namun pada saat itu ia belum memahami apa yang sebenarnya sedang diamati.
Untuk memahaminya, O’Connor merujuk pada buku anatomi burung dan menemukan ilustrasi mengenai papila oral. Ia kemudian menjelaskan bahwa burung memiliki deretan tonjolan kecil berdaging di langit-langit mulut yang disebut papila oral. Struktur ini membantu mengarahkan makanan ke tenggorokan dan mencegahnya masuk ke saluran pernapasan.
Setelah membandingkan posisi dan bentuk jaringan yang terawetkan pada mulut Archaeopteryx dengan papila oral pada burung modern, tim menyimpulkan bahwa mereka telah menemukan papila oral pertama dalam catatan fosil sekaligus bukti keberadaannya pada Archaeopteryx.
Peneliti juga mengidentifikasi fitur lain dalam tengkorak yang sebelumnya belum pernah teramati, termasuk serpihan tulang kecil yang ternyata merupakan tulang lidah. O’Connor menjelaskan bahwa tulang tersebut merupakan salah satu tulang terkecil dalam tubuh dan menunjukkan bahwa Archaeopteryx memiliki lidah yang sangat fleksibel, sebagaimana banyak burung modern saat ini.
Melalui pemindaian CT, para peneliti juga menemukan bahwa ujung paruh Archaeopteryx mengandung terowongan kecil yang merupakan jejak saraf. Pada burung modern, struktur serupa membentuk organ sensitif di ujung paruh yang membantu mereka mencari makanan.
Secara keseluruhan, keberadaan papila oral, tulang lidah, dan organ sensitif di ujung paruh menunjukkan bahwa burung pertama telah mengembangkan berbagai strategi untuk menemukan dan menelan makanan secara lebih efisien. Adaptasi tersebut berkembang seiring dengan kemampuan terbang yang membutuhkan energi sangat besar.
O’Connor menyatakan bahwa penemuan ini memperlihatkan perubahan yang sangat jelas dalam cara dinosaurus makan. Tepatnya, saat mereka mulai terbang dan harus memenuhi tuntutan energi yang sangat tinggi.
Ia menambahkan bahwa burung memiliki sistem pencernaan yang sangat efisien, dengan seluruh strukturnya dimodifikasi untuk memaksimalkan efisiensi makan dan jumlah kalori yang dapat diekstrak dari makanan, serta bahwa proses tersebut dimulai dari mulut. [source:nationalgeographic]